Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 14


__ADS_3

Shishil sangat sedih. Dia merasa seperti bukan anak kandung. Perlakuan kedua Orang Tuanya membuat dia begitu terpukul. Setiap malam dia selalu murung.


Hari pernikahannya pun dengan si Pocong cupu hanya tinggal menghitung hari. Shishil hanya mengurung diri dikamar dan selalu memandangi terangnya bintang di malam hari. Namun, ketika turun hujan hatinya semakin sedih. Air hujan bagaikan titisan rintihan hatinya.


Keesokan harinya, hari pernikahan di mulai. Shishil terpaksa mengikuti keinginan Orang Tuanya. Di kediaman Pak Jarwo begitu ramai dengan datangnya para setan-setan yang hadir. Semua setan Kunti, Pocong dan makhluk sejenisnya sudah berkumpul untuk melihat secara langsung proses akad nikah.


Shishil hanya menunggu di kamarnya sampai akad nikah selesai. Ketika dia mendengar penghulu membacakan perkataan akad nikah, Shishil semakin sedih.


“Bisa di mulai akad nikahnya Pak penghulu. Lebih cepat lebih baik”


“Okelah kalau gitu. Kita mulai, saya nikah kan engkau Wendy si Pocong dengan Shishil si Kunti binti Jarwo dengan mas kawin dua kilo kemenyan, di bayar tunai”


Pocong cupu yang menjadi mempelai lelaki sudah ancang-ancang untuk mengucapkan ijab kabul. Dengan penuh keringat yang bercucuran, akhirnya Pocong cupu itu lancar mengucapkan kalimat ijab kabul.


“Saya terima nikah dan kawinnya Shishil binti Jarwo dengan mas kawin tersebut, tunai”


“Gimana. Bu Kunti, Pak Cong. Sah?” tanya Pocong si penghulu.

__ADS_1


“Sah, sah” Jawab Pocong dan Kunti yang menjadi saksi. Mendengar kalimat, Sah. Shishil semakin terpuruk. Dia sudah pasrah menjadi isteri si Pocong cupu.


“Sekarang bawa mempelai wanitanya keluar untuk mendampingi suaminya” Pinta Pak penghulu. Namun, ketika Shishil mau pergi meninggalkan kamarnya. Terdengar suara yang memanggil namanya.


“Shil, Shishil?” Ujar seseorang. Shishil menoleh, ternyata Pocil yang memanggilnya melalui jendela kamar.


“Pocil, ngapain loe disini?”


“Gue mau nolong loe”


“Kalian, tapi percuma Cind. Gue sudah sah jadi istrinya si Pocong cupu itu.”


“Emangnya loe benar-benar mau jadi istrinya si Pocong cupu itu?”


“Kaga sih, Mon”


“Yaudah, sekarang loe ikut kita-kita, biar loe gak jadi istri si Pocong cupu itu”

__ADS_1


“Tapi, Cil. Kalo Ayah gue tahu kalau gue pergi, apa lagi pergi sama kalian. Kalian pasti di DO dari kampus setan”


“Loe tenang aja, Shil. Yang penting pikirin nasib loe dulu.” Jawab Cindy si Kunti. Shishil keluar meninggalkan kamarnya melalu jendela yang terbuka.


“Terus siapa yang gantiin si Sishil, Cil?” Tanya Ramon.


“Masih ada Nenek gue disini!” Jawab Mocil tersenyum. Nenek Gayung bersedia menggantikan posisi Shishil. Tak lama setelah Shishil dan teman-temannya pergi, kini Nenek Gayung itu mulai memainkan perannya.


Pak Jarwo tidak sadar kalau yang baru saja keluar dari kamar bukan lah Shishil, melainkan Nenek Gayung.


“Baik lah, silahkan mempelai wanita duduk di samping mempelai pria, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Mempelai pria bisa membuka cadar mempelai wanitanya.” Ujar Kunti si penghulu.


Pocong cupu sangat senang. Perasaannya berdebar-debar saat membuka cadar istrinya itu. Namun, ketika cadar itu dia buka, dia sangat terkejut. Terutama Pak Jarwo dan semua setan yang hadir. Pocong cupu itu pingsan seketika.


“Siapa dia?” Tanya penghulu.


“Dimana Shishil, anak gak tahu diri, dia mempermalukan Ayahnya sendiri.” Ujar Pak Jarwo kesal.

__ADS_1


__ADS_2