Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 23


__ADS_3

“Siap. Tapi kalau loe kalah traktir gue makan pizza ya?”


Di sisi lain. Shishil menghampiri Pak Slamet yang sedang duduk santai di luar rumah.


“Permisi Pak Slamet. Saya boleh minjam telepon gak?”


“Telepon. Pakai aja Shil. Oh ya. Kemarin saya sudah membeli handphone untuk kalian bertiga. Tunggu sebentar ya” Pak Slamet langsung memanggil Pak Darso yang sedang membersihkan mobil di teras rumah.


“Pak Darso kemari sebentar” Panggil Pak Slamet. Pak Darso menghampiri.


“Iya Pak Slamet, ada yang bisa saya bantu”


“Handphone yang kemarin kita beli, sudah di kasih kan’ ke anak-anak?”


“Oh ya, Pak Slamet. Saya lupa. Masih ada di dalam mobil”


“Yaudah kalau gitu, kamu ambil dan berikan ke anak-anak, masing- masing satu” Shishil merasa senang. Tak lama menunggu.


“Ini Neng Shishil bisa di ambil Handphonenya”


“Tapi Pak Slamet, saya jadi ngerepotin?”


“Gak apa-apa. Kalian baru pertama kali ke dunia manusia. jadi saya memberikan handphone ini agar lebih mudah berkomunikasi dengan kalian, jika kalian mendapatkan masalah di luar sana”


Shishil pergi menuju kamar menghampiri Pocil dan Ramon.


“Mon, nih handphone dari Pak Slamet”


“Yang benar, Shil?”


“Beneran lah, Chil”


“Gila, baik banget Pak Slamet. Kalo gue minta cabe pasti di beliin?”


“Cabe? Buat apaan Mon?”

__ADS_1


“Cabe-cabean, Shil”


“Dari kemarin omongan loe gak jelas mulu, Mon”


Keesokan malamnya, setelah Shishil mempunyai kartu perdana baru dan pulsa yang cukup. Shishil memberanikan diri untuk menelepon Raka, cowok misterius idamannya itu. Pertamanya Shishil begitu ragu, perasaannya bergetar hebat seakan-akan ada sebuah gempa dan tsunami yang datang menerjang hatinya.


Shishil mulai menekan nomor itu. dengan hati canggung dia menunggu dan menunggu dan sampai akhirnya.


“Hallo?” Tanya Shishil gugup.


“Iya. Ini siapa ya?”


“Gue Shishil!” Jawab Shishil. Hening sejenak.


“Shishil. Oh ya, gue ingat. Apa kabar Shil. Kok’ loe baru nelepon?”


“Sorry Ka, sebenernya gue pingin nelepon. Tapi?”


“Tapi, kenapa. Malu?”


“Ah, yang benar. Oh ya. Besok loe ada acara gak?”


“Acara. Kayaknya ga ada deh!”


“Yaudah kalau loe gak punya acara. Besok kita jalan, mau gak?”


“Jalan? Yaudah gue mau”


“Kalau gitu besok siang loe gue jemput ya, Shil ” Pinta Raka si cowok misterius itu. Setelah Shishil memberikan alamat rumah Pak Slamet, teleponnya mati. Shishil sangat senang, seakan-akan tak percaya dengan apa yang terjadi. Sambil memeluk handphone miliknya, Shishil hanya tersenyum.


Ramon dan Pocil masuk kedalam kamarnya.


“Kenapa loe Shil?”


“Gue lagi gak mimpi kan, Chil?”

__ADS_1


“Emangnya kenapa, Shil?”


“Gue mau ketemuan sama arjuna gue”


“Gue gak salah dengar. Oh ya, Shil. Loe mau ikut kita gak?”


“Kemana, Mon?”


“Jalan-jalan aja, Shil. Loe emang gak bosan?”


“Bosan sih. Tapi, lain kali aja deh. Oh ya, loe tahu ini gak apa?” Tanya Shishil.


“Itu isi ransel yang waktu itu kan? Kayak daun kering?”


“Ini emang daun kering. Terus buat apa’an ya?”


“Gue juga gak, tahu. Simpan aja Shil, siapa tahu ada yang punyanya lagi nyari barang itu.”


***


Siang itu Pocil dan Ramon pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa bosan. Mereka mondar-mandir memandangi padatnya kendaraan-kendaraan yang di kendarai manusia.


“Gue emang heran sama dunia manusia?”


“Heran kenapa, Cil?”


“Loe lihat aja. Jalannya sempit mobilnya banyak banget. Bikin sumpek”


“Loe emang benar, Cil. Sudah gitu, cuacanya panas banget. Gak kayak di dunia kita. Kalau kayak gini terus mending gue pulang ke dunia asal gue aja”


“Sebenarnya dari kemarin-kemarin gue juga ingin pulang. Gue kangen sama bau kemenyan. Tapi gue gak tega ninggalin si Shishil”


“Gue juga sama, Cil. Oh ya, gue haus nih”


“Kita beli minum di sana aja, Mon. Kayaknya enak. Panas-panas minum es yang dingin”

__ADS_1


Pocil dan Ramon menghampiri tukang es cendol pinggir jalan.


__ADS_2