Gus Tampan Untuk Zira

Gus Tampan Untuk Zira
Sangat Terkejut!


__ADS_3

"Aduhh..aku kan tadi di suruh sama mamah,kok bisa lupa" lirih Zira


Zira lupa dengan ucapan ibu nya yang tadi menyuruhnya untuk mengobrol,dikarenakan ada kejutan yang dibuat kakak nya


"Sebaiknya aku temui mamah dulu deh biar ga penasaran mamah mau ngobrolin apa" ucap Zira sembari bergegas untuk menemui ibu nya


*****


Zira tiba menemui ibu dan ayah yang masih ada di ruang tamu sedang duduk di sofa.


"Maaf mah tadi Zira dikejutin sama Bang Zidan jadi baru kesini" ucap Zira


"Iya gapapa dek,sini duduk dekat mamah" ucap Bu Hani


Zira duduk di samping Bu Hani sedangkan Pak Hadi berada di sisi lain nya.


"Kira-kira ada apa nih mamah sama papah tumben nyuruh aku ngobrol serius gini" ucap Zira


"Sebelumnya papah dan mamah mau ngucapin selamat ulang tahun yang ke 20 buat kamu dek,ternyata anak papah udah bertambah dewasa saja nih" ucap Pak Hadi


"Iya pah,terimakasih juga papah dan mamah udah ngerawat Zira sampai saat ini" ucap Zira


"Mah ini mau langsung ke inti nya aja?" ucap Pak Hadi


"Iya pah,dari pada nanti papah jadi gak enak hati sama Pak Abdullah" ucap Bu Hani


Zira tampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orangtuanya.


"Sebenernya apa sih yang mau mamah sama papah mau bicarain?"


"Jadi gini Zira,kamu mau di jodohin sama anaknya Pak Abdullah pemilik pesantren yang ada ditempat waktu kita belum pindah ke sini" ucap Pak Hadi

__ADS_1


"APAA?!!" Zira terkejut setengah mati karena ucapan ayahnya.


"Iya dek,kamu mau kan?sebenernya papah sama Kyai Abdullah itu bersahabat,dan itu menjadi salah satu cara agar menjadi kerabat yang sangat dekat dengan menghubungkan kedua keluarga"


"Tapi kenapa harus aku yang dijodohin pah?" ucap Zira tertunduk sedih


"Ya karena kamu adalah putri papah satu-satunya,sedangkan Zidan abang kamu sendiri laki-laki" ucap Pak Hadi


Zira sebenernya tidak setuju dengan perjodohan ini,tetapi dia tidak bisa menolak akan apa yang sudah diputuskan oleh kedua orangtuanya.


Zira terdiam bisu dalam obrolan dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar Zira.


Suara tangisan yang begitu terisak terdengar sangat jelas dan itu adalah tangisan pecah dari bendungan air mata Zira.


"huhuhu...kenapa harus aku"


*****


FLASHBACK,


Pagi dimana Zira belum diberi tahu bahwa dirinya akan dijodohkan.Pak Hadi menelpon sahabat dekatnya Kyai Abdullah.


-Panggilan terhubung-


"Assalamualaikum Kyai,bagaimana kabar mu?" tanya Pak Hadi dalam telpon


"Waalaikumsalam Hadi,Alhamdulillah aku baik,bagaimana kabarmu sekarang ini?.Dan kamu ini seperti bersama siapa saja aku ini sahabatmu bukan,panggil saja aku Abdul dan itu sudah aku jelaskan dari dulu" ujar Kyai Abdullah


"Hheheh...,Alhamdulillah kabarku juga baik,aku ingin berbica serius denganmu Abdul." ucap Pak Hadi

__ADS_1


"Iya iya silahkan bicara saja" ucap kyai Abdullah


"Aku ingin kita menjadi keluarga,bisakah kita jodohkan anakmu Aydan dengan putriku Zira?" tanya Pak Hadi


"Wahh ternyata kebetulan sekali,beberapa hari kebelakangan ini aku memikirkannya,dan ternyata kamu yang pertama berbicara akan hal ini"


"Jadi bagaimana mana,apakah kita langsungkan saja perjodohan nya?" tanya Pak Hadi lagi.


"Iya secepatnya kita jodohkan anak-anak kita,lebih cepat lebih baik" ucap Kyai Abdullah.


"Iya nanti aku akan kabarkan lagi,aku akan memberi tahu dahulu kepada putriku" ucap Pak Hadi dengan sangat yakin karena dirinya lah yang sangat menginginkan Zira menikah dengan Ayden putra sahabatnya itu.


"Aku juga akan berbicara terlebih dahulu dengan Aydan,Assalamualaikum.." ujar Kyai Abdullah


"Baiklah,Waalaikumsalam" jawab Pak Hadi


-Panggilan terputus-


*****


Zira terbangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh nya.Zira melihat kantung matanya yang bengkak karena tangisannya tapi dia tidak memperdulikannya karena baginya ini tidak seberapa dengan apa yang dia akan alami kedepannya.


Setelah menunaikan ibadahnya,Zira berdoa terlebih dahulu.


"Ya Allah,aku meminta yang terbaik untukku untuk apa yang aku akan alami kedepannya" ucap do'a Zira.


Zira terlahir di keluarga yang cukup mengenal agama,Zira pun sudah diajarkan berhijab dari ia masih kecil.


Tok tok tok


"Dek ayo turun kita sarapan bersama,yang udah menunggu" ucap Bu Hani.

__ADS_1


"Iya mah" Zira pun bergegas untuk menuju ruang makan.


__ADS_2