
"Kenapa lampu tidur yang kamu nyalain? apa kamu mau tidur sekarang? Mending kita makan dulu yu" Kataku yang kemudian menaruh makanan dimeja belajar.
Aku melihat Dina yang menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan nya yang dilipat dan memegang lututnya.
Aku menghampiri dan duduk disampingnya.
" Kamu udah makan?" Kataku mencoba mencairkan suasana, tapi dina tetap dalam posisinya.
" Makan dulu yuk, bi inah udah masakin buat kita" kataku lagi sembari merangkul Dina. Kudengar dina menangis sembari masih dalam posisinya.
" Kamu kenapa?" Tanyaku sedikit heran. Dina terus menangis, aku tak tau harus apa. Lalu aku biarkan saja Dina menangis sambil aku memeluknya. Aku berharap setelah Dina puas menangis dia akan berbicara tentang masalahnya
" Aku minta maaf kalau aku buat salah" Kataku setelah Dina menghentikan tangisannya dan kemudian berbalik memandangku dengan tatapan yang aku tak pernah melihatnya. Dina kemudian melepas rangkulan ku, dan melepas kacamatanya.
Dina berdiri dan sontak aku ikut berdiri.
Dina kemudian mendorongku kearah kasur sampai aku terduduk diatas kasur.
"Ini kan yang kakak mau?" Katanya sembari menatapku marah. Aku tak mengerti apa maksud perkataan Dina.
" Apa maksud kamu, aku gak ngerti"
Dina kemudian membuka seluruh pakaiannya sampai tak menyisakan satu helai pun ditubuhnya.
Kemudian dia duduk dipangkuanku sembari mengalungkan kedua tangannya dileherku, menciumi wajah ku dan mencium bibirku.
Aku masih berusaha melepaskan pelukannya, tapi Dina malah semakain erat memelukku dan terus menciumi leher.
Aku mulai terpancing dengan perlakuannya akupun kemudian meraba raba tubuhnya yang mungil itu dan membalas ciuman bibir nya yang selalu terlihat merona di mataku.
mencium lehernya yang wangi yang membuatku semakin mendaratkan ciumanku menyusuri leher hingga dadanya.
Aku meraba setiap lekukan tubuhnya yang mungil, kuremas payudara yang masih kencang dan mungkin baru aku yang melakukannya, ku daratkan ciumanku disana. menghisap tonjolan kecil disana, memainkan lidahku dengan tonjolan itu.
Desahan desahan kecil Dina terdengar ditelinga membuatku semakin merasa Rangsangan yang mulai menjalar yang membuat tubuhku memanas dan aku langsung membuka bajuku yang dari tadi Dina pegang untuk menahan rangsangan yang aku buat.
Aku menggulingkan tubuh mungilnya diatas kasur kemudian menindih dan mendaratkan ciumanku kembali di dadanya dan mencium tiap bagian tubuhnya, desahan desahan kecil dina kembali terdengar sangat lirih, kemudian aku kembali mencium bibirnya dan memainkan lidahku didalam mulutnya. Kuraba v***** hingga pahanya yang mulus yang membuat tubuhku semakin menginginkannya.
Ketika aku memandang wajahnya dan terus meremas dada Dina, Dina memejamkan mata dan meneteskan air mata.
Aku segera menghentikan semua kegiatan ku dan menutupi tubuh Dina dengan selimut.
Aku terduduk sembari menjambaki rambutku sendiri, menahan semua rasa yang ingin aku lepaskan.
__ADS_1
Dina kemudian membuka matanya.
" Kenapa?" Tanyanya yang kemudian bangun dan merubah posisi selimut yang tadi aku pasangkan.
" Aku gak bisa lakuin ini" kataku sembari mengusap wajahku kasar"
"Kenapa? Apa karena aku tidak bisa membuat kakak puas?" Katanya sembari memandangku.
" Apa maksud kamu melakukan ini Din?"Ku pegang kedua pudaknya sembari mengguncang tubuh mungil itu .
Sebenernya Aku masih mengingikan tubuhnya tapi aku coba menahan karena keingin tahuan tentang apa yang terjadi padanya sampai berbuat ini.
" Bukan kah kakak yang mau ini?" Katanya sembari menangis.
" Apa maksud kamu?" Aku memeluknya yang terbalut selimut dengan erat
" Jangan begini, aku mohon. Aku gak mau menghancurkan masa depan kamu dengan melakukan ini. Aku mau kita melakukannya setelah kamu jadi istri aku"
" Apa itu akan terjadi? Bukannya kakak lebih suka wanita yang tinggi dan cantik untuk jadi istri kakak?"
" Apa maksud kamu?" Dina kemudian menangis dan memandangku.
" Aku liat kakak pelukan dan ciuman di depan kantor" Sontak aku kaget mendengar hal itu.
Dina yang terus menangis membuatku makin mengeratkan pelukanku.
" Din... kamu salah paham sayang" Kataku kemudian memakai bajuku kembali.
" Kamu salah paham. Tadi itu enggak seperti yang kamu pikirkan" Tapi kata kata ku malah membuat Dina semakin menagis.
" Apa aku tak bisa membuat kakak lupa akan pacar kakak yang dulu?"
" Din... Yang tadi dikantor itu Bella, dia temen aku waktu masih SMA. Dan masalah ciuman itu bukan aku yang memulainya, Dia datang dan langsung mecium ku. Aku tadinya berniat buat makan siang" Apa yang aku katakan tak membuat Dina langsung percaya.
" Lalu kenapa Hp kakak gak aktif?"
" Aku tadi mematikannya karena harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, aku gak mau ada yang mengganggu aku. jadi aku matiin"
" Oke, memang Bella suka sama aku dan dulu bersaing dengan Marsya, tapi aku cuma nganggap dia temen. Cuma itu"
" Tadi dia juga ikut makan siang dan bercerita sampai sore di lestoran, setelah itu aku langsung pulang" Aku memeluknya lagi
" Percayalah , cuma kamu yang ada dihati aku Mocci imut ku"
__ADS_1
Aku langsung mencium bibirnya, memainkan lidahku dimulutnya.
" Aku sayang kamu Mocci imut" Kataku setelah melepaskan ciuman ku.
" Pakai lagi bajunya kakak tunggu dibawah, kita makan disana.
" Jangan harap kakak akan melakukannya sebelum kamu jadi istriku nanti" Kataku sembari memberikan bajunya yang aku pungut berserakan dilantai.
Aku kemudian membawa nampan yang tadi aku bawa, aku duduk di kursi meja makan sembari menunggu Dina turun.
Bayangan kejadian tadi terus membayangiku, ternyata Dina memang mencintaiku. Sampai sampai dia rela membuang masa depannya hanya untuk memiliki ku.
Sepintas aku melihatnya seperti aku dulu yang bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan Marsya.
Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga Dina dan mencintainya. Aku tak mau dia terluka sama sepertiku dulu.
Ketika sedang memainkan hp dan mengecek pesan dari semua sahabatku dina kemudian duduk di sampingku.
" Mau makan apa? biar kakak ambilin." Kataku sembari berdiri disampingnya dan menaruh hp ku.
" Gak usah kak, biar aku ambil sendiri"
" Yaudah kalo gitu."
Aku pun duduk kembali sembari memandanginya yang tengah mengambil makanan.
" Kakak gak makan?" Tanyanya dengan malu, mungkin karena kejadian tadi. Kemudian aku kemudian berbisik ditelingnya.
" Enggak, kakak kenyang udah makan kamu tadi" Godaku ingin melihat ekspresi Dina yang lucu ketika merasa malu. Dina hanya memajukan bibirnya dan langsung makan.
" Kenapa cemberut? Mau kakak cium lagi?" Godaku lagi sembari berbisik , yang membuat Dina tersedak, Kemudian aku mengambil minum.
" hehehe kamu liar ya kalau di kamar, tapi... belum mahir kalau masalah ciuman" Bisikku lagi, aku merasa senang kalau menggoda Dina, apalagi ekspresi manja nya yang terkesan lucu
" Kakak" katanya sembari mencubitku
" Aaaw sakit"
" Biarin, biar kakak kapok"
Aku kembali berbisik " Kakak gak bakalan kapok kalau masalah memakan kamu"
Melihat Dina sedikit kesal aku langsung berlari dan pindah duduk ke ruang keluarga meninggalkan Dina yang masih makan.
__ADS_1
Setelah duduk nyaman di sofa aku langsung menelpon Angga yang sembari tadi menghubungi ku.
" Halo Ga... ada apa?... Gue gak tau... Iya malam minggu besok kita ketemu... terserah lo aja, gue ikut aja... kayaknya enggak, kasian nanti dia sendiri gue takut kita lama rapatnya... mmm kalau pacar kalian ikut nanti gue ajak.... iya nanti gue bawa... iya nanti gue yang bayar semua... mmm iya... yayaya bawel" Kataku yang kemudian mematikan sambungan.