
"Memang apa yang kamu ingin kan sebelum menikah?" tanya Aydan lagi.
"Saya ingin pergi ke Turki mandiri Gus" jawab Zira.
Ya,memang benar kalau dirinya ingin pergi tour ke Turki seorang diri,akan tetapi kini keinginannya itu sudah gugur.
"Kasihan Zira,karena saya dia ngga bisa pergi untuk mewujudkan keinginannya." gumam Aydan dalam hati.
"Ah,tapi tidak apa saya juga sudah ikhlas kok gus heheh" Zira melihat Aydan yang sedang melamun.
"Alhamdulillaah,kamu gak marah kan sama saya?" tanya Aydan lagi.
Zira menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ngga kok gus,saya ga marah,untuk apa juga saya marah hanya karena mewujudkan keinginan saya" jawab Zira
Dari hati yang paling dalam Zira memang kesal dengan apa yang terjadi dengannya,tapi apa boleh buat?semua sudah takdirnya.
"Maafkan saya jika saya sudah merusak dan menghancurkan keinginanmu" ucap Aydan
Zira mengangguk,sebenernya Aydan tidak perlu meminta maaf karena memang ia tidak salah,tetapi ia hanya merasa bersalah.
"Saya mau mandi dulu gus" ucap Zira selesai membereskan alat sholat nya.
Aydan mengiyakan ucapan Zira karena dirinya sudah mandi terlebih dahulu sebelum sholat.
*****
-Dapur rumah Pak Hadi (06:30)-
Bu Hani sedang menyiapkan sarapan.Kalau ditanya apa tidak ada pelayan?Ya,memang tidak ada pelayan dirumah Pak Hadi.Karena semua pekerjaan rumah murni dikerjakan oleh Bu Hani juga Zira.
"Mah,ada yang bisa Zira bantu?" tanya Zira.
__ADS_1
"Kamu bantu siapin ini di meja makan dek" Bu Hani menyerahkan mangkuk besar yang berisi nasi goreng.
Zira mengangguk dan mengambil mangkuk itu dari tangan ibu nya dan menyimpan nya di meja makan dekat dapur.
Sementara itu Pak Hadi datang dan duduk di meja makan sambil menunggu yang lain datang.
"Dek,tolong kamu ajak Aydan kesini,biar kita sarapan bareng.Sekalian ajak abang kamu juga" pinta Pak Hadi.
"Iya pah" jawab Zira.
Hari ini Zira sudah menerima pernikahannya.Ia tidak mau terus menerus merenung akan hal ini dan juga ia sadar akan apa yang telah ayahnya lakukan itu untuk dirinya.
Zira menaiki anak tangga untuk ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Zidan terlebih dahulu.
Tok tok tok...
"Bang sarapan dulu" ujar Zira.
"Iya dek,bentar abang tinggal pake dasi nanti nyusul kebawah" jawab Zidan.
Dibukanya pintu kamarnya.
Klek.
Zira terhenti akan hendak masuk karena mendengar suara murajaah yang dilantunkan oleh Aydan.
"Masyaallah...suaranya merdu sekali" batin Zira.
Aydan yang merasa ada yang masuk ke dalam kamar,ia menyudahi murajaah nya.Dan melihat siapa yang datang.
"Zira ada apa?" tanya Aydan
"Gus mari sarapan bersama dibawah,papah ajak sarapan bersama" ajak Zira.
__ADS_1
"Ohh ya" Aydan mengekori Zira dari belakang.
Di meja makan sudah ada Pak Hadi,Bu Hani juga Zidan.
"Ciee pengantin baru nih,gimana malam pertamanya" tanya Zidan dengan usil.
Semua mata tertuju pada Zidan yang menanyakan hal yang membuat pengantin baru malu.
"Apaan sih bang,ga lucu tau" jawab Zira dengan kesal.
"Ya kan abang cuman nanya aja,gitu aja kamu marah dek" jawab Aydan.
"Tapi kamu ga seharusnya nanya gitu zid" tegur Bu Hani dengan menyikut pada Zidan.
"Okedeh maaf ya Aydan" maaf Zidan hanya pada Aydan.
"Iya tidak apa-apa bang"
"Yehh abang cuman minta maafnya ke Gus Aydan doang?ke aku nggak?" ujar Zira yang tambah geram dengan kakaknya.
"iya deh iya,maafin abang"
Mereka terkekeh dengan sikap Zidan yang aktif.
Tiba-tiba Pak Hadi menanyakan pertanyaan pada Aydan.
"Menantu,kapan kalian akan kembali ke pondok?"
"Saya akan bawa Zira sampai Zira siap untuk saya bawa kerumah pah" jawab Aydan.
Zira dan Aydan memang belum bertanya satu sama lain tentang Aydan yang kan membawa Zira ke kawasan pondok tempat Aydan tinggal.
"Seharusnya kalian bicakan dulu tentang ini" saran Pak Hadi.
__ADS_1
"Iya pah" jawab Zira dan Aydan.
Mereka menyelesaikan sarapan dengan obrolan hangat,setelah itu Pak Hadi dan Zidan akan pergi ke kantor milik pak Hadi.