
“Yaudah kalian minum aja dulu. Kayaknya kalian sudah lelah banget. Kalian boleh tinggal disini”
“Makasih banyak Pak Slamet. Seharian muterin jakarta, Rasanya kaki mau copot” Jawab Ramon ngeluh.
“Oh, ya. Pak Slamet, saat pertama kami ke dunia manusia, wujud kami berubah menjadi manusia. Tapi kenapa wujud kami menjadi seperti semula?” Tanya Shishil heran.
“Kalian baru pertama kali ke dunia manusia ya?”
“Saya sudah pernah Pak Slamet. Itu juga sewaktu nganter Kakek saya nyervis cangkulnya” Jawab Pocil.
“Begini, dunia manusia dan dunia kita itu berbeda. Namun, satu sama lain semua serupa yang membedakan hanya isinya aja. Jadi selama kalian berada di dunia manusia, setiap jam dua belas malam kalian harus mandi kembang tujuh rupa. Kalau enggak. Kalian akan berubah menjadi wujud kalian yang asli. Ya seperti saat ini”
“Oh, Pantes. Kenapa kita-kita berubah jadi wujud asli kita”
“Pokoknya selama kalian tinggal disini. Kalian wajib mandi kembang tujuh rupa, biar di malam harinya kalian gak berubah jadi wujud asli kalian. Tapi kalian tenang aja, besok pagi kalian akan berubah jadi wujud manusia kembali”
“Iya Pak Slamet, kita-kita ngerti”
“Tapi, bagai mana kalian bisa pergi ke dunia manusia?”
__ADS_1
“Kami lewat jalan alternatif, Pak Slamet. Lewat sumur tua yang ada di pemakaman dunia manusia”
“Oh, gitu. Yaudah, Pak Darso antar mereka bertiga ke kamar kosong yang selama ini gak kepakai”
“Siap Pak Slamet!”
Pak Darso segera mengantar Shishil, Pocil dan Ramon ke kamar yang telah di sediakan Pak Slamet.
“Ini kamar kamu Shishil. Kalau kalian berdua, tidurnya di kamar sebelah” Sesampainya di kamar yang di tunjuk Pak Darso. Pocil dan Ramon sedikit kecewa.
“Kok kita dapat kamar yang kecil ya. Satu ranjang lagi. Sedangkan si Shishil dapet kamar yang luas” Keluh Ramon.
“Sudah lah Mon, gak usah ngeluh. Loe mau di usir!”
Pagi telah tiba. Shishil menyadari kalau dia sudah menjadi wujud manusia kembali. Dia menikmati udara segar melalui kamarnya. Namun, di dalam benak hatinya masih terbesit sebuah perasaan, tentang cowok misterius yang selama ini dia lihat di komplek perumahannya.
“Sekarang gue sudah ada di dunia manusia. Kira-kira gue bisa ketemu sama cowok misterius itu gak, ya?” Tanya hati Shishil. Suara ketukan pintu terdengar.
“Siapa?”
__ADS_1
“Ini gue, Pocil. Loe mau sarapan gak. Gue sudah bikin nasi goreng tuh?”
“Duluan aja Cil. Gue mau beres-beres kamar dulu” Jawab Shishil. Tiga puluh menit berlalu. Shishil segera menuju ruang makan.
“Mana sarapan buat gue, Cil?”
“Tuh di ruang makan!”
“Yaudah gue mau ke ruang makan dulu. Oh ya, loe mau kemana, rapih banget?”
“Gue mau lari pagi dulu sama Pak Darso. Mumpung gue bisa lari. Kalau di dunia setan, mana bisa gue lari pagi, yang ada lompat-lompat gak jelas, hehe”
Sesampainya di ruang makan, ternyata Ramon sudah menghabiskan nasi goreng yang di sediakan untuknya.
“Kok piring doang Mon? sarapan buat gue mana?”
“Gue kira loe gak mau makan. Jadi gue habisin”
“Benar-benar rakus loe Mon!”
__ADS_1
“Habis nasi goreng kan kesukaan gue, Shil” Seketika Ramon langsung tertidur pulas, karena kekenyangan.
“Tapi gak gitu juga, Mon? Dia malah tidur, dasar gembul”