
Sesampainya di dunia setan. Kedua Bodyguard Pak Jarwo kehilangan Shishil dan kedua temannya.
“Kemana tuh perginya, cepat banget!”
“Kita harus cari mereka, Cong. Kalau gak, bisa bahaya. Apa lagi kalau Pak Jarwo tahu. Bisa-bisa kita di pecat” Kedua Bodyguard itu mencari keberadaan Shishil dan kedua rekannya.
Malam itu Shishil, Pocil dan Ramon langsung pergi menemui Pak Rt dengan tergesa-gesa. Sesampainya di kediaman Pak Rt.
“Permisi Pak Rt!” Pak Rt membukakan pintu. Melihat keadaan mereka bertiga, Pak Rt merasa sangat heran.
“Kalian kenapa? Kayak di kejar-kejar maling!”
“Kita-kita bukan di kejar maling. Tapi di kejar biangnya maling, Pak Rt!”
“Boleh kami masuk Pak Rt?” Pinta Ramon. Mereka bertiga di persilahkan masuk.
“Kalian kenapa sih?”
“Begini Pak, Rt. Tapi, kami boleh minta air minum, haus banget”
“Oh, Pak Rt lupa, yaudah tunggu sebentar. Bu, tolong dong ambil kan air” Tak lama menunggu Bu Kunti istri Pak Rt datang membawa air minum untuk mereka.
“Kalian kenapa sih, mukanya pada pucat gitu?” Tanya Bu Rt.
“Begini Pak Rt. Saya sudah tahu kenapa anak muda di komplek kita ini banyak yang mabuk. Ternyata, minuman beralkohol dari dunia manusia penyebabnya, Pak Rt” Jelas Shishil. Pak Rt bingung.
“Maksud kalian, Pak Rt gak ngerti?”
__ADS_1
“Beberapa minggu ini kami tinggal tinggal di dunia manusia. Enggak sengaja kami tahu siapa dalang yang mengirim minuman memabukkan itu, Pak Rt”
“Kalian dari dunia manusia? Bagai mana bisa? Seharusnya kalau ke dunia manusia itu perlu ijin yang sangat ketat. Pintu masuknya aja di jaga puluhan densus 88”
“Kita-kita enggak sengaja di ajak sama Kakeknya Pocil masuk ke dalam sumur tua. Ternyata, sumur itu dua dimensi. Penghubung antara dunia manusia dengan dunia kita, Pak Rt”
“Kamu Pocil dari komplek sebelah ya”
“Iya, Pak Rt. Di komplek saya juga banyak yang pada mabuk gak jelas, penyebabnya juga pasti sama, minuman itu”
“Kalau boleh tahu, sumur tua itu ada di mana?”
“Gak jauh dari belakang komplek kita, Pak Rt” Jawab Shishil.
“Lalu siapa dalang yang mengirim minuman memabukkan itu?”
“Pak Slamet. Yang benar? Kamu jangan asal menuduh”
“Pak Rt enggak tahu kan! Kalau ternyata selama ini Pak Slamet ada di dunia manusia”
“Pantes, setiap Pak Rt mau minta dana kerja bakti, Pak Slamet rumahnya slalu sepi. Saya kira Pak Slamet pergi kemana gitu. Tapi, apa kalian punya bukti?”
“Tentu Pak Rt. Kebetulan saya merekam semuanya ” Shishil memberikan rekamannya itu. Melihat rekaman itu Pak Rt sangat terkejut.
“Saya gak habis fikir, mungkin ini alasannya Pak Slamet pensiun dari kampus setan. Dia menjalankan bisnis haram. Oh ya. Rekaman ini Pak Rt yang megang, biar Pak Rt laporkan kepada pihak yang berwajib”
Shishil, Pocil dan Ramon meninggalkan kediaman Pak Rt. Malam itu Shishil bingung mau kemana.
__ADS_1
“Loe mau kemana, Shil. Kalo loe pulang, pasti di marahin sama Ayah loe”
“Gue juga gak tahu, Cil”
“Nginap di rumah gue aja, Shil”
“Ih, ga deh. Makasih. Gue mau kerumah si Cindy aja.” Akhirnya di persimpangan jalan mereka pun berpencar. Malam itu Shishil sangat ragu dan bimbang. Dia ingin pulang, tapi takut di marahi oleh Ayahnya. Baru hampir saja dia sampai di kediaman temannya, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. Shishil terjatuh. Setelah dia melihat siapa yang menabraknya, dia merasa heran. Shishil tak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Raka.
“Raka?”
“Setaaaaan...!!!” Raka pingsan seketika.
Di kediaman Cindy, Shishil menceritakan bahwa yang sedang pingsan di kediamannya itu seorang manusia.
Tak lama menunggu, akhirnya Raka siuman.
“Gue dimana?”
“Loe gak apa-apa, Ka?” Tanya Shishil cemas.
“Setan!” Raka masih merasa takut.
“Loe harus tenang, Ka. Ini gue Shishil”
“Mungkin dia masih syok, Shil.” Ujar Cindy.
“Oke, Oke. Gue tarik nafas dulu.” Raka menghelakan nafas. “ Sebenarnya sekarang gue ada di mana? Kenapa setiap yang gue temuin di jalan setan semua?”
__ADS_1