
Kini Pak Jarwo dan kedua Bodyguardnya mendatangi Nenek Gayung yang sedang santai di kontrakannya.
“Nenek Gayung?”
“Pak, Jarwo. Ada yang saya bisa bantu?”
“Di mana Shishil berada?”
“Maksud Pak Jarwo?”
“Sudah tiga hari Shishil gak pulang kerumah!”
“Jangan pura-pura gak tahu Nek, Nenek masih ingat luka di kepala saya ini?” Potong si Kunti Bodyguard.
“Saya benar-benar gak tahu Pak Jarwo.”
“Nenek benar-benar tutup mulut. Besok saya gak mau lihat muka Nenek di kontrakan saya. Bodyguard cepat bawa gayung sama tikarnya.” Perintah Pak Jarwo. Mereka pun pergi sambil membawa gayung dan tikar milik Nenek tak berdaya itu.
Esok harinya.
Saat itu Ramon si Pocong berotot baru saja masuk kedalam toilet, tiba-tiba datang kedua bodyguard Pak Jarwo yang langung menutup kepalanya dengan sebuah karung goni.
“Hey apa-apaan nih?” Keluh Ramon. Dia tak tahu mau di bawa kemana. Setelah penutup kepala itu di buka, dia sangat terkejut.
“Pak Jarwo?”
“Kenapa, terkejut? Oh ya, kamu pasti tahu keberadaan anak saya?”
“Sumpah Pak, saya gak tahu keberadaan anak Bapak.”
__ADS_1
“Jangan bohong kamu. Dimana dia?”
“Sumpah Pak, saya gak tahu”
“Kamu masih gak mau bicara. Kunti carikan kecoa” Suruh Pak Jarwo. Kecoa pun di dapatkannya. Kunti mulai menakuti-nakuti Ramon dengan kecoa itu.
“Baik Pak, baik akan saya katakan, tapi tolong jauhkan kecoa itu dari pipi saya” Pinta Ramon gemetar. Ramon mengompol.
“Kalau gitu, dimana keberadaan anak saya?”
“Terakhir saya lihat, Shishil bersama rekannya satu Kunti yang satu lagi Pocong”
“Siapa Kunti itu?”
“Namanya Cindy. Dia kelas melati 2”
Pak Jarwo segera menuju ke kelas melati. Sedangkan Ramon di tinggal dalam keadaan basah terutama di bagian bawah.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Jarwo?”
“Gak ada Bu Kunti. Saya hanya perlu sama seseorang di kelas ini” Jawab Pak jarwo. Mendengar ucapannya. Cindy dan Pocil beranjak dari bangkunya. Namun, ketika mereka mau pergi, tiba-tiba kedua bodyguard Pak Jarwo menghadang mereka.
“Mau kemana kalian?” Tanya Pocong bodyguard.
“Tuh Anaknya sudah berdiri. Oh ya, saya pinjam dulu ya Bu mereka berdua”
“Oh, gak apa-apa kok Pak. Saya gak merasa terganggu kok” Jawab Bu Dosen. Cindy dan Pocil di bawa keruangan nya Pak Jarwo. Di sana sudah ada Ramon yang terlebih dahulu di interogasi.
“Ngapain loe disni, Mon?”
__ADS_1
“Gue habis di interogasi. Lihat aja sendiri, gue sampai ngompol gini” keluh Ramon. Cindy dan Pocil langsung duduk. Pak Jarwo pun mengintrogasi mereka.
“Kalian tahu kenapa, kalian saya bawa kesini?”
“Emang kenapa, Pak?” Tanya Pocil.
“Jangan pura-pura gak tahu kamu. Langsung ke intinya aja. Dimana Shishil?” Tanya Pak Jarwo kesal.
“Meskipun kami beritahu. Shishil gak akan mau pulang” Jawab Cindy cuek.
“Benar, Pak. Dia sangat kecewa sama Bapak. Bapak itu gak punya perasaan” Potong Pocil.
“Kamu berani bilang seperti itu. kamu tahu Bapak siapa. Bapak bisa aja membuat kalian di berhentikan dari kampus setan ini. Kecuali, kalau kalian beri tahu saya di mana Shishil berada, kalian tidak boleh bohong" Mendengar perkataan Pak Jarwo, mereka bertiga sangat terkejut dan benar benar bingung.
“Gimana nih, Cind? Gue gak mau di keluarin, kasihan orang tua gue.” Ujar Ramon ketakutan. Dengan terpaksa mereka memberitahukan keberadaan Shishil. Karena mereka takut kena Drop Out.
“Dia di rumah saya. Pak!” Jawab Cindy menyesal.
“Kan kalau gitu enak. Coba kalian bilang dari awal. Tapi kalian tetap harus kena hukuman, kalian kena scoursing selama tiga bulan”
“Tapi, Pak. Kami masih ingin belajar”
“Ini keputusan saya. Gak boleh ada yang nolak” Tegas Pak Jarwo. Mereka merasa sedih.
Keesokan malamnya, Pak Jarwo dan kedua Bodyguardnya datang kekediaman Cindy si Kunti. Melihat kedatangan Ayahnya, Shishil sangat terkejut. Kenapa Ayahnya bisa tahu tentang keberadaannya.
“Sory, Shil. Gue terpaksa bilang kalau loe ada di rumah gue”
“Loe kan’ sudah janji sama gue?”
__ADS_1
“Gue terpaksa. Gue di ancam akan di keluarin dari kampus setan kalau gue gak ngasih tahu keberadaan loe, Shil”
“Ayah gue benar-benar keterlaluan. Terimakasih ya untuk tiga hari ini. Loe Emang teman gue yang terbaik, Cind” Ujar Shishil sedih. Akhirnya malam itu Shishil di paksa pulang oleh Ayahnya yang sudah tak sabar ingin menikahkannya dengan si Pocong cupu.