
" Lo punya pacar?" Tanyaku yang seketika membuat Dina terkejut sambil memandangku
" Apa? Gue cuma tanya" Kataku sembari tersenyum karena melihat ekspresi Dina.
" Tidak kak, saya tidak punya" katanya yang kembali menunduk
" Kenapa?" tanyaku lagi
" Kenapa apa nya kak? Tanya Dina sembari melihatku lagi
" Ya lo, kenapa gak punya pacar" Kataku sembari menghisap rokok yang telah aku nyalakan.
" itu karenaaaa " katanya penuh keraguan
" Karena???"
" Karena saya tidak cantik dan katanya saya orangnya gak menarik, jadi gak da yang mau sama saya" Katanya sambil menunduk lagi
" mmm gitu, lo pernah suka sama cowok?" Tanyaku lagi
" Iya dulu waktu SMP kelas 3, tapi katanya ya itu, saya tidak cantik dan menarik jadi dia gak mau berteman sama saya apa lagi jadiin saya pacarnya"
" Orangnya ganteng?" Tanyaku semakin penasaran.
" Menurut saya iya"
" Ada fotonya?" kataku semakin ingin tau
" Ada"
" Mana aku mau lihat" Kataku yang kemudian mematika rokok.
Dina kemudian berjalan kearah kamar yang kemudian aku ikuti.
Sesampainya dikamar dia mencari ditumpukan buku di dalam lemari, dan aku duduk dikasur untuk menunggu dia mengambil foto yang dia maksud.
" Ini kak, yang ini orangnya" Katanya sembari menunjuk ke foto seorang laki laki yang aku rasa sedikit familiar.
" Ini kayak Edo anak mesin" Kataku sembari memastikan
" Iya kakak bener, ini memang kak Edo" Kata dina yang heran karena aku mengetahuinya
" Kata lo waktu SMP, edo kan sekarang kuliah"
" Iya saya SMP tapi waktu itu kak Edo udah kelas 3 SMA" jelasnya padaku
" Ooh jadi dulu lo suka sama kakak kelas! Jahat banget ni anak nolak lo dengan kata kata kasar, Kalau memang edo ini gue tau, soalnya dia suka ada di tongkrongan motor"
" Kak edo temen kakak juga?"
" mmm cuma kenal aja sih, yang tau itu Seno soalnya dia kan anak mesin juga"
Sepintas aku heran kenapa Dina suka sama edo? karena yang aku tau edo gak terlalu ramah dan sedikit sombong memang wajahnya tampan.
" Lo masih suka sama nih anak? Sampe masih disimpen nih foto" Kataku memastikan perasaannya
__ADS_1
" Udah enggak kak, saya menyimpannya cuma buat mengingatkan saya kalau saya pernah tersakiti" Katanya sembari meneteskan air mata
" Eeeh kenapa lo nangis? gue cuma nanya" Kataku panik melihat Dina menangis. Sontak aku langsung membakar foto itu.
" Mending kalau hati lo sakit jangan di simpen, bakar aja. Udah jangan nangis, mending lo tidur, gue juga mau tidur. Besok gue ada jam kuliah pagi, lo juga mulai sekolah kan?" Kataku sambil menghapus air mata di pipinya.
" Iya kak terimakasih"
Aku langsung keluar dari kamar Dina dan masuk kekamarku.
" mmm jadi dia gak pernah pacaran, bener berati dugaan gue. hehehe" kataku sembari membaringkan tubuh di kasur.
" Bagus lah kalau gitu gue lanjutin misi perkenalan nya" kataku yang kemudian tidur.
Keesokan paginya setelah aku bersiap untuk kuliah aku langsung turun untuk sarapan.
Kulihat Mamah , Ayah dan Dina sudah disana.
" Kuliah pagi Nak?" Tanya mamah sembari memberiku roti dan susu yang telah disiapkan mamah untukku.
" Iya mah" jawabku sambil melahap roti yang mamah sodorkan
" Kamu kapan menyelesaikan kuliah kamu Gio?" tanya ayah serius
" Iya Yah se ce pat nya"
" Kamu ini kayak gak serius mau nerusin perusahaan Ayah" kata ayah sedikit marah
Iya Yah, Gio serius kok" kataku sembari tersenyum dan cepat cepat menyelesaika makan ku.
" Kuliah mah, kemana lagi" kataku sembari berpamitan pada mamah dan Ayah.
" Bareng sama Dina, kalian searah kan?" kata mamah sembari menghentikan langkah ku
" Gak usah, saya naik angkutan umum saja" Kata Dina yang merasa tidak enak
" Ayo bareng aja sama gue, sekalian" paksaku
" Iya nak, kamu berangkat sama Gio, biar cepet nyampe sekolah. Apalagi ini hari pertama kamu sekolah" Kata Ayah memaksa Dina
"Ayo" Kataku lagi.
Dina langsung pamit dan mengikutiku dari belakang.
Sesampainya di depan motor, aku memberikan helm yang akan dipakainya.
" Nih pake dulu" kataku sembari memberikan helm yang kemarin kami beli.
Dina tak merespon perkataan ku dia hanya memandangi rok sekolahnya, mungkin dia pikir kalau naik motor akan sulit memakai rok seperti itu.
" Udah pakai dulu celana olah raga, nanti kalo udah disekolah lepas lagi. cepet aku tunggu" Dina kemudian tersenyum lalu sedikit lari kedalam rumah.
Tak lama dia keluar dengan memakai leging hitam, aku hanya tersenyum melihatnya.
" Aneh ya kak?" katanya sembari cemberut
__ADS_1
" Ya lumayan hehe udah yu, nanati telat" Kataku yang kemudian memberikan helm.
Kami kemudian berangkat. Saat sampai di depan sekolah dia kemudian turun.
" Mana hp kamu?" kataku sembari membuka helm dan mengambil hp ku dari tas.
Dina yang kemudian memberikan hp nya langsung aku terima dan segera mengetik dan memiscol nomor ku dari hp nya.
" Itu no hp gue, nanti kalo udah pulang telpon gue, nanti gue jemput lagi."
" Gak usah kak, saya pulang pakai angkutan umum saja" katanya sembari menaruh hp nya lagi ke tasnya.
" Kamu pulang jam berapa? pokoknya gue nanti jemput. Gue gak mau mamah sama ayah marah gara gara lo kenapa kenapa" Kataku sembari menaruh hp ku lagi. Padahal aku nerniat untuk lebih mendekatinya dan mengenalnya.
" Iya kak, maaf saya merepotkan" katanya sambil menunduk.
Aku langsung memegang dagunya supaya dia mengangkat wajahnya.
" Jarang sering menunduk kalau lagi sama gue, gue mau terus liat wajah lo yang imut" Kataku yang kemudian melepas helmnya.
" Ambil helmnya, nanti aku jemput" Kataku.
" Iya kak" katanya sembari tersenyum.
Setelah memastikan dia masuk kedalam sekolah, aku langsung melajuka motorku menuju kampus.
Sesampainya di kampus, saat aku melepas helm. Aku melihat Marsya yang turun dari sebuah mobil mewah, yang kemudian berlalu setelah Marsya turun.
Ketika aku sedang sibuk menaruh kunci motor dan mencari hp, tiba tiba marsya menghampiriku dan memberikan cincin yang dulu pernah aku berikan padanya.
" Nih cincin kamu, aku udah gak perlu" Katanya kasar sembari sedikit menekankan kotak cincin itu kedaaku.
Aku menerimanya dan kemudian tak berkata apa apa, aku hanya terdiam dan melihatnya berlalu didepan ku.
Begitu kah perasaan Marsya kepadaku, kebencian dimatanya yang membuat aku bingung apa kesalahanku sehingga Marsya berlaku sekasar itu padaku. Padahal selama kami berpacaran tak pernah sekalipun aku berlaku kasar.
" G, kenapa?" Kata Angga yang menepuk bahuku, seketika lamunanku terhenti.
" Apa tuh?" Kata Bagas yang kemudian mengambil kotak cincin yang aku pegang
" Ini cincin" kataku sembari merebutnya kembali
" Oooh cincin" Kata Bagas, Seno, Angga dan Beni bebarengan.
" Tunggu kalian kenapa kuliah? bukannya hari ini kalian gak ada kelas" Tanyaku pada mereka
" Wah bener udah pikun nih anak" Kata Beni sembari menggelengkan kepalanya.
" G lo lupa hari ini ada apa?" Kata Seno
" Emang ada apa?" kataku heran
" Hari ini kan memang kita gak da kuliah G, hari ini kan hari lelang barang dari semua mahasiswa" Kata Bagas menjelaskan
" oh iya gue lupa gak bawa barang gue yang mau dilelang" Kataku sambil menepak kening ku
__ADS_1
" Udah ini aja yang dilelang" Kata Angga sembari mengambil cincin yang aku pegang.