
Satu hari,dua hari,dua minggu berlalu.Tetapi dalam rumah tangga Zira dan Aydan belum lengkap karena Aydan belum juga menyentuh (menjadikan Zira istri seutuhnya) karena Aydan sangat paham kalau istrinya ini belum siap untuk ia sentuh.
- Di kamar Aydan dan Zira -
Pagi hari yang cerah.
Aydan bersiap-siap untuk mengajar dipondok kembali,ia juga di bantu bersiap oleh Zira.
"Gus,apa ada yang harus saya siapkan lagi" ucap Zira yang sedang menyiapkan pakaian Aydan.Sedangkan Aydan sedang mandi.
Aydan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sepinggang dan terlihat oleh Zira tubuh yang begitu atletis menghampiri Zira.
Kini tubuh mereka hanya berjarak satu jengkal saja,dan mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka.Jarak yang begitu dekat membuat Zira merasakan sesak didadanya.
Aydan yang memiliki tinggi 173cm dan Zira yang hanya memiliki tubuh mungil 155cm membuat Aydan harus menunduk untuk berbicara pada Zira.
"Sampai kapan kamu panggil aku Gus?" bisik Aydan pada telinga kanan Zira.
"Eu-hh..Gus,saya tidak nyaman" Zira malu karena mereka berbicara hanya berjarak satu jengkalsaja.
Aydan memundurkan satu langkahnya membuat Zira sedikit tenang dan tidak gelagapan.
"Sekarang kamu panggil saya 'mas atau sayang' dan kita berbicara seperti sepasang suami-istri,tidak berbicara formal seperti yang biasa kita ucapkan" ucap Aydan.
"Saya belum terbiasa Gus" ucap Zira menunduk.
"Mulai sekarang cobalah biasakan,kalau tidak saya akan memberi hukuman kecil untuk mu" ancam Aydan dengan tersenyum tipis.
Sebenernya Aydan sangat tidak suka dan merasa risih ketika mereka berbicara tidak seperti pasangan suami-istri pada umumnya.
"Baik Gus akan saya usahakan " ucap Zira.
"Ups! aku keceplosan " batin Zira sambil menutup mulut dengan tangannya.
Aydan tersenyum karena ini adalah hukuman pertama darinya bagi Zira.Ia menyingkirkan tangan Zira dari mulutnya dan mengecup bibir yang indah itu.
Cup.
Zira mematung sejenak karena ia merasakan kecupan yang singkat itu dan rasanya jantungnya akan meledak.Sedangkan Aydan melangkah kan kakinya memakai pakaian dirinya.
Zira masih saja mematung,sehingga ketika Aydan sudah memakai pakaian nya dan siap mengajar,Aydan menyadarkan Zira.
"Sayang,kenapa kamu masih melamun?" ucap Aydan.
"Euu-hh..tidak apa-apa" Zira tersadar dan menyadari bahwa dirinya dalam lamunan yang bergitu lama.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Aydan lagi.
"I-ya,iyaa a-aku tidak apa-apa" Zira mengubahnya karena ia takut terkena hukuman yang bisa saja menjadi lebih.
"Baiklah.Ayo turun kita sarapan,yang lain pasti sudah menunggu" ucap Aydan.
Zira mengangguk dan mengikuti Aydan untuk sarapan bersama keluarga Kyai Abdullah.
*****
Setelah selesai sarapan,Aydan pamit kepada Zira.
"Sayang,mas pergi ngajar dulu ya" ujar Aydan.
"Padahal kan ngajarnya masih di pondok" batin Zira dengan tersenyum.
"Iya mas! semangat ngajarnya" Zira dengan memberikan senyuman manis pada Aydan.
Aydan meninggalkan rumah,dan Zira memilih untuk membantu Umi Siti yang sedang membereskan sisa sarapan tadi di dapur.
"Menantu,Alhamdulillah sekarang kamu sudah betah ya disini" ucap Umi Siti kepada Zira.
"Alhamdulillaah ummi heheh" jawab Zira.
Setelah selesai membantu Umi Siti,Zira pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Iya,nanti siang ummi panggil kamu lagi buat bantu menyiapkan makan siang" ujar Umi Siti.
"Baik ummi" ucap Zira.
Zira kembali kedalam kamarnya,ia kangen Rania dan Lulu sahabat nya dan berisiniatif untuk menghubungi mereka melalui video call.
-Panggilan terhubung-
[Assalamualaikum] ucap Zira.
[Waalaikumsalam Ra] jawab mereka.
[Kamu pindah ke sana udah berapa minggu Ra?kebiasaan deh,ngasih tau kitanya pas udah terjadi!] tanya Rania.
Lulu dan Rania belum mengetahui bahwa Zira pindah sudah lumayan lama,tetapi Zira meyakinkan bahwa dirinya tidak akan melupakan sahabatnya itu
[Alhamdulillaah udah sekitar satu bulan heheh] ucap Zira.
[Maaf ya aku jarang ngasih kabar kalian,aku megang hp sesekali soalnya kalau ada Mas Aydan aku ga boleh pegang hp] lanjutnya.
__ADS_1
[Ciee...ciee yang udah pake panggilan kesayangan] celetuk Lulu.
[Apaan sih kamu Lu] Zira memalingkan wajahnya agar tidak terlihat dilayar karena mukanya memerah merona.
[Ehh,kenapa ga boleh pegang hp?kamu pasti bosen disana] ucap Rania.
[Nggak kok,aku disini bantu ummi,trus ngobrol-ngobrol sama adiknya Mas Aydan,jadi waktunya ga kerasa banget heheh] ucap Zira.
[Wahh..wahh sahabat kita ini udah menjadi kesayangan mertuanya nih pasti] ledek canda Lulu.
[Heheheh..] Mereka terkekeh dengan ucapan Lulu.
Mereka melanjutkan obrolannya,sehingga tak terasa sudah 1jam lebih mereka mengobrol.Zira yang merasa tidak enak hati pada ummi siti karena sudah memanggilnya pun mengakhiri obrolannya.
[Gaess...udahan dulu ya,mau bantu nyiapin makan siang] ucap Zira.
[Oke deh Baik-baik ya kamu disana.Jangan lupain kita!]
[Iya! jangan lupa in kita!]
[Iya-iyaa sahabat-sahabat ku yang bawelnya minta ampun,byee..."Assalamualaikum"] Zira.
[Waalaikumsalam] jawab mereka.
-Panggilan berakhir-
*****
-Dapur rumah Kyai Abdullah-
"Ummi,ummi sekarang kita mau masak apa?" basa-basi Zira.
"Kita masak sayur sup ayam pedas kesukaan suami kamu" jawab Umi Siti.
"Kamu tolong potong-potong sayurnya bersama Alma" pinta Umi Siti.
"Baik ummi" Zira melihat adik iparnya sedang memotong sayur untuk membuat sayur sup ayam.
Zira menghampiri Alma dan duduk disebelahnya.
"Dek,apa yang bisa kakak bantu?" tanya Zira pada Alma.
Sebelumnya mereka memang sudah sepakat untuk memanggil sebutan itu.Kakak untuk Zira,dan Adek untuk Alma.Walau pun usia Zira lebih tua 1tahun dari Alma.
"Kakak tolong potong-potong wortel ini ya,aku mau potong-potong dadu ayamnya" Alma dan memberikan beberapa potong wortel.
__ADS_1
Zira,Alma dan Umi Siti melanjutkan memasak di dapur.