
Disisi lain,barang-barang yang dibawa oleh Zira memang sudah berada di tangan Devan,termasuk dengan ponsel milik Zira.
Devan masih menemani Zira yang masih saja menangis dan murung didalam gudang dan tidak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan oleh Zira.
Drtt drtt drtt
Suara ponsel milik Zira berbunyi.
Zira dan Devan menyadari suara tersebut,Zira sangat ingin mengambil ponsel miliknya tetapi itu mustahil karena ponselnya diberada pada Devan.
"Semoga saja itu dari Mas Aydan" batin Zira.
"Devan,ponselku berbunyi,aku ingin mengangkatnya" gumam Zira dan berusaha mengambil ponselnya.
Devan melihat kearah ponsel Zira dan tertulis nama kontak " Suami" Devan sebenernya cemburu tetapi ia bisa menyembunyikannya dari Zira.
"Diam Zira!,biar aku saja yang angkat!" ucap Devan.
Devan mengangkat panggilan tersebut.
-Panggilan terhubung-
[Assalamualaikum...Zira] ucap Aydan.
Tidak ada balasan dari lawan suara.
[Zira...] ucap Aydan lagi.
[Zira,ini Mas.Kamu kemana?Kamu dimana?biar mas jemput] Aydan dan panik.
Zira tidak mendengar panggilan itu karena Devan beranjak menjauhi Zira untuk mengangkat panggilannya.
Terdengar suara tertawa dari seorang pria yang mengangkat panggilan tersebut tidak lain adalah Devan.
[Hahaha...Kamu adalah suami dari Zira Alifia bukankah itu benar?!] balas Devan.
__ADS_1
Disisi lain,Aydan yang terkejut karena yang mengangkat telponnya bukan Zira,melainkan seorang pria yang ia tidak kenali suara itu.
"Ada apa Aydan?" ucap Zidan.
Aydan sedikit menjauhkan ponsel miliknya dan berbisik pada Zidan.
"Yang mengangkat telponnya bukan Zira,Bang" bisik Aydan.
"Coba kamu tanya dahulu dia siapa,dan apa mau dia" ujar Zidan pada Aydan.
Sedangkan yang lainnya sedang memperhatikan gerak-gerik dari Aydan dan Zidan dengan kebingungan.
[Ya itu benar.Siapa anda?dan dimana istri saya] jawab Aydan.
[Kau tidak perlu khawatir istrimu ada bersamaku] ucap Devan.
Zidan yang ingin mendengar siapa yang sedang ditelpon Aydan itu segera mengambil ponselnya milik Aydan.
[DIMANA ADIKKU!CEPAT BERI TAHU!!] teriak Zidan
[Waww...Tenang bang Zidan,apa kau masih mengingatku] balas Devan.
[Devan,apa maumu!] ujar Zidan.
[Hahaha...eumm apa mauku?]Devan dengan sedikit seperti memikir.
[Aku hanya ingin mendapatkan Zira untukku dan hanya untukku,tidak untuk orang lain!] lanjut Devan yang memang dirinya ingin merebut kembali Zira dari suaminya,Aydan.
[APA?!Apa kau tidak waras Devan?Zira sudah memiliki suami] jawab Zidan.
[Ya memang aku sudah tidak waras sampai-sampai rasanya ingin segera menikah dengan Zira] ucap Devan.
[DEVAN!! kau memang benar-benar sudah tidak waras,sekarang juga kembalikan Zira!] pekik Zidan.
[kalau begitu,urus perceraian mereka jika Zira ingin kembali] jawab santai Devan.
__ADS_1
[Aku akan memberi alamat rumahku di message] Devan mengakhiri panggilan.
Deg!
Tut tut tuut
-Panggilan berakhir-
Zidan merasa lemas dengan apa yang dikatakan Devan tadi,ia bahkan masih dalam lamunan kosong.
"Ada apa Zidan?" Pak Hadi menyadarkan Zidan dari lamunan.
"Pah..Devan,ia ingin mengambil Zira dari Aydan,Devan ingin menikah dengan Zira" ucap Zidan
"Dan jika Zira ingin dikembalikan,kita harus mengurus perceraian Zira dan Aydan" lanjutnya lagi.
Deg!
Sontak kedua keluarga itu saling beradu pandang akan ucapan yang keluar dari Zidan.
"Apa?!anak itu sudah benar-benar keterlaluan!" gumam pak Hadi.
"Pah..Zira dalam bahaya pah" lirih Bu Hani yang dari masih menangis.
"Mamah tenang dulu mah,papah akan menemui Devan terlebih dahulu" ucap Pak Hadi.
"Astaghfirullah.." istighfar Kyai Abdullah yang juga mengkhawatirkan menantunya itu.
"Astaghfirullah..Zira,maafkan mas karena gak bisa jaga kamu" batin Aydan.
...****************...
HI GUYS!
Terimakasih ya sudah membaca novel ini,semoga kalian suka dengan alur ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa like setiap chapternya dan follow author♡︎
Jika ada saran atau kritik,boleh komen aja ya hehe