Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 20


__ADS_3

Hari demi hari tlah terlewati. Shishil, Pocil dan Ramon sudah hampir dua minggu berada di kediaman Pak Slamet.


Saat itu Shishil sedang duduk di luar rumah menikmati dinginnya angin malam. Pak Slamet menghampirinya.


“Kamu gak mau pulang, Shil. Nanti Orang Tua kamu khawatir?”


“Saya gak mau pulang Pak Slamet. Saya benci sama Orang Tua saya. Terutama sama Ayah saya”


“Emangnya Kenapa, Shil? Apa karena perjodohan itu?”


“Salah satunya itu Pak Slamet. Saya di jodohkan dengan seorang yang saya gak cinta”


“Kamu harus ngerti, terkadang cinta itu memang harus di paksakan”


“Tapi, Pak Slamet. Sekarang bukan jamannya Kuntinurbayan yang bisa di jodohkan seenaknya”


“Kalau gitu buktikan aja kalau kamu itu bisa mencari jodoh kamu sendiri, tanpa harus di jodohkan.”


“Maunya gitu sih Pak Slamet. Tapi gak ada satu setan lanang pun yang tertarik sama saya. Oh ya, kalau saya jatuh cinta sama manusia, gimana Pak Slamet?”


“Kalau masalah cinta Pak Slamet kurang tahu. Bapak belum pernah jatuh cinta. Sampai saat ini Bapak masih jomblo”


“Yang benar, Pak Slamet?”


“Bapak serius. Yaudah lebih baik kamu cepat-cepat cari jodoh. Kamu gak mau kan jadi Kunti perawan tua?”


“Ih Pak Slamet yang enggak-enggak aja!”

__ADS_1


“Yaudah, hari sudah malam. Kamu tidur aja duluan. Anak perempuan gak boleh tidur malam-malam” Ujar Pak Slamet. Shishil segera pergi menuju kamarnya. Namun, saat itu juga dia berpapasan dengan Ramon.


“Rapih amat loe, Mon?”


“Gue mau jalan malam dulu, Shil.”


“Jalan kemana?”


“Gue juga gak tahu, soalnya gue di ajakin sama Pak Darso. Katanya mau di traktir makan”


“Kerjaan loe makan mulu. Oh ya. Loe sudah mandi kembang 7 rupa belum?”


“Sudah lah, loe gak lihat gue sudah wangi kayak gini”


“Iya deh, terserh loe aja. Oh ya, si Pocil mana?”


“Playstation 4, bukannya cuma ada Playstation 2?”


“Itukan di dunia kita. Ini dunia manusia. Tekhnologi lebih maju” Shishil bergegas pergi menuju kamar Pocil.


“Shil, Shil. Gimana gak di taksir cowok. Hobinya aja main game!”


Malam itu Ramon dan Pak Darso pergi meninggalkan kediaman Pak Slamet. Ramon tak tahu mau pergi kemana. Di dalam hatinya hanya ada makan dan makan.


“Kita mau makan dimana, Pak Darso?” Tanya Ramon.


“Makan mah nanti aja. Kamu belum pernah ‘kan ke diskotik manusia?”

__ADS_1


“Diskotik manusia?”


“Iya diskotik Tapi bukan seperti di dunia setan. Diskotik dunia manusia itu lebih greget. Pokoknya kalau kamu sudah datang, kamu pasti akan ketagihan terus” Ucap Pak Darso sambil mengemudikan mobil. Ramon semakin penasaran.


Tak lama setelah perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tujuan.


“Ini yang namanya diskotik manusia. Banyak cabe-cabean. Gak kayak di dunia setan!” Tegas Pak Darso.


“Apa’an Pak Darso, cabe-cabean?”


“Yaudah sekarang kita masuk aja”


Pak Darso mengajak Ramon masuk kedalam. Sesampainya di dalam, Ramon sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya. Banyak manusia yang sedang berdansa tak beraturan, musik terdengar begitu keras, lampu gemerlap, wanita yang dia lihatnya pun ****-****.


“Gimana Mon, mantap kan diskotik manusia itu?”


“Benar-benar mantap Pak Darso, baru kali ini saya lihat yang kayak gini” Jawab Ramon kagum.


“Yaudah ikut Pak Darso, kita pesan minuman”


Sesampainya mereka di meja bar.


“Itu minuman apa Pak Darso. Kok’ ada busah nya?”


“Ini buat kamu, kamu coba aja. Kalau sudah di minum, rasanya lebih nikmat dari pada kemenyan” Ramon penasaran dan mencobanya. Namun, karena pertama kali mencobanya, dia pun merasa mual.


“Kok’ rasanya gitu amat Pak, Darso. Beda sama rasa kemenyan?”

__ADS_1


“Itu karena kamu pertama kali mencobanya. Coba kamu habiskan. Kamu pasti ketagihan”


__ADS_2