Gus Tampan Untuk Zira

Gus Tampan Untuk Zira
Hanya Mengantar


__ADS_3

Kini yang berada didalam kamar hanya ada sepasang suami-istri.


"Zira,Maafkan mas" Aydan memecahkan keheningan.


"Aku mau pulang ke rumah papah.Mas" lirih Zira yang enggan menatap suaminya.


"Tapi ini sudah malam,besok aja ya?" bujuk Aydan,karena memang sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam,dua jam perjalanan untuk menempuh rumah Pak Hadi dari pondok pesantren.


"Kalau mas gak mau nganter gak apa-apa,aku bisa sendiri" ucap Zira.


"Zira!"


Aydan menghela nafas panjang.


Aydan terhentak oleh ucapan istrinya,perihalnya kalau Zira pulang sendiri ia pasti akan sangat mengkhawatirkannya.Terlebih lagi pasti istrinya ini masih marah padanya buktinya Zira masih tidak menetap wajahnya ketika berbicara.


"Ya sudah,Mas akan anter kamu" jawab Aydan.


Klek


Pintu kamar terbuka.


Dilihat mereka,Umi Siti membawa 1 cangkir yang akan diberikan pada menantunya.


"Sayang,minum ini" Umi Siti memberikan cangkir tersebut.


"Terimakasih Ummi" Dibalas dengan senyuman mertuanya.


Setelah melihat menantunya meminum teh yang diberikannya,Umi Siti meninggalkan kembali kamar itu.


Zira sedikit lebih tenang dari sebelumnya,wajahnya sudah tidak pucat pasi seperti sebelumnya.


Zira bangkit dari ranjangnya dan membenahi kembali pakaian-pakaian yang ia akan bawa untuk pulang ke rumah Papahnya.


Tapi ada yang membuat Aydan heran,Zira membenahi pakaiannya sangat banyak,sampai 1 kantong besar penuh terisi.


"Sayang,kenapa membawa pakaian banyak sekali?berapa hari akan menginap disana?" tanya Aydan.

__ADS_1


"Nggak tau" singkat Zira.


Aydan mengambil nafas panjang kembali.


Mungkin pakaian yang dibawa Zira untuk 1 Minggu kedepan,tetapi Aydan juga ingat bahwa dirinya juga akan meminta izin pada istrinya karena ada jadwal untuk membina santri dan santriwati yang akan mengikuti lomba di luar pulau yang mungkin akan menghabiskan waktu sekitar 4hari.


'Sebaiknya aku bicarakan ini nanti di perjalanan ke rumah papah' batin Aydan.


"Ayok mas,Zira sudah siap" lirih Zira dengan membawa tas berukuran besar ditangannya.


Aydan dan Zira turun ke lantai bawah untuk meminta izin pada Umi dan Abah.


"Abah,Umi,Zira izin ke rumah Papah" izin Zira dengan mengecup punggung tangan mertuanya.


Abah dan Umi sangat dikagetkan dengan tas yang dibawa oleh menantunya,itu tas bukan tas yang hanya berisi dua atau tiga pakaian.


"Nak..Zira pulang lagi kesini kan?" tanya khawatir Umi Siti.


Dibalas anggukan kepala Zira.


"Besok atau lusa,sayang?" tanya Umi Siti lagi.


"......" hening,tidak ada jawaban.


"Umi,Zira bolehkan nginep dirumah papah untuk beberapa hari?soalnya Zira kangen sama Papah Mamah Zira" ucapnya.


Umi Siti menatap Kyai Abdullah untuk meminta izin pada suaminya itu.Lalu dibalasnya anggukan tanda boleh oleh Abah.


"Baiklah,tapi Zira disana harus jaga kesehatan ya.Apa lagi akhir-akhir ini Zira suka sakit,Umi mengkhawatirkan Zira" ucap Umi Siti.


"Iya Ummi insyaallah,terimakasih sudah mengkhawatirkan Zira" Zira lalu memeluk Umi Siti dan pamit.


"Assalamualaikum" salam Zira dan masuk kedalam mobil yang disana Aydan sudah menunggunya.


"Waalaikumsalam"


*****

__ADS_1


Ditengah perjalanan,hanya keheningan yang ada.Baik Zira ataupun Aydan memilih untuk diam,Walau didalam hati masing-masing tidak merasa nyaman dengan keadaan ini.


"Zira..Maafkan mas atas kejadian tadi,Mas janji gak bakalan mengulangnya lagi" ucap Aydan memecahkan keheningan yang ada.


"Kamu masih marah sama Mas?" tanyanya lagi sambil menyetir mobilnya.


Zira menggelengkan kepalanya.


"Aku gak marah sama Mas" gumam Zira.


'Aku sebenernya kecawa sama kamu,tapi dengan polosnya Mas malah bertingkah polos di depan aku' batin Zira.


"Alhamdulillah..Mas minta maaf sekali lagi"


"Besok Mas izin mau mendampingi santri dan santriwati yang ikut lomba ke Aceh,mungkin untuk 3 atau 4 hari kedepan Mas belum bisa jemput kamu,tapi Mas usahain kabarin kamu melalui ponsel" tambah Aydan.


Zira lalu menatap suaminya dengan perasaan bertanya-tanya.


'Apa ini hanya akal-akalan Mas Aydan?'


'Apa Mas Aydan memang menjalin hubungan dengan wanita itu?' batin Zira


Entah karena ia sedang sensitive karena sedang hamil,entah karena sudah salah paham pada suaminya sendiri.Ia menjadi sangat overthingking.


"Ohh iya,Mas gak apa-apa" lirih Zira.


Sebenarnya Zira masih sangat takut dan trauma didekat Aydan atas insiden yang menimpa nya beberapa lalu tadi.


Saat Aydan melayangkan tangannya ke atas,itu yang membuatnya takut.


...----------------...


-Berawal Kebencian Menjadi Cinta (Ongoing)


Jangan lupa like setiap part dan follow author sebagai dukungan ✨


Jangan lupa kritik dan sarannya boleh dikomen

__ADS_1


__ADS_2