Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 16


__ADS_3

“Benar-benar hebat ya manusia, rumahnya tinggi-tinggi”


“Itu bukan rumah, Mon. Itu kantor-kantor di mana manusia bekerja. Oh ya. Sebelum mencari alamatnya kita main-main aja dulu”


“Main kemana, Cil. Kayak pernah ke dunia manusia aja loe”


“Pernah dong, Shil. Gue sebulan sekali ke dunia manusia sama Kakek gue. Biasa lah, gue nganter Kakek gue nyervis cangkulnya.”


“Sekarang kita lagi dimana?”


“Sekarang kita ini lagi di jakarta”


“Jakarta apa, Cil”


“Nama kota di dunia manusia”


“Oh ya. Setahu gue bukannya kalau ke dunia manusia itu di larang, Cil?”


“Sebenarnya di larang, itu juga perginya harus menggunakan portal yang ada di gedung pemerintahan. Kakek gue kan bilang, dia gak sengaja nemuin sumur penghubung antara manusia itu. Yaudah sekarang kita ke mall aja”


“Mall, apa’an Chil?”


“Nanti juga loe tahu, Shil”


Dalam panasnya cuaca di jakarta, mereka terus berjalan sambil mencari alamat yang tertulis di secarik kertas pemberian Kakek Cangkul. Sesampainya mereka di Mall. Shishil sangat terkagum-kagum.


“Ini yang namanya Mall, belanja sesuka hati!”


“Belanja, uang dari mana Cil”


“Iya, Cil. Loe ngawur aja”

__ADS_1


“Tenang aja Mon, gue bawa duit kok, meskipun duit kita beda dengan duit manusia, otomatis duit kita juga berubah dengan sendirinya” Jawab Pocil. Dia segera mengambil uang dari sakunya. Sekejap uang setan berubah menjadi uang manusia.


“Kok bisa, Cil. Coba gue bawa duit juga!” Papar Ramon


“Loe mau beli apa Shil?”


“Gue mau beli baju, Cil. Gue ingin ngerasain baju manusia itu seperti apa?”


“Yaudah loe ikut gue, kita ke ruko fushion. Loe mau apa Mon?”


“Gue laper Cil. Gue mau tahu makanan manusia kayak gimana”


“Ah dasar loe perut karung, yaudah nih. Loe cari makan aja sendiri” Pocil menyodorkan duit. Ramon pergi mencari makan, sedangkan Pocil dan Shishil pergi menghampiri ruko fashion.


Saat itu Ramon sangat bingung. Dia terus mencari tempat makan yang cocok untuknya.


“Cari makan dimana ya?” Ucap hati Ramon. Dia menghampiri salah satu restoran dan langsung memesan makanan yang dia sukai.


“Maaf mas, disini gak ada nasi goreng, disini makanan italia semua”


“Italia, apa mba?”


“Makanan khas italia mas, seperti Pizza”


“Pizza, kayaknya boleh Mba, saya mesan satu ya?” Ramon sangat heran. Karena dia baru pertama kali mendengar Pizza.


“Minumnya apa Mas?”


“Jus melati ada Mba?”


“Jus melati. Maaf Mas, melati gak bisa di jus”

__ADS_1


“Oh ya, gue lupa ini kan dunia manusia” Ucap hati Ramon.


“Gimana Mas, mau minum apa?”


“Terserah Mba aja, yang penting manis kayak Mba, hehe.” Tak lama menunggu pizza pesanannya datang. Begitu mencobanya. Ramon langsung jatuh cinta dengan rasa pizza itu. sudah habis 10 pizza yang dimakannya. Ramon begitu menikmati.


“Benar-benar nikmat, jauh sama rasa nasi goreng” Ucap Ramon puas. Saat itu pula Shishil dan Pocil datang menghampirinya.


“Hey Mon, habis makan apa loe. Kayaknya kenyang banget?”


“Gue habis makan Pizza, Cil. Mantap”


“Apa’an Mon Pizza?”


“Makanan italia, tapi gue juga gak tahu apa itu italia”


“Yaudah, kalo loe sudah kenyang sekarang kita cari alamatnya Pak Slamet”


Mereka segera mencari alamat Pak Slamet. Namun baru saja mereka keluar dari Mall. Seseorang yang tidak mereka kenal datang menghampiri dengan nafas yang terengah-engah.


“Mas maaf, saya nitip ransel ini” Ucap pria dengan wajah panik. Pria itu langsung berlari meninggalkan mereka bertiga.


“Kenapa sama pria itu?” Tanya Shishil heran.


“Gue juga gak tahu, terus ransel ini kita apa ‘kan?”


“Yaudah, bawa aja Mon”


“Tapi, ranselnya berat juga nih!”


“Coba deh lihat isi ranselnya. Jangan-jangan isinya bom.”

__ADS_1


“Ah jangan nakut-nakutin loe, Shil” Ramon membuka ransel. Setelah mereka lihat isi ransel itu. Ternyata hanya ada bungkusan besar yang berlapis kertas. Mereka sangat heran.


__ADS_2