Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 24


__ADS_3

Mereka memesan dua gelas.


“Mantap banget. Tenggorokan gue langsung nyess” Ungkap Pocil. Namun Pocil dan Ramon tak sadar kalau mereka sedang di awasi oleh sekelompok orang yang berada di sebrang jalan menggunakan mobil sedan hitam. Mereka bernama Udin dan Abdel kaki tangan dari sindikat narkoba dan minuman keras.


“Loe yakin Din. Ranselnya loe kasih mereka?”


“Gue yakin banget Del. Sewaktu gue di kejar polisi. Gue nitip Ranselnya sama mereka. Gue kasih sama yang make baju hijau itu” Ramon memakai baju hijau.


“Yaudah, sekarang kita buntuti mereka. Mungkin ranselnya masih mereka simpan”


“Gue berharap gitu Del. Kalau gak ketemu karir gue bisa tamat”


“Lagian, loe jadi orang gak hati-hati banget”


“Gue sudah hati-hati banget. Mungkin gue emang lagi apes aja, Din”


Hari menjelang sore. Pocil dan Ramon memutuskan untuk pulang. Namun, mereka tak sadar kalau mereka terus di buntuti oleh kedua sindikat itu. Sesampainya di rumah. Sindikat yang terus memantau mereka itu langsung mengambil handphone dari dalam sakunya dan menelepon seseorang.


“Sore Bos. Gue sudah tahu orang yang megang ransel itu”


“Yaudah, ambil ransel itu. jangan sampai barangnya hilang?


“Baik Bos!”


“Oh ya. Satu lagi. Kalian tahu kalau barang itu gak ketemu”

__ADS_1


“Tahu Bos. Kita-kita pasti bisa dapetin barang itu lagi”


“Yoa sudahlah kalau gitu. Oh ya. Sebelum pulang beliin gue martabak telor!”


“Siap, Bos” Teleponnya mati.


Malam pun tiba. Udin dan Abdel memutuskan menjarah rumah milik Pak Slamet untuk mencari ransel miliknya itu. Karena di dalam ransel tersebut terdapat barang yang mereka cari, yaitu ganja yang siap edar. Dengan memakai pakaian serba hitam, mereka mencongkel paksa jendela rumah Pak Slamet. Udin dan Abdel mengendap-ngendap, dengan langkah yang setengah-tenga malu mereka mulai memasuki ruang tamu. Namun, mereka merasa ada yang aneh.


“Malam-malam gini tv bukannya di matiin. Gak tahu listrik mahal”


“Mungkin yang punya petugas PLN kali, Del”


Udin dan Abel menghampiri tv yang sedang menyalah itu. Namun, ketika mereka mau mendekati tv itu. mereka melihat ada seseorang yang sedang tertidur pulas di sofa berselimutkan selimut hangat.


“Loe sudah bawa obat biusnya, Din?”


“Pokoknya, pas gue buka selimutnya. Loe bekap mulutnya.”


Tanpa basa basi Abdel langsung menarik selimut itu. namun, mereka kaget bukan kepalang. Karena, yang mereka lihat sesosok pocong sedang tertidur pulas.


“Pocooooong..” Udin dan Abdel panik. Mendengar teriakan kedua maling itu, Ramon pun terbangun dari tidurnya.


“Siapa loe. Ngapain loe di disini. Maling loe ya?”


“Kok’ Pocong bisa ngomong?”

__ADS_1


“Pergi gak loe, kalo gak pergi gue gigit sampe mati loe” Gertak Ramon. Karena terlalu panik dan takut, akhirnya Udin dan Abdel pergi tergesa-gesa meninggalkan kediaman Pak Slamet. Mendengar ada suara bising, seluruh penghuni rumah berdatangan menuju ruang tamu.


“Loe kenapa, Mon?”


“Tadi ada maling, Shil”


“Maling?”


“Iya. Chil. maling. Untungnya gue belum mandi. Gue jadi wujud gue yang asli. Kedua maling itu kabur ngelihat gue jadi pocong?”


“Sudah biasa di jakarta mah. Maling merajalela.” Ucap Pak Slamet.


Shishil sudah begitu cantik dan rapih. Dia mempunyai janji ingin bertemu dengan Raka. Siang itu pukul 11.00 wib. Dengan cuaca yang sedikit mendung, Shishil tetap memutuskan untuk berangkat.


“Loe mau kemana Shil. Cantik banget?”


“Hari ini gue ada janji sama arjuna gue, katanya sih mau ngajakin gue makan gitu”


“Makan. Gue ikut dong, Shil?”


“Ih, kaga ah. Kalo soal makan, loe mah nomor satu, Mon”


“Yaiyalah, Shil. Namanya juga si perut karung” Potong Pocil. Saat itu juga terdengar suara kelakson mobil berulang-ulang.


“Tuh jemputan gue sudah datang. Gue tinggal dulu ya. Kalo Pak Slamet nanyain gue, bilang aja gue lagi keluar nyari angin”

__ADS_1


“Iya, Shil. Tapi jangan lupa ya. Beliin gue nasi goreng”


__ADS_2