
Ketika cowok misterius itu hendak pergi meninggalkan meja makan, dia tak sengaja menabrak waiters yang sedang membawa sebuah jus. Dan akhirnya jus itu pun tumpah tepat di meja makan Shishil dan mengenai sedikit bajunya.
“Maaf ya, mba. Maaf.!”
“Ga apa-apa kok Mas.” Ujar Shishil membersihkan bajunya yang terkena tumpahan jus. Namun, ketika Shishil melihat cowok itu, hatinya bergetar kencang. Waktu terasa terhenti. Mereka saling bertatap muka. Meski pertama kali bertemu dengan cowok misterius itu, Shishil merasa begitu kenal dengannya.
“Hallo, Mba. Kok’ bengong?”
“Iya, Mas”
“Maaf ya Mba. Gara-gara saya baju nya jadi basah gini”
“Gak apa-apa kok, Mas”
“Oh ya, Mba waiters, semua pesanan Mba ini biar saya yang bayar” Ucap cowok misterius itu kepada waiters.
“Gak usah Mas. Makasih”
“Kamu gak usah khawatir, meskipun mahal saya akan bayar demi menebus kesalahan saya”
“Bukan itu, Mas. Saya cuma mesan mie rebus aja, kok” Cowok misterius itu duduk sejenak di hadapannya.
“Kenalin gue Raka?” Cowok misterius itu mengulurkan tangannya.
“Gue Shishil!” Mereka berjabat tangan. Shishil merasa tegang, jantungnya pun bergetar kencang.
“Sory ya Shil. sekali lagi gue minta maaf. Kalau boleh tahu loe tinggal dimana?”
__ADS_1
“Iya gak apa-apa kok. Rumah gue gak jauh dari sini”
“Oh ya, loe sendiri kesini?”
“Gue ke sini sama teman gue. Tapi teman gue lagi ke wc” Namun di saat percakapan mereka belum panjang. Tiba-tiba ada telepon masuk yang mengharuskan cowok misterius itu pergi.
“Sorry ya, Shil. gue tinggal dulu. Ini nomor gue. Nanti malam hubungin gue ya. Jangan sampai enggak” Shsishil hanya terdiam dan melamun tanpa banyak kata. Pocil datang, dia sangat heran melihat Shishil sedang melamun dan senyum-senyum sendiri.
“Loe kenapa, Shil?”
“Coba cubit gue, Cil. Gue lagi gak mimpi kan?”
“Loe kenapa sih, Shil”
“Gue ketemu sama cowok misterius yang selama ini gue idamkan, Chil. Gue juga di kasih nomornya. Gue seneng banget” Ucap Shishil senang. Dia merasa mimpinya selama ini akhirnya kenyataan.
“Yang dulu pernah gue lihat di komplek, Cil. Ternyata kalau dari dunia manusia langsung, dia lebih tampan!”
Shishil begitu senang, hatinya berbunga-bunga. Dia yakin kalau cinta dalam hatinya pasti akan dia temukan di dunia manusia.
Malam itu Shishil sangat malu untuk menelepon cowok misterius itu. tiga hari tiga malam Shishil selalu memikirkannya. Dia ingin meneleponnya, tapi setiap ingin menelepon, rasa percaya dirinya hilang dengan seketika.
“Gue telepon gak ya?” Ucap hati Shishil. Karena penasaran, Shishil memberanikan diri untuk meneleponnya.
“Mon, gue minjam handphone loe dong?”
“Gue gak bawa handphone, Shil. Coba minjam sama Pak Slamet, kali dia punya”
__ADS_1
“Loe gak punya, Cil?”
“Apa lagi gue, Shil. Yaudah pinjam aja sana sama Pak Slamet”
“Emangnya buat apa’an, Shil. Loe mau nelepon keluarga loe di dunia setan?”
“Bukan lah, Mon. Si Shishil lagi kasmaran”
“Bisa aja loe, Cil. Gue bukan kasmaran, tapi gue lagi ngerasain perasaan yang selama ini gue cari. Yaitu cinta...”
“Maksudnya apa’an sih?” Tanya Ramon bingung. Shishil segera pergi menemui Pak Slamet.
“Jadi gini, Mon. Waktu gue sama si Shishil ke Mall, gak sengaja dia ketemu sama cowok. Nah cowok itu yang selama ini dia idam-idamkan”
“Oh, gitu!”
“Sebenarnya loe tahu gak alasannya si Shishil di jodohin?”
“Kaga, emang alasannya apa?”
“Alasannya, gara-gara si Shishil suka sama manusia”
“Pantes. Sudah tiga hari si Shishil kelakuannya aneh banget. Tapi gak apa-apa tuh si Shishil suka sama manusia?”
“Biarlah, Mon. Gue gak mau ikut campur. Oh ya, loe bisa main bola di PlayStation gak?”
“Loe nantangin gue. Boleh, tapi kalau loe kalah traktir gue makan?”
__ADS_1