
Keesokan harinya.
-Di gudang Devan-
Zira menangis semalam,ia tidak henti-hentinya meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa.
Digudang itu ia sendirian dan matanya ditutup oleh kain juga tangan dan kakinya yang diikat oleh tali.Pagi hari Devan melihat Zira ke gudang ia juga membawakan sarapan untuk Zira.
Klek.
Pintu di buka oleh Devan.
"S-siapa?!" tanya Zira yang matanya masih ditutup kain.
Devan mendekati Zira dan membukakan kain dimatanya itu.
"Selamat pagi Zira,wajahmu sangat cantik" ucap Devan dan mengusap pipi Zira dengan satu tangannya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Zira dengan sedikit menjauhkan wajahnya.
"Kenapa Zira?kenapa kau menjadi takut kepadaku?aku tidak melakukan apapun kepadamu aku hanya ingin kau menjadi milikku" ucap Devan
"Devan,tolong lepaskan aku" ucap Zira dengan menangis.
"DIAM!" Teriak Devan.
Zira menangis sejadi-jadinya.
"Eu-uhh sudahlah Zira,jangan terus menangis"ucap Devan menenangkan Zira.
"Ini aku bawakan sarapan untukmu,makanlah" perintah Devan.
__ADS_1
Zira masih saja diam dan tertunduk tidak ingin melihat kearah Devan yang berada di depannya.Devan yang menyadari tangan Zira yang masih di ikat pun berisiniatif untuk menyupi Zira,tetapi Zira yang merasa kesal kepada Devan menolaknya.
"Ayo buka mulutmu Zira" Devan dengan sendok makanan yang berada ditangannya.
"Tidak!,aku ingin makan sendiri saja" ucap Zira.
"Kau tidak mau makan?kau tidak lapar Zira" tanya Devan.
Zira yang memang merasa lapar karena tidak makan apa-apa dari semalaman dan tenaganya sudah habis akibat tangisan semalamannya hanya bisa pasrah.
"Devan aku hanya ingin makan dengan tanganku,kenapa kau melarangku?" Zira yang kesal karena tidak diperbolehkan makan dengan tangannya yang diikat.
"Yasudah kalau begitu,aku akan menemanimu makan" ucap Devan dengan membuka ikatan tali yang mengikat tangan Zira.
Zira mengambil makanan itu dan menghabiskannya di depan Devan.
Sebenarnya memang Devan ingin membalaskan dendamnya kepada Zira dengan menyiksanya dalam tahanannya,tetapi setelah bertemu dengan Zira ia merasakan masih ada rasa cintanya kepada Zira yang membuatnya kasihan jika Zira ia siksa dalam tahanannya itu.
-Pesantren Al-Kautsar-
Disisi lain Aydan merasa panik juga khawatir dan sedih karena tidak menemukan Zira,ia masih belum tidur karena memikirkan keadaan istrinya yang hilang entah kemana.
Pondok pesantren pun ikut gempar atas hilangnya Zira.Sudah dari semalaman pencariannya tetapi tidak ada hasil.Keluarga Zira juga belum pulang karena khawatir dengan Zira.
-Diruang keluarga Kyai Abdullah-
"Bagaimana Aydan,apa sudah ada kabar tentang Zira?" tanya Kyai Abdullah.
"Belum Abah,Aydan belum ada kabar tentang Zira" jawab lesu Aydan.
"Astaghfirullah..."
__ADS_1
"Pahh..hiks,Zira pah..hiks" tangisan isak Bu Hani.
"Mamah tenang dulu mah,Zira insyaallah bakalan ketemu" Pak Hadi menenangkan istrinya.
"Bagaimana kalau kita laporkan kepolisian" saran Zidan.
"Iya bang,sebaiknya memang harus diselidiki oleh polisi" ucap Aydan.
tiba-tiba Alma masuk kedalam ruang keluarga dengan tergesa-gesa.
"Assalamualaikum.." ucap Alma dengan nafas tersengal-sengal.
"Waalaikumsalam" ucap mereka.
"Alma,kemari nak" gumam Umi Siti.
Alma duduk disamping Umi Siti dan memberi kabar yang ia dapatkan dari beberapa santri dan santriwati yang melihat Zira.
"Umi,umi katanya pas malem itu kak Zira dibawa masuk ke dalam mobil sama dua santri" ucap Alma.
"Apa?kamu kata siapa dek?" tanya Aydan.
"Iya bang,ada santriwati yang ngasih tahu ke Alma.Katanya kak Zira memang dibawa masuk kedalam mobil warna item" jelas Alma.
"Astaghfirullah..Zira" gumam Aydan.
"Bang Zidan,apa saya bisa bicara?" ucap Aydan yang ingin berbicara 4mata dengan Zidan.
"Silahkan" Zidan dengan mengikuti Aydan.
Mereka mengobrol diteras depan rumah,Aydan ingin membicarakan tentang masalah Zira.
__ADS_1
"Bang apa semasa Zira sebelum menikah dengan saya ada orang lain yang ada dihidup Zira? tanya Aydan the point.