Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 25


__ADS_3

Shsihil pergi meninggalkan Pocil dan Ramon. Sesampainya di luar rumah, sudah menanti mobil mewah warna putih. Di dalam mobil itu terlihat seseorang berkacamata sedang duduk menunggu kehadirannya.


“Hai, Shil. Apa kabar?”


“Baik. Ka”


“Yaudah masuk. Duduk di samping gue aja” Pinta Raka. Shsihil segera masuk ke dalam mobil dan perjalan pun di mulai. Di dalam perjalanan Shishil hanya terdiam malu. Ingin bertanya mulut serasa terkunci.


“Kok’ diam aja, Shil?”


“Gue gugup. Gue belum pernah jalan sama cowok sedekat ini”


“Ah, yang benar, Shil. Emang loe gak punya pacar”


“Gue gak pernah punya pacar, Ka”


“Masa cewek secantik kayak loe, gak pernah punya pacar?”


“Oh ya. Kalau loe Ka. Loe juga sudah punya pacar?”


“Pacar ya. Gue sudah gak ada hasrat buat cari pacar lagi, Shil”


“Emang kenapa?”


“Kita sudah sampai, Shil”


“Di mana Ka, kita?”

__ADS_1


“Ini namanya Danau ria-rio. Indah kan pemandangannya?”


“Indah banget, Ka!”


“Dulu ini bukan danau, Shil. Tapi perumahan kumuh. Namun, sekarang jadi begitu indah. Perubahan itu emang indah.”


Mereka segera turun dari dalam mobil dan menikmati indahnya taman bunga di danau ria-rio. Shishil dan Raka begitu serasi, mereka saling canda dan tawa.


“Kita cari minum dulu yu, Shil. Gue haus nih”


“Di bawah sana aja, Ka.” Raka dan Shishil pergi menghampiri saung kecil dan memesan dua buah jus jeruk.


“Oh, ya Ka. ngomong-ngomong loe belum jawab pertanyaan gue?” Tanya Shishil.


“Pertanyaan yang mana, Shil?”


“Oh, itu. iya Shil. Gue emang sudah gak ada hasrat lagi”


“Alasannya, Ka?”


“Sebenarnya gue sudah tunangan, Shil. Tapi tunangan gue pergi ninggalin gue gitu aja”


“Oh gitu” Shishil mulai merasa tak nyaman.


“Jujur, Shil. Semenjak gue ngelihat loe. Perasaan yang dulu gue buang jauh-jauh entah kenapa muncul kembali”


“Perasaan?”

__ADS_1


“Iya. Sebuah perasaan. Perasaan dimana hati hampa kembali berbunga-bunga”


“Cinta?”


“Iya, Shil. Cinta. Gue jatuh cinta sama loe” Jelas Raka. Mendengar perkataan Raka. Shishil sedikit terkejut dan tak percaya kalau Raka langsung menyatakan cinta tanpa pendekatan terlebih dahulu. Semua hening sejenak.


“Ko diam, Shil. Oh ya, kalau loe emang gak cinta sama gue. Gak apa-apa sih. Cinta itu butuh waktu”


“Sebenarnya gue juga punya perasaan sama, Ka. Meskipun kita baru berjumpa, gue ngerasa kita sudah kenal lama, gue gak tahu perasaan apa itu”


“Jadi, loe terima cinta gue?”


“Iya. Ka. Gue terima. Gue juga cinta sama loe” Jawab Shishil wajah memerah. Tanpa memikirkan kedepannya. Shishil menerima cinta yang di ungkapkan Raka. Shishil begitu bahagia.


Tak terasa waktu cepat berlalu. Mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di depan rumah Pak Slamet. Saat itu hari sudah masuk pukul 20.00 wib.


”Thanks ya, Ka. Gue seneng bisa jalan sama loe”


“Iya, Shil. Nanti kita jalan, lagi ya.” Pinta Raka. Raka pergi meninggalkannya. Shishil segera masuk kedalam rumah. Namun, saat itu juga Shishil berpapasan dengan Ramon.


“Malam-malam mau kemana, Mon?”


“Oh, ada acara Shil, sama Pak Darso”


“Nih, nasi goreng pesanan loe”


“Loe kasih si Pocil aja, Shil. Malam ini gue mau di teraktir nasi goreng lagi sama Pak Darso” Ujar Ramon.

__ADS_1


__ADS_2