
Shishil merasa heran. Karena, tak jarang Ramon selalu pergi di malam hari bersama Pak Darso dan alasannya pun sama. Di traktir nasi goreng. Ramon segera membuka pintu gerbang.
“Sory ya Shil. Gue berangkat dulu. Jangan lupa ya, gerbangnya di tutup lagi” Ramon segera pergi masuk kedalam mobil yang di mana di dalam mobil sudah ada Pak Darso yang sedang menunggunya.
Malam itu Ramon dan Pak Darso pergi ketempat biasa mereka pergi. Diskotik. Ramon sudah terhipnotis dengan dunia malam di dunia manusia. Dia sudah tergila-gila dengan cabe-cabean.
“Bangun kita sudah sampai”
“Kita, sudah sampai Pak Darso. Oh ya. Pak Darso sudah boking cabenya belum?”
“Sudah, kita turun aja”
Ramon dan Pak Darso turun dari dalam mobil. Mereka masuk kedalam diskotik. Sesampainya di dalam. Seperti biasa lampu remang-remang dan music Dj menyambut kedatangan mereka. Terutama cabe-cabean.
“Malam Om Darso. Kok’ baru dateng sih”
“Biasa lah, Beb. Om lagi ada acara”
“Beb, juga. Tumben kemarin gak dateng?”
“Sama. Ayank juga ada acara”
“Coba Beb datang. Padahal sudah aku siapin kamar spesialnya” Mereka langsung duduk di sofa dan menikmati bir-bir yang telah tersedia. Malam itu Ramon dan Pak Darso mabuk berat.
“Pak Darso, sudah mau jam 12 malam, saya lupa” Namun, lagi-lagi Ramon di cekokin bir oleh cabe-cabeannya yang berada disampingnya.
__ADS_1
Hal yang tak terduga terjadi. Udin dan Abdel datang mengunjungi diskotik dan menyadari kehadiran Ramon.
“Din loe lihat deh yang lagi duduk di sana?”
“Di mana?”
“Di sana!”
“Kebetulan banget, ayo Del kita tangkap dia”
“Jangan sekarang, Din. Tunggu waktu yang tepat”
“Tapi, yang di sampingnya itu mirip banget sama Pak Darso, Del.”
“Orang mirip mah banyak Din, apa lagi di jakarta”
“Akhirnya, gak sia-sia kan’ gue bawa karung goni” Ujar Udin. Udin dan Abdel membawa Ramon ke sesuatu tempat, sebuah gudang tua. Sesampainya di gudang tua itu. Mereka langsung membawa Ramon ke dalam kamar kosong yang sudah tersedia bangku kosong.
“Duduk” Tegas Udin. Udin langsung membuka karung goni yang menutupi wajah Ramon.
“Siapa kalian? Gue di mana?”
“Loe gak perlu tahu gue. Loe sembuyikan dimana ransel itu”
“Ransel yang mana?”
__ADS_1
“Yang dulu gue kasih ke loe lah!”
“Oh, loe yang waktu itu, ranselnya bukan di gue”
“Jangan bohong loe, itu ransel isinya barang mahal”
“Sumpah, bukan di gue. Tolong lepasin gue”
“Kalau loe gak mau ngomong, loe tahu ini kan?” Ucap Udin sambil mengarahkan sebuah pistol ke arah Ramon.
“Ampun bang, saya gak tahu ransel itu ada di mana, saya lupa” Keluh Ramon gemetar. Lagi-lagi Ramon pipis di celana.
“Baru gue todong sebentar, sudah pipis di celana, apa lagi gue door beneran loe” Gertak Udin. Namun, saat itu juga terdengar suara mobil datang menghampiri gedung tua itu.
“Bos sudah datang, Din. Tutup lagi pakai karung goni” Perintah Abdel. Tak lama menunggu, bos mereka pun masuk kedalam ruangan interogasi.
“Gimana, loe berdua sudah dapat ransel itu?”
“Belum bos, tapi kita dapet orang yang megang ransel itu”
“Sudah kalian interogasi?”
“Ada di kamar Bos, baru aja kita interogasi, tapi masih tutup mulut” Mereka masuk kembali kedalam kamar interogasi.
“Lepas ikatan sama karung goninya, Din. Biar si Bos yang nginterogasinya”
__ADS_1
Namun, ketika Udin membuka karung goni itu. Semua pada terkejut. Karena, yang mereka tangkap seketika berubah menjadi sesosok Pocong. Udin terkejut terutama Bos mereka. Karena panik, akhirnya komplotan mafia narkoba itu pergi tergesa-gesa.