
“Permisi Mas. Saya mau nanya?”
“Kalian mau nanya apa?”
“Kenapa ya? Setiap manusia yang melihat kita bertiga pada ketakutan dan pergi tergesa-gesa?”
“Ya jelas lah, kalian itu setan. Manusia sangat takut sama setan”
“Tuh kan, benar mereka ketakutan melihat wujud kita yang aneh” Sahut Ramon.
“Jadi manusia takut dengan kita-kita. Terus kenapa, Mas gak takut sama kami?” tanya Shishil.
“Saya sudah biasa melihat kalian. Oh ya. Panggil saya Pak Darso aja. Terus kalian sedang apa ada disini?”
“Kami bertiga lagi nyari alamat ini, Pak Darso” Jawab Shishil sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat.
“Sampai kapan pun kalian gak akan pernah menemukan alamat ini!”
“Kok, bisa Pak Darso?”
“Jelas lah ini alamat, alamat palsu” Jelas Pak Darso.
“Maksud Pak Darso?” Tanya Shishil.
“Yaudah, kalian ikut saya aja”
“Kemana Pak Darso?” Tanya Ramon.
“Nanti akan saya jelaskan kalau sudah sampai di rumah saya” Tanpa curiga mereka bertiga pun mengiyakan ajakan pria separuh baya itu.
__ADS_1
Malam semakin larut. Dalam dinginnya angin malam, akhirnya mereka sampai di sebuah komplek perumahan mewah.
“Kita sudah sampai, sekarang kalian bisa turun dari mobil” Ujar Pak Darso. mereka bertiga bergegas turun dari dalam mobil.
“Ini rumah siapa, Pak Darso?”
“Ini alamat yang kalian cari!”
“Maksud, Pak Darso?” Tanya Shishil.
“Kalian sedang cari alamat kan. Ini alamatnya yang kalian cari”
“Kata Pak Darso kan’ sampai kapan pun alamatnya gak akan ketemu, tapi sekarang alamatnya ketemu, saya gak ngerti?” Tanya Pocil.
“Tentu aja kalian gak ngerti. Kan saya sudah kasih tahu, alamat yang kalian cari itu sebenarnya hanya alamat palsu. Sewaktu saya melihat alamat yang kalian beri. Saya sudah tahu kalau kalian dari dunia setan. Karena ada tanda tangannya Kakek cangkul”
“Jadi, Pak Darso kenal sama Kakek saya?”
“Baik, Pak Darso. Kok, Pak Darso tahu Kakek saya?”
“Sebenarnya saya juga berasal dari dunia kalian”
“Kalau gitu, kenapa Pak Darso ada di dunia manusia?”
“Pak Darso cuma nemenin Pak Slamet aja. Mungkin bisa di bilang asistennya”
“Pak Slamet, mantan kepala kampus dunia setan kan’ Pak Darso?” Tanya Pocil.
“100 buat kamu. Oh, ya. Nama kalian siapa. Kita belum kenalan”
__ADS_1
“Saya Shishil, Pak Darso. Ini kedua teman saya Pocil sama Ramon”
“Kamu Shishil anaknya Pak Jarwo?”
“Kok, Pak Darso bisa tahu?”
“Saya ini dulu asistennya Ayah kamu. Pak Darso di tugaskan untuk menemani Pak Slamet yang memutuskan untuk pensiun”
“Oh gitu. Kalau boleh tahu Pak Darso setan jenis apa?”
“Oh, kalau saya sejenis Pocong. Yaudah, sekarang kita masuk kedalam rumah aja.”
Akhirnya pencarian mereka bertiga tak sia-sia. Meski pun mereka hampir putus asa, semua terbayar tuntas ketika alamat yang mereka cari sudah mereka temukan. Sesampainya di dalam rumah yang megah itu. Terlihat seorang Kakek tua sedang duduk santai sambil membaca sebuah koran.
“Malam Pak Slamet. Kita kedatangan tamu!”
“Siapa yang bertamu di tengah malam kayak gini?” Tanya Pak Slamet.
“Mereka dari dunia setan, Pak Slamet” Jawab Pak Darso. Mendengar perkataan asistennya itu, Pak Slamet segera berdiri dan menghampiri mereka.
“Sedang apa kalian di dunia manusia?”
“Kami pergi dari dunia setan Pak, Slamet”
“Pergi dari dunia setan, emangnya ada masalah apa? Oh ya, silahkan duduk. Pak Darso tolong ambil air minum” Pak Darso segera pergi untuk mengambil air minum.
“Begini Pak Slamet, teman saya Shishil menolak untuk di jodohkan. Mangkannya kami mengantar dia pergi ke dunia manusia untuk menghindari perjodohan itu” Jawab Pocil.
“Kamu Shishil anaknya Pak Jarwo?”
__ADS_1
“Iya Pak Slamet. Oh ya, Pak Slamet kok berhenti jadi kepala kampus setan. Emangnya kenapa?”
“Pak Slamet sudah tua. Mangkannya Pak Slamet memutuskan Ayah kamu jadi penggantinya” Jawab Pak Slamet. Pak Darso datang membawa air minum untuk mereka.