Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
8. Simbol Cinta yang dilelang


__ADS_3

Angga kemudian berlari menuju panitia penerima barang yang kemudian diikuti oleh Beni, Bagas dan Seno


" Angga... jangan Ga" Teriakku pada Angga yang terus berlari menjauh.


Kemudian Aku turun dari motor dan mengejar mereka.


Saat mereka terkejar, cincin itu sudah dimasukkan kedalam daftar barang yang akan di lelang.


" Ga mana cincinnya?" Tanyaku sambil ngosngosan karena berlari.


" Tuh udah d panitia" Jawab angga santai


" Ah lo Ga" Kataku yang kemudian mendatangi panitia untuk meminta cincinnya kembali.


" Vin gue minta cincin yang tadi dikasihin sama Angga" Kata ku pada Kevin salah seorang Panitia


" Sorry G, barang yang udah terdaftar gak bisa di pinta ulang" katanya serius


" Tapi itu..." sebelum aku menyelesaikan kalimatku Bagas langsung menarikku


" Udah G, iklasin aja. Kan uangnya nanti buat pakir miskin" Kata Bagas


" Bukan masalah uang nya Gas, cincin itu kan punya Marsya" kataku yang masih mengharap cincin itu kembali.


" G cincin itu kan udah marsya kembaliin lagi ke lo, itu berarti dia udah gak anggap lo" Kata Beni sembari menepak pundakku.


" Iya bener G, lagian kenangan yang menyakitkan jangan disimpan" kata Seno


Mendengar kata kata itu aku kembali ingat saat kejadian di kamar Dina yang aku membakar foto yang membuat Dina menangis.


" Kalau memang lo bener mau move on hapus semua kenangan indah dan buruk tentang Marsya. Kalo lo masih nganggap kita temen" Kata angga mempertegas


" Bener G, kita tuh peduli sama lo" Kata bagas


Mendengar hal itu aku pun merelakan cincin yang dulu tersemat di jari manis Marsya. Sebagai simbol bahwa aku memang benar benar ingin lepas dari perasaan cinta ku ke Marsya.


" Oke gue setuju lelang cincin itu" kataku sedikit tidak iklas.


Suasana lelang sangat meriah, cincin yang aku lelang pun laku dengan harga tinggi.


Aku, Angga, Seno, Beni dan Bagas duduk menyaksikan lelang itu. Suasana lelang yang meriah membuat Aku tak sadar hari sudah siang.


" G hp lo tuh bunyi" Kata Beni


Aku segera mengambil hp dari tas punggungku. Kulihat no Dina yang tertera disana

__ADS_1


" Halo... Gue masih dikampus, lo udah pulang?... Ya udah tunggu gue kesana" Kataku kemudian menutup sambungannya.


" Gue pergi dulu" Kataku pamit pada empat sekawan itu


" Mau kemana?" Kata Bagas penasaran


" Acaranya belum selesai G. Nanti kita ada acara ditempat nongkrong anak motor" Kata Seno mengingatkan.


" Iya gue inget, Gue mau jemput Dina dulu di sekolahnya" Kataku, mendengar hal itu mereka tertawa, entah senang atau mengejek aku tak tau.


"Yaudah sana" Kata Beni sembari terus tersenyum


" Bawa aja ke tempat nongkrong G sekalian gue mau bincang bincang lagi sama si mocci imut" Kata Seno


" Iya nanti gue ajak" kataku, melihat ekspresi mereka, aku tau mereka benar benar menyukai anak polos itu. Aku juga tak mengungkiri dia memang baik dan tulus.


Kemudian aku berangkat menuju sekolah Dina, diperjalanan aku berpikir kalau Dina diajak ke tempat nongkrong nanti dia kan pakai baju seragam itu kan gak banget.


Ahirnya aku membeli baju dan celana sesuai ukuran kemarin yang aku dengar dari teman teman saat mendandani Dina.


Setelah itu aku langsung menuju sekolah.


Setelah sampai kulihat Dina bersama seorang teman perempuannya.


" Yuk" kataku sembari mengulurkan tangan.


" Enggak" Kataku sambil membuka helm


" Din ganteng, kenalin" Kata gadis itu berbisik tapi agak kencang ke Dina


" Kak Gio ini Gendis temen sebangku saya" kata Dina


" Oh iya gue Gio" Sembari mengulurkan tangan


" Oh iya ini pake dulu" Kataku sembari memberikan kantong belanjaan tadi.


" Ini baju siapa kak?" Tanya dina heran


" Baju lo, sana pake dulu, gue tunggu disini" Sepuntas Dina melihatku seperti takut untuk menolah titahku Dina pun langsung masuk lagi ke area sekolah untuk mengganti baju.


" Kak Gio kuliah ya? Tanya gendis sambil senyum senyum


" Iya" jawabku singkat


" Kamu temen deket Dina?" Tanyaku

__ADS_1


" Iya kak kami sebangku dari kelas 1, bisa dibilang kami tuh sahabat. Dina gak punya temen lagi selain aku" Katanya sembari mengerutkan kening.


" Kok bisa? "Tanyaku heran


" Dina selalu dibuli sama orang itu tuh, jadi gak ada yang mau deketin Dina karena takut soalnya mereka diancam" Kata Gendis sembari menunjuk kesebelah warung tongkrongan yang banyak sekumpulan wanita yang kelihatannya mereka anak terkeren di sekolah.


" Kok bisa? kamu gak ngejauhin Dina juga?" Tanyaku lagi semakin penasaran


" Soalnya menurut mereka Dina itu cupu kayak aku terus gitu lah..." Gendis menghentikan bicaranya saat Papah nya menjemput


" Maaf kak saya sudah dijemput" Katanya sembari berjalan menghampiri mobil Papahnya. Aku hanya menganggut mengiakan


Kulihat kumpulan gadis gadis itu dari kejauhan, kulihat ada seorang gadis yang aku kenal sebagai pacar edo disana.


Aku kemudian mengira ngira permasalahan yang tadi gendis ceritakan.


" Apa dia dibully karena si edo?" kataku bergumam sendiri.


"Kak Gio" Kata Dina yang tak kusadari sudah ada di sampingku.


" Kakak Liatin apa? Maaf saya lama" Katanya dengan sedikit penyesalan diwajahnya.


" Liatin cewek cantik itu, iya gak apa apa ayo naik" Kataku sambil memakai helm.


Setelah Dina naik hp ku berbunyi. Akupun langsung membuka lagi helm ku


" Apa Gas?...Iya gue kesana sekarang... Iya sama mocci... mmm....mmm... iya yayaya" Kataku kemudian menutup sambungannya.


" Kayaknya temen temen gue suka sama lo" kataku sembari memakai helm. Kulihat dari sepion Dina tersenyum bahagia.


" Kalo lo mau pacaran sama temen gue harus pilih salah satu" Kataku sedikit kesal melihat senyum Dina yang senang mendengar mereka menyukainya.


Aku kemudian melajukan motor ku, kulihat Dina tidak merespon apa apa setelah bicaraku terahir.


" Lo suka sama siapa?" Tanyaku memastikan. Sebenarnya waktu itu aku berharap dina menyebut namaku, tapi dina malah menjawab hal yang tidak aku suka


" Mmm saya suka semuanya" Kata Dina sembari tersenyum


" Jangan serakah jadi orang " Kataku kesal.


Sebenarnya aneh kalau aku mengharap cinta dari Dina , apalagi kami baru mengenal dan dekat. Yaa walaupun dulu kami sudah kenal tapi itu kan masih kecil.


Aku juga masih bingung dengan perasaan ku pada Dina, apa aku bener suka atau cuma rasa simpati karena ia terlihat butuh seseorang untuk melindunginya.


Entah lah aku tak tau.

__ADS_1


Aku hanya ingin menjalaninya sementara ini untuk mengisi kehampaan karena tak ada orang yang mengisi hatiku saat ini.


Jika memang benar Dina adalah orang yang tepat untuk mengisi hatiku aku hanya berharap Dina adalah orang terahir yang bisa menjaga hatiku


__ADS_2