
" G lo masih sama si marsya?" Tanya bagas yang duduk dibelakang
" Masih, emang kenapa?" Kataku heran dengan pertanyaan Bagas
" eeeh itu loh..." Suara Bagas tak jelas
" Heh? apa? gak denger gue"Kataku sedikit teriak
" Enggak ntaar lo tau sendiri" Kata bagas yang kemudian membuatku heran dan menghentikan laju motor ku
"Apa maksud lo?"Kataku sembari membalikan badan
" Lo bakal liat di cafe ntar G" kata bagas penuh teka teki
" Apaan sih? gak jelas" Jawabku kesal kemudian melajutkan perjalanan kami.
Sesampainya di cafe tempat biasa kami nongkrong aku dan Bagas langsung menghampiri Seno , Beni dan Angga yang tengah duduk di sofa dekat jendela yang langsung melihat ke arah luar kolam renang yang ada disana.
Kemudian aku menyalami mereka dengan ala sahabat seperti biasa.
" Tumben duduk disini sob" Tanyaku
Mereka tidak langsung menjawab, malah mereka saling pandang dan saling mengisaratkan hal yang aku sendiri tidak mengerti.
" Apa an sih kalian, gak jelaas banget" Kataku sedikit kesal
" G, lo harus janji gak bakal marah sama kita atau siapapun" Kata Seno sembari memegang hp dan menyodorkannya padaku.
" Apa an nih?" Kataku. Ketika ingin mengambil hp itu tiba tiba Beni merebutnya
" Lo janji dulu G" Kata beni sembari melirik teman yang lain
" Iyaa gue janji dan sumpah sampai mati gak bakal marah" Kataku sembari tersenyum dan mengacungkan jadi membentuk huruf v.
" Sini, apa an sih gue penasaran" Kataku yang kemudian menyalakan hp Seno dan melihat apa yang ada didalamnya.
Awalnya aku hanya memandangi foto itu dengan tatapan sinis, kemudian hati dan pikiranku mulai diliputi amarah
"Dari mana kalian dapet foto ini?" Tanyaku yang tetap memperlihatkan ketenangan.
" Gue yang foto sendiri G" Kata Angga
" Tadi mereka disini, tapi sekarang udah pulang" Lanjut angga
__ADS_1
Mendengar hal itu aku langsung berdiri ingin rasanya memukul laki laki yang ada difoto itu dan meminta penjelasan marsya. Difoto itu ada seorang pria yang sedang mencium pipi marsya dengan lembut, dan terlihat marsya juga menikmati hal itu.
" Mau kemana G?"Tanya Seno sembari memegang tangan ku
" Kerumah Marsya" Jawabku
" Mending jangan G, lo masih marah" Kata Bagas
" Iya G, lagian tadi lo dah janji sama kita gak bakal marah" Kata Beni
" Ini beda, Marsya cewek gue" Kataku sedikit meninggi
" Duduk G" Bagas yang kemudian menarikku untuk duduk, terpaksa aku duduk kembali dengan perasaan yang bingung, antara harus marah atau menepati janjiku pada mereka.
" G, gue udah bilang dari dulu si Marsya tuh gak baik buat lo" Kata Beni
" Iya G, diatuh rubah licik" Timpa Bagas
" Lo bisa dapet cewek yang lebih baik" kata Angga yang kemudian menepuk bahuku
" Tapi sob, gue cinta sama dia. Kalian tau kan hal itu? Apalagi gue udah pacaran lama sama dia" Kataku sembari mengacak ngacak rambutku
" Kita tau G tapi lebih baik mulai sekarang lo jauhin Marsya" Kata Beni
Bagas, Seno, Beni dan Angga memang sudah beberapa kali melihat Marsya bersama laki laki yang berbeda, tapi memang baru kali ini Mereka berani memperlihatkan bukti perselingkuhan Marsya.
Mereka juga selalu mengingatkan aku kalau Marsya itu cuma mau uangku, tapi apa dayaku yang terlalu mencintai wanita itu.
Apalagi Marsya adalah cinta pertamaku.
Aku sungguh tak berdaya dan tak tau harus apa untuk memperbaiki semuanya.
" G ini nyata, Marsya gak baik buat lo" Kata bagas yang terus menguatkan ku
" G masih banyak cewek baik diluar sana" Kata Seno
" Bener G, lo pantes dapetin yang lebih dari Rubah licik itu" Kata beni
" Lo ganteng bro, lo baik, lo juga kaya. Lo bisa dapetin 1000 marsya didunia ini" Tegas Angga
" Gue gak tau, gue terlalu cinta sama Dia" Kataku yang tak bisa menahan amarah,kecewa, sedih semua bercampur jadi satu yang kemudian membuatku meneteskan air mata .
" G, mending sekarang kita pulang, lo nginep di rumah gue" Kata Angga
__ADS_1
" Iya gue setuju, tenangin diri lo dulu" Kata beni
" Gak usah gue mau pulang aja" Kataku yang kemudian berdiri dari kursi.
Lemas rasanya mengingat foto yang memperlihatkan penghianatan marsya padaku, Angga, Beni, Seno dan Bagas mengikuti dari belakang.
Mereka tau benar betapa patah hatinya aku, dan betapa hancurnya hatiku.
Tapi mereka tetap mendukung dan menguatkan aku. Mereka benar benar sahabatku.
" G biar gue yang bawa motor" Kata Bagas
" Gak usah Gas, gue bisa pulang sendiri. Maaf gue gak bisa anterin lo pulang" Kataku sembari menyalakan motor.
" G, lo ikut Angga di mobil biar gue yang bawa motor lo, jangan bantah. Kita hawatir sama lo" Paksa Seno yang kemudian mengambil alih motorku.
Aku pun menurut, Aku pikir mereka benar. Aku butuh dukungan dan sahabat sahabatku saat ini.
" Nanti gue hubungin keluarga lo" Kata Angga yang kemudian membukakan pintu mobil.
" Iya makasih" Kataku yang kemudian masuk kedalam mobil
Rasanya tubuhku melayang, aku tak bisa berpikir dan merasakan kakiku, tanganku. Rasanya aku benar benar kehilangan jiwa dan ragaku.
" Lo gak apa apa G?" Tanya Angga
" mmm" Jawabku yang kemudian bersandar di kaca mobil memandangi jalan dan pemandangan malam dengan lampu disepanjang jalan.
Aku bingung harus apa agar aku keluar dari kebingungan dan perasaan yang menyiksa ini.
***
Marsya adalah anak tunggal dia dulu satu SMA dan sekarang satu kampus dengan Gio tetapi beda jurusan.
Perawakan Marsya yang tinggi untuk seorang perempuan, gaya yang modis, rambut yang panjang dan sering terurai, kulit putih dan semua itu membuat Gio semakin terpikat padanya.
Marsya memang bukan lah dari kalangan orang kaya, orang tuanya yang bekerja sebagai Karyawan disebuah perusahaan dan ibu yang hanya seorang IRT.
Dengan Perawakan dan dandanan yang modis membuat Marsya populer dikampus, tapi kepopulerannya itu, sering juga ada yang menyebutnya wanita panggilan.
Karena sudah sering mereka melihat marsya berganti pasangan termasuk Gio.
Tapi apa pun dan bagai mana pun Berita yang sampai ke telinga Gio tentang Marsya, Gio tak pernah mau tau. Yang Gio tau Marsa adalah wanita cantik yang dia cintai.
__ADS_1
Sebenarnya Marsya agak sering mengacuhkan Gio, tapiiii yaa begitu lah, Gio tetap mencintainya. Begitupun saat Bagas, Angga ,Seno dan Beni memperingatinya tentang Gio yang selalu terlalu royal pada Wanita itu.
Gio yang seolah dibutakan cinta tak pernah menanggapi hal itu, bahkan Gio lebih memilih menutup mata dan telinganya jika ada perkataan yang tidak enak menyangkut Marsya.