
“Duduk aja Shil. Gue mau ambil minum dulu”
“Iya, Ka” Shishil segera duduk di sofa tamu. Namun, saat itu dia melihat sebuah foto di ruang tamu, dia menghampiri foto itu. Di saat dia melihat foto itu. Shishil merasa ada yang aneh. Karena wajah yanga berada di foto itu, mirip sekali dengan wajahnya. Raka pun datang.
“Kenapa, Shil?”
“Ini foto siapa Ka?”
“Itu foto kenangan terakhir sama tunangan gue, Shil. Dia namanya Rahel”
”Ini tunangan yang loe bilang pergi itu ya”
“Iya, Shil. Sekilas wajahnya emang mirip sama wajah loe” Shishil segera duduk.
“Oh ya, Ka. Yang kemarin itu siapa?”
“Yang mana, Shil?
“Wanita yang datang tiba-tiba itu!”
“Oh. Dia namanya Siska. Di suka sama gue, Shil. Tapi gue gak pernah suka!”
“Kenapa gak suka, Ka. Dia kan cantik”
“Dia emang cantik. Tapi hatinya gak secantik wajahnya. Dia itu wanita egois, Shil. Oh ya. Sebenarnya gue mau ngenalin loe sama seseorang”
“Sama siapa Ka? Kedua Orang Tua loe?”
“Iya sih, tapi karena Ortu gue lagi keluar, gue mau ngenalin loe sama seseorang.” Tanpa banyak kata Raka langsung mengajaknya ke suatu tempat. Namun di dalam perjalanan Raka berhenti untuk membeli sebuah bunga mawar merah.
“Bunga untuk apa, Ka?”
__ADS_1
“Ini bunga kesukaan tunangan gue, Shil”
“Jadi, loe mau ngenalin gue sama tunangan loe?” Tanya Shishil. Raka hanya terdiam.
Sesampainya di tujuan, Shishil sangat heran. Sebuah pemakaman. Pemakaman itu tempat di mana Shishil berasal.
“Ini kan’ pemakaman, Ka?”
“Iya Shil. Ini emang pemakaman. Yuk ikut gue. Biar gue kenalin sama tunangan gue” Ujar Raka. Shishil merasa heran, karena jalan yang dia ikuti, persis seperti jalan menuju kediamannya di dunia setan.
Sesampainya di satu makam. Mereka langsung duduk di pinggir makam.
“Ini Shil, tunangan gue. Dia pergi ninggalin gue untuk selama-lamanya”
“Jadi ini tunangan loe, Ka?” Shishil sedih.
“Setiap malam kamis gue selalu kesini, Shil”
“Hanya untuk memberikan bunga mawar ini, Shil. Tunangan gue itu sangat suka sama bunga mawar.” Shishil terdiam.
“Oh ya, kenapa hanya malam kamis, Ka?”
“Karena, pada malam itu, dia pergi ninggalin gue untuk selama-lamanya” Mendengar penjelasan Raka. Shishil menjadi yakin kalau bunga mawar yang selama ini dia terima bukan berasal dari si Pocong cupu, melainkan dari manusia yang dia cintai itu.
“Jadi, yang selama ini yang ngirim bunga itu dari loe Ka?”
“Maksudnya, Shil”
“Bukan apa-apa kok, Ka”
“Yaudah, Shil. Hari sudah sore. Kita pulang aja. Gue antar loe kerumah ya” Pinta Raka. Mereka pergi meninggalkan makam. Di dalam mobil Shishil hanya terdiam. Dia masih memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah.
“Loe kenapa, Shil” Tanya Pocil heran.
“Gak kenapa-napa, Cil. Gue lagi pusing aja” Shishil langsung pergi kedalam kamar.
Pocil sangat heran. Dis melihat Shishil begitu lelah. Pocil pun menyusulnya. Dengan halus dia mengetuk-ngetuk pintu.
“Siapa?”
“Ini gue, Pocil”
“Masuk, Cil. Pintunya gue gak kunci” Pocil masuk kamar.
“Loe kenapa sih, Shil?”
“Gak kenapa-napa kok’”
“Yang benar. Kalau ada masalah loe cerita aja, Shil” Shishil terdiam.
“Loe bisa bantu gue gak, Cil. Gue ingin pulang ke dunia setan”
“Gue gak salah denger, nih? Yaudah kita rapih-rapih. Gue sudah kangen banget sama dunia setan”
“Tapi, Cil. Cuma sebentar. Gak lama”
“Oh gitu, yaudah deh. Nanti malam kita meluncur”
“Oh ya. Si Ramon ke mana, Cil?”
“Biasa lah, dia lagi pergi sama Pak Darso.
__ADS_1