
“Bukannya itu anak yang kemarin, Din?”
“Iya, Del!”
“Kalian kenapa?”
“Itu bos, ransel yang hilang itu ada di dia!” Jelas Abdel. Pak Darso sedikit heran. Akhirnya Abdel dan Udin menjelaskan perihal tentang ransel itu. “Jadi ranselnya ada di dia, yaudah besok anak buah loe, gue tunggu di rumah. Oh ya, mereka kan belum pernah ke rumah gue, nih alamatnya” Setelah transaksi selesai, Pak Darso menghampiri Ramon yang sudah mabuk berat.
“Mon, Pak Darso mau nanya. Ransel yang waktu itu kamu bawa masih ada?”
“Oh, ransel itu. Saya lupa, Pak Darso”
“Coba ingat-ingat lagi”
Malam itu, akhirnya Pak Darso memutuskan untuk pergi meninggalkan diskotik.
Di sisi lain. Shishil enggan pulang ke rumah Pak Slamet dalam keadaan wujud Kunti. Dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan dunia manusia. Namun, sesampainya di pemakaman. Shishil merasa heran. Dia melihat ada beberapa orang sedang membuang botol minuman yang masih tersegel ke dalam sumur tua penghubung antara dunia manusia dan dunia setan.
“Apa yang sedang mereka buang?” Shishil menghampirinya dengan sembunyi-sembunyi. Shishil sangat heran. Namun, saat itu juga dia melihat sebuah mobil yang sudah tak asing lagi menghampiri pemakaman.
“Itu kan mobilnya Pak Slamet?” Tanya Shishil heran. Tiba-tiba dari dalam mobil keluar seseorang yang langsung menghampiri sumur tua itu.
“Gimana, minumannya sudah kalian kirim semua?”
“Sudah Pak Darso?”
“Yaudah, kalian boleh pergi!”
__ADS_1
Melihat Pak Darso, Shishil merasa heran. Apa lagi ketika Pak Darso menelepon seseorang dan menyebutkan nama Ayahnya. Shishil pun semakin heran.
“Hallo Pak Jarwo, minumannya sudah saya kirim, sudah siap di ambil!”
“Saya akan kesana. Kamu pergi aja dari sumur tua itu, biar semua aman”
“Oke, oke Pak Jarwo. Saya harap setan-setan yang meminumnya akan ketagihan. Mabuk dan mabuk. Hehe” Pak Darso pun pergi.
Shishil sangat penasaran, dia menghampiri sumur tua dan mengambil sebuah botol yang sudah tak terpakai. Dia langsung menciumnya.
“Bau banget. Minuman apa sih ini, jangan-jangan yang di maksud Pak Rt minuman ini. Pocil sama si Ramon harus tahu” Shishil memutuskan untuk pulang ke kediaman Pak Slamet.
Keesokan harinya. Shishil masih merasa curiga dengan apa yang di lakukan oleh Pak Darso sewaktu di pemakaman . Dia merasa ada sebuah misteri yang harus dia tahu.
”Oh ya. Gue mau cerita sesuatu yang aneh sama loe berdua. Tapi jangan loe kasih tahu kesiapa-siapa ya”
“Semalam gue ngelihat Pak Darso lagi di sumur tua antara dua manusia sama dunia setan!”
“Apa yang aneh? Dia kan sejenis dari kita”
“Gue juga tahu, Mon. Tapi pertama kali yang gue lihat bukan Pak Darso. Mungkin anak buahnya. Yang anehnya lagi, anak buahnya Pak Darso membuang botol minuman ke dalam sumur. Kayaknya minuman itu deh penyebabnya”
“Penyebab dari apa’an, Shil?”
“Penyebab di anak muda di dunia setan banyak yang pada mabuk, Cil. Jangan-jangan penyebabnya minuman itu”
“Iya juga, sih. Belakangan ini di komplek rumah gue juga banyak yang pada mabuk, Shil. Pokonya meresahkan, deh”
__ADS_1
“Tuh, kan. Ternyata bukan di komplek kediaman gue aja, semua pasti ada penyebabnya”
“Loe salah lihat kali, Shil. Mungkin itu cuma sirup yang di kirim Pak Darso ke dunia setan” Ujar Ramon.
Di saat mereka sedang berbincang. Pak Darso datang menghampiri mereka.
“Ramon, saya ada perlu dengan kamu. Bisa ikut Pak Darso sebentar?” Ramon mengikutinya. Sesampainya di ruang tamu.
“Duduk” Jelas Pak Darso.
“Ada apa ya, Pak Darso?”
“Pak Darso mau nanya. Ransel yang dulu kamu sama rekan kamu bawa itu masih ada?”
“Ransel?”
“Iya, Ransel?”
“Oh ransel itu, masih ada Pak Darso”
“Cepat kamu ambil, itu ransel milik Pak Darso” Mendengar ucapan Pak Darso, Ramon merasa ada yang aneh. Ramon pun pergi ke dalam kamar untuk mengambil ransel itu.
“Loe kenapa di panggil Pak Darso, Mon?”
“Gue ngerasa ada yang aneh juga sama Pak Darso, Shil!”
“Aneh? Maksudnya?”
__ADS_1