
Setelah edo pergi aku duduk lagi disamping Dina.
" Udah belum?" Kataku sembari merangkunya lagi
" Iya sebentar lagi selesai" katanya sembari menaikkan kaca matanya.
" Yang barusan Edo" kataku berbisik ditelinganya sebenarnya aku sedikit takut kalau Dina langsung melirik edo, tapi ternyata Dina tak melakukannya.
"Iya, ini udah bener?" Katanya sembari menyodorkan hp nya
" Kamu gak denger ya?" tanyaku memastikan
" Iya denger kak, tapi ini lebih penting kan?" Katanya sembari tersenyum
" Kenapa lebih penting?" Kataku sembari mengambil hp dan menatapnya dalam
" Karna jadwal ini menentukan berjalan tidaknya proses komunikasi kakak sama aku" mendengar hal itu aku langsung tersenyum dan mengacak ngacak rambutnya.
" Anak pinter, cocok kalau kamu jadi dosen"
Dia hanya tersenyum dan mengucek ngucek matanya yang terlihat lelah.
" Kamu ngantuk? tanyaku sedikit hawatir.
" Iya sedikit"
" Yaudah kamu tunggu disini aku kesana dulu buat pamit ke anak anak.
Aku kemudian pergi menghampiri Anak anak yang sedang bercanda gurau.
" Sob Gue balik duluan, cewek gue udah ngantuk kasian. Lagian semuanya udah selesai kan?"
"Udah selesai lo kalo mau pulang pulang aja G" Kata seorang teman
"Yaudah gue balik sekarang" Seusai berpamitan aku kembali menghampiri Dina yang sibuk entah mencari apa didalam tas nya.
" Nyari apa?" kataku saat didepannya
" Mmm nyari jepitan rambut tadi perasaan ditaruh disini tapi gak ada... Oh nah ada!"
Ia langsung merapikan Rambutnya mengikatnya kebelakang. Aku kemudian duduk disampingnya
"Udah? Kita pulang sekarang kalau kamu udah siap" Kataku sembari memegang rambutnya yang telah terikat
" Iya udah" Katanya sembari tersenyum
" Aku ambil motor dulu kamu tunggu disana kataku menujuk ke pinggir jalan.
Aku kemudian mengambil motorku yang terparkir sedikit jauh dari tempat duduk Dina.
__ADS_1
" Ayo" kataku sembari memberikan helm
" Mau kemana kak Gio" Kata seseorang yang muncul dari arah belakang
" Mmm gue mau balik dulu, cewek gue udah ngantuk katanya" Kataku pada edo
" Ini pacar kaka?" tanya nya sembari mengernyutkan dahi
" Iya ini Dina" Kataku sembari tersenyum
" Oh jadi bener ya kakak putus sama kak Marsya? Aku kira cuma gosif anak anak" Katanya sembari tersenyum melihat Dina yang menatapnya lagi
" Itu bener kok, ini pacar baru gue" kataku lagi
Entah apa yang dia pikirkan saat itu sembari melihat Dina, tapi yang aku kira mungkin dia berpikir bahwa seleraku berubah, karna memang penampilan Dina dan Marsya terlampau jauh berbeda.
Edo yang hanya tersenyum sembari melihat Dina yang mungkin menurutnya Biasa saja berbeda dengan Marsya hanya tersenyum senyum tak mengerti.
" Yaudah gue balik dulu" Kataku lagi.
Aku langsung menjalankan motor setelah Dina naik.
" Edo makin ganteng kan dibanding yang ada difoto" Kataku sembari sedikit berbalik.
Tadinya aku menyangka dina akan menyangkal atau berkata iya, tapi ternyata Dina malah memeluk ku dan meyandarkan kepalanya di pundakku.
Sesampainya di depan rumah Dina melepaskan pelukkan nya, kemudian dia turun dan membuka helmnya. Saat dia akan melangkahkan kakinya untuk menjauhi ku aku segera menarik tangannya yang dingin karena terpaan angin.
" Kamu marah?" kataku sembari menatapnya dalam, tapi Dina hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
Aku menarik tubuhnya untuk lebih mendekat padaku, kemudian mencium pipinya yang dingin.
" cup... Maaf ya... aku sayang kamu. Sekarang kamu kedalam dulu dan terus istirahat aku mau telpon mamah dulu" Kataku sembari tersenyum.
" Cup... iya. Saya kedalam duluan "Katanya lalu pergi, Aku tersenyum senyum sendiri tak menyangka dia juga akan mencium balik pipiku.
" Tau gitu tadi aku cium bibirnya" kataku yang masih memandangnya dari luar.
Setelah menyimpan motor dan menelpon mamah, aku langsung masuk kekamarku untuk mandi.
Setelah mandi aku langsung membaringkan tubuhku dan memainkan hp.
" Gio, Ayah dan mamah mungkin akan menginap untuk beberapa hari, tolong jaga Dina. Untuk uang harian Dina dan untuk keperluan rumah selama Ayah dan mamah disini sudah Ayah transfer ke rekening kamu"
Isi pesan yang aku baca.
" Mmm bagus mereka selalu saja sibuk" Kataku sembari melempar hp ke ujung kasur dan langsung tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi pagi untuk joging dan sembari mengambil uang dari Ayah.
__ADS_1
Saat aku pulang dan duduk didepan rumah dina menghampiriku.
" Kakak capek?" Katanya sembari menyodorkan air minum.
" Yaa lumayan" kataku yang kemudian menarik tangannya agar dia duduk disampingku.
" Kamu mau kemana?" Kataku menggodanya
" Mau sekolah kak, ini udah pake seragam" Katanya menunjukan logo sekolah sembari memajukan mulutnya yang menjadikan nya terkesan manja.
" Oooh sekolah... " Kataku semakin menggodanya.
Dina langsung berdiri, tapi sebelum dia melangkahkan kaki aku langsung menarik tangannya lagi agar dia tetap duduk disampingku.
" Gitu aja marah, kakak cuma bercanda cup..." Kataku sembari mencium pipinya
" Kakak, nanti ada yang liat" katanya sembari memegang pipi yang aku cium dan menengok kanan kiri. Pipinya langsung merah merona yang membuatku merasa dia sangat lucu.
" Ada yang liat juga gak apa apa, nanti kita langsung dinikahin" Kataku yang terus menggodanya
" iiih kakak, aku kan baru kelas dua" katanya manja
" Mmm gak apa, jadi kita bisa bebas mau itu juga..." kataku sembari mendekatkan wajahku ke wajahnya
Dina yang takut langsung berlari kedalam.
" hey mau kemana? aku belum selesai heheh dasar mocci imut"
Aku langsung masuk untuk mandi.
Setelah selesai aku langsung sarapan bersama Dina. Dina yang masih marah gara gara perkataan ku tadi tak memandang ku, padahal aku berbicara kepadanya tentang mamah dan ayah yang tidak akan pulang selama beberapa hari. Dia hanya menundukan kepalanya dan jika ditanya dia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Kamu marah?"
" Enggak kak, aku cuma takut sama perkataan kakak" katanya memandangku sepintas. Kemudian aku duduk disamping Dina.
" Takut apa?" kataku heran
" Takut kakak cuma main main sama aku" katanya sembari meneteskan air mata.
" Kenapa kamu berpikir kesana?" Tanyaku sembari tersenyum heran
" Kakak begitu mudahnya bilang gitu, padahal kakak belum kenal aku seutuhnya" Katanya yang kemudian menatapku dengan tatapan yang penuh kesedihan
" Hehe kamu ini, terlalu menganggap gurauan aku. Dina ... aku sayang sama kamu dan gak mau kehilangan kamu. Aku gak menganggap remeh hubungan kita aku mau kamu dan aku saling mengenal ya dengan cara ini." Kataku sembari memegang kedua pipinya.
"Aku orangnya suka bercanda, kamu harus tau itu. Daaaan sekarang aku tau kamu gak suka kalau aku bergurau masalah hubungan kita. Maaf ya..." Dina kemudian menganggukkan kepalanya dan kemudian aku balas dengan senyuman.
" Ayo berangkat sekarang, takut kamu kesiangan" Kataku setelah mengusap air mata di pipinya.
__ADS_1