
“Dimana mempelai wanitanya?” Tanya Penghulu. Semua setan yang hadir pada kebingungan.
“Karena mempelai wanitanya gak bisa hadir, maka pernikahan ini gak sah. Batal!”
“Shishil...!” teriak Pak Jarwo. Nenek Gayung hanya tersenyum.
Sedangkan di sisi lain. Kakek cangkul mengajak Shishil dan kedua rekannya pergi ke sesuatu tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Belakang komplek. Sesampainya di sana, hanya ada sebuah sumur tua yang menanti mereka.
“Kalian mungkin akan terancam, bila masih tinggal di dunia setan ini. saya mengenal betul watak Pak Jarwo”
“Maksud Kakek?” Tanya Shishil heran.
“Kalian harus pergi untuk sementara waktu”
“Kita harus pergi kemana, Kek?”
“Kalian harus pergi ke dunia manusia untuk sementara”
“Dunia manusia? bukannya dunia manusia itu berbeda, Kek?” Tanya Shishil.
“Dunia manusia memang berbeda. tapi sebenarnya dunia kita dan manusia sama aja”
“Cara ke dunia manusia gimana, Kek?”
__ADS_1
“Kalian masuk ke sumur ini, karena sumur ini langsung menuju dunia manusia” Jelas Kakek cangkul.
“Kok, bisa sih?”
“Ini tempat, gak sengaja Kakek yang menemukannya” Setelah pemikiran yang matang, akhirnya Shishil menyetujui saran Kakek cangkul itu.
“Loe yakin, Shil. Mau pergi ke dunia manusia?”
“Gak ada pilihan lain, Cind. Kalau gue masih di sini gue pasti di nikahin paksa lagi sama si Pocong cupu itu. Mungkin di dunia manusia gue juga bisa ketemu sama cowok yang gue idam-idamkan selama ini”
“Yaudah kalau gitu kita berangkat sekarang” Ujar Ramon.
“Tapi, Shil. Gue ga bisa ikut”
“Kenapa, Cind?”
“Thanks ya, Cind. Gue akan slalu ingat jasa loe”
“Kamu gak usah khawatir, teman kamu akan tinggal bersama Kakek, dia akan aman. kalian harus cepat pergi.”
“Tolong ya, Cil, Mon. Jaga si Shishil”
“Oh ya. Sesampainya kalian di dunia manusia, kalian harus pergi ke alamat yang sudah Kakek tanda tangani ini” Ucap Kakek Cangkul sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat.
__ADS_1
“Ini alamat siapa, Kek?”
“Nanti kamu juga akan tahu!” Akhirnya malam itu Shishil, Pocil dan Ramon pergi menuju dunia manusia. Satu persatu mereka lompat kedalam sumur tua itu. Tak lama setelah mereka melompat, keanehan pun terjadi. Mereka sampai di dunia manusia. Pertama-tama Shishil muncul dari dalam sumur, di susul Pocil dan Ramon. Tampilan mereka sudah tak seperti Kunti dan Pocong lagi, melainkan seperti manusia. Mereka memakai baju dan celana jeans serba hitam.
“Apa ini dunia manusia?” tanya Shishil terheran-heran.
“Kok, gue gak pake kain kafan lagi, tangan gue bebas. Kaki gue bebas. Gue cinta dunia manusia....” Ujar Ramon bahagia.
“Eh, tapi kita dimana, Mon?”
“Ya di dunia manusia, Shil”
“Maksud geu tempat ini, gue baru pertama kali lihat tempat kayak gini?”
“Ini namanya pemakaman, Shil. Kalau di dunia kita, tempat ini ya komplek perumahan dimana kita tinggal. Loe lihat aja. Itu jalan keramat. Yang itu jalan melati. Nah di ujung sana jalan anggrek dimana loe tinggal Shil”
“Oh, gitu. Gue benar-benar ga nyangka, Cil. Dunia manusia itu aneh tapi jalannya mirip sama jalan di komplek kita”
“Kan sudah dibilangin sama Kakek gue, dunia kita dengan dunia manusia saling terhubung satu sama lain.”
“Terus, sekarang kita mau kemana. Gue gak pernah ke dunia manusia?” Tanya Shishil.
“Gue juga gak pernah, Shil.”
__ADS_1
“Yaudah mending sekarang kita cari alamat yang di kasih sama Kakek gue aja, Shil. Oh, ya. Nanti, kalau sudah di kota jangan kaget ya. Dunia manusia itu amazing” Papar Pocil.
Shishil, Pocil dan Ramon memutuskan untuk mencari alamat yang di berikan oleh Kakek Cangkul. Mereka bergegas pergi meninggalkan pemakaman menuju kota .Namun, ketika sampai di tengah kota mereka sangat heran, karena banyak gedung-gedung pencakar langit, sangat berbeda dengan dunia setan yang selama mereka huni.