Gus Tampan Untuk Zira

Gus Tampan Untuk Zira
Terluka


__ADS_3

Disisi lain,Devan kembali menemui Zira digudang.


"De-Devan siapa yang menelepon?" tanya Zira.


"Bukan siapa-siapa,tidak penting" balas Devan.


Zira tidak percaya dengan ucapan Devan.


"Aku tidak mau disini,aku ingin pulang" lirih Zira.


"Baiklah Zira,aku akan memindahkan mu,tapi tidak dengan memulangkanmu!" Devan dengan membuka penutup mata Zira.


"Devan kenapa kau jahat,kenapa kau menjadi seperti ini,tidak seperti Devan yang aku kenal di sekolah tempo dulu,Kak Devan kakak kelasku yang aku kenal baik dan sangat ramah" jelas Zira menatap Devan dengan tatapan yang sedih.


"Itu bukan urusanmu!,dan dengar aku disini hanya ingin melihatmu tidak berbahagia karena kau telah membuat ibuku meninggal" ucap Devan.


"Devan,sudah aku bilang,aku tidak membuat ibumu meninggal,itu semua sudah takdir" balas Zira.


"Hahaha...ya memang itu benar,semua itu sudah takdir dan kau juga harus ditakdirkan bersamaku Zira" ujar Devan.


"Dan satu lagi.Orang tuamu akan datang kemari dan menikahkan kita,untuk masalah perceraianmu dengan suamimu itu akan segera diselesaikan" lanjutnya.


Deg!


Rasanya Zira seperti disambar petir disiang bolong,ia tidak mau bercerai dengan Aydan.


"Maaf Devan,aku tidak mencintaimu lagi,aku hanya mencintai suamiku,dan itu sangat sulit aku menerimamu" lirih Zira dengan mata berkaca-kaca kembali.


"Zira...Zira,masalah cinta itu tidak penting!bagiku kau hanya untukku!dan kau harus menikah denganku" balas Devan.


"Aku tidak mau,dan selamanya tidak mau!" teriak Zira.


"Wahh...beraninya kau berteriak padaku Zira,jika kau memilih mau atau tidak pun,aku akan tetap menikahi mu!"


Setelah itu Devan menarik paksa Zira untuk ikut masuk kedalam rumahnya yang mewah, sebelumnya ikatan tali yang mengikat Zira sudah Devan lepas.Ada beberapa kamar disana dan Zira di masukkan kedalam kamar tamu yang berada di dekat pintu masuk.


"Kevin!" teriak Devan.


Asisten pribadi Devan pun menghampiri Devan.

__ADS_1


"Ya tuan?'' tanya Asprid nya.


"Atur penjaga untuk menjaga kamar ini" ucap Devan setelah mengunci pintu kamar itu.


"Baik Tuan"


*****


Didalam kamar itu,Zira masuk dan ada beberapa pakaian yang ada di tepat tidur yang sudah disiapkan oleh Devan.


Zira yang dari kemarin belum membersihkan tubuhnya itu segera mandi di kamar mandi kamar itu.


Setelah selesai,Zira kembali menangis tidak peduli dengan matanya yang sudah bengkak.


"Mas Aydan,selamatkan aku mas" lirih Zira.


Klek.


Pintu kamar itu terbuka,dan ada yang memberikan makan siang untuk Zira.


"Makanlah,jika tidak saya akan beri tahu tuan Devan" ancam salahsatu anak buah Devan yang menjaga di depan kamar Zira.


Zira mengambil nampan yang dibawa oleh anak buah Devan,dan ketika ia hentak berbalik badan kakinya terpeleset.


Pecahan kaca itu melukai kaki Zira,dan ketika Zira hendak membersihkannya tangan Zira terluka.


"Aww!" rintihan Zira.


*****


"Zira!" ucap Aydan merasa hatinya tidak tenang.


"Ada apa menantu?" tanya Pak Hadi.


"Tidak tahu pah,hati Aydan tidak tenang" ucap Aydan.


"Astaghfirullah..kamu tenang saja Aydan,bentar lagi kita akan sampai di rumah pria tidak waras itu" balas Zidan.


Aydan,Zidan,dan Pak Hadi memang sedang dalam perjalanan menuju rumah Devan untuk menemui Devan.

__ADS_1


*****


"Ada apa?" ucap Devan yang mendengar pecahan piring.


"Nona ini tidak sengaja menjatuhkan nampan makan siangnya,Tuan" balas anak buah Devan.


Devan melihat Zira yang tengah membereskan pecahan piring.


"Kenapa kau diam saja?cepat bersihkan pecahan itu" perintah Devan kepada anak buahnya.


Anak buahnya itu bergegas segera membersihkan pecahan piring itu dengan bersih.


"Zira!kau baik-baik saja?Astaga!kaki dan tanganmu terluka" melihat Zira dan bergegas mendekatinya.


"Aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil,kau tidak perlu mengkhawatirkanku" ucap Zira.


"Cepat bawa kotak p3k!" perintah Devan.


"Baik Tuan" balas salah satu anak buahnya.


Anak buah Devan kembali dengan membawa kotak p3k dan memberikannya kepada Devan.Devan segera membersihkan luka yang terdapat pada Zira.


"Tidak perlu Devan,aku bisa sendiri mengobati nya lagi pula dan kau bukan mahramku" tolak Zira ketika Devan hendak mendekatkan tangannya pada lukanya.


Devan yang mendengar penolakan pada Zira pun memberikan kotak p3k itu kepada Zira dengan berat hati.


"Padahal aku hanya ingin membersihkan lukanya" batin Devan yang tidak tega melihat Zira terluka.


Setelah itu Zira mengobati luka nya sendiri dan Devan kembali ke ruangannya.


Beberapa saat kemudian ada suara bel terdengar dari rumah Devan.


Ting tong.


...****************...


HI GUYS!


Terimakasih ya sudah membaca novel ini,semoga kalian suka dengan alur ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa like setiap chapternya dan follow author♡︎


Jika ada saran atau kritik,boleh komen aja ya hehe


__ADS_2