Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 27


__ADS_3

“Loe emang anak buah gue paling payah, gue suruh cari ranselnya, malah Pocong yang loe bawa. Kalau loe berdua belum nemuin ransel itu. terpaksa gue harus buang loe kelaut”


“Tapi, Bos. Kita janji, kita pasti bisa nemuin ransel itu ”


“Gue tunggu seminggu, cepat keluar dari mobil gue”


Malam itu Ramon lompat-lompat kebingungan. Dia bingung harus pulang lewat mana. Di saat dia sedang menyusuri jalan. Sebuah mobil menghampiri dia.


“Naik?”


“Pak Darso?”


“Loe habis kemana, katanya pipis”


“Ceritanya panjang Pak Darso.”


“Yaudah naik. Kita pulang. Oh ya, lain kali kalau kamu belum mandi kembang bilang ya”


“Saya mau bilang. Tapi, Pak Darso serius bener sama cabe-cabean itu” Jelas Ramon. Mereka pun pulang.


Keesokan harinya. Ramon segera menghampiri Shishil.


“Shil, ransel yang waktu itu mana?”


“Ada di lemari tuh, emang kenapa?” Ramon bergegas menghampiri lemari dan langsung mengambil ransel itu.


“Jadi yang di cari sama orang-orang itu daun kering ini”


“Kenapa, Mon?”


“Gak kenapa-napa kok. Ini ransel gue yang megang dulu ya, Shil” Ramon pergi meninggalkan kamar Shishil.

__ADS_1


“Kenapa tuh, anak??” Tanya Shishil.


Keesokan harinya. Shishil kembali lagi janjian dengan Raka di sebuah restaurant. Dia sangat senang.


“Jujur, Ka. Semenjak gue kenal sama loe. Entah apa yang gue rasa. Hati gue bimbang”


“Bimbang kenapa, Shil”


“Kita baru kenal 2 minggu, tapi perasaan gue gak secepat itu. Gue ngerasa kenal sama loe lama banget”


“Sebenarnya, loe itu mirip dengan seseorang, Shil”


“Mirip, maksudnya?” Tanya Shishil heran. Namun, dari sisi jalan ada sebuah mobil hitam yang sedang memantau kedekatan mereka berdua. Seorang wanita yang selama ini memendam perasaan terhadap Raka. Wanita itu bernama Siska.


“Bukannya yang lagi sama si Raka itu Rahel, Sis?”


“Gue juga gak, tahu. Des”


“Gak akan ada yang bisa ngerebut belahan jiwa gue, meskipun itu orang yang sama. Gue bakal singkirin”


“Pikiran loe emang jahat, Sis”


Siska keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Raka yang sedang duduk santai berbincang-bincang dengan Shishil. Sesampainya di sana.


“Hai, Raka?” Tanya Siska. Dia langsung mencium pipi kanan Raka. Melihat kejadian itu Shishil merasa kecewa. Dia langsung pergi.


“Shil, tunggu?”


“Sudahlah Ka, kenapa sih. Kan’ masih ada gue” Ujar Siska sambil menahannya.


“Dari dulu loe itu pengganggu hubungan gue aja. Gue sudah bilang gue gak suka sama loe”

__ADS_1


“Emangnya apa sih yang salah sama gue”


“Loe itu egois. Loe gak punya hati, Sis” Tegas Raka. Raka langsung pergi meninggalkannya.


Malam itu Shishil sangat sedih. Air matanya seakan-akan ingin membasahi kedua pipinya.


“Loe kanapa, Shil”


“Gak, kenapa-napa kok, Cil” Shishil langsung pergi ke kamarnya. Dia ingin menyendiri. Namun, saat itu juga Hanpone miliknya berdering. Dia lihat, ternyata panggilan dari Raka. Shishil ingin sekali menolaknya. Tapi, dia tak bisa membohongi hatinya.


“Iya, Ka?”


“Sorry Shil atas kejadian tadi siang. Loe gak marah kan?”


“Gue gak marah kok’” Shishil berbohong.


“Yaudah, kalau gitu besok loe gue jemput, ya? ”


“Mau kemana, Ka”


“Yaudah nanti juga loe tahu!”


Keesokan harinya. Raka mengajak Shishil kesesuatu tempat yang tidak lain adalah rumahnya sendiri.


“Ini rumah gue, Shil. Yaudah masuk aja” Shishil segera masuk. Sampainya di dalam rumah. Adik satu-satunya Raka menghampirinya.


“Kak, Rahel” Adiknya Raka langsung memeluknya.


“Dia bukan Kak Rahel. Dia Kak Shishil. Oh, ya. Papah sama Mamah mana?”


“Habis mirip Kak. Mamah sama Papah katanya lagi jemput Om Tomas di bandara” Adiknya Raka langsung pergi.

__ADS_1


__ADS_2