
Aku tak menghirau kan apa yang dikatakan angga dan yang lainnya, aku kemudian mengajak Dina pulang. Aku takut mamah dan Ayah hawatir menunggu kami di rumah, apalagi sedari tadi mamah menelpon dan tidak terangkat oleh ku karena terlalu sibuk dengan kegiatan mendandani Dina tadi sehingga aku tidak sadar kalau hp ku berbunyi.
" Ayo pulang, mamah udah nelponin terus"
" Iya kak" Kata Dina yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melambaikan tangan dan menandakan pamit kepada empat sahabatku.
Begitupun Angga, bagas, beni dan seno, membalas lambaian tangan Dina
" Temen kakak gak ikut pulang?"
" Gak tau" jawabku ketus.
Sepanjang jalan aku dan Dina tidak saling bicara. Setibanya di rumah...
" Gio, Dina kalian baru pulang nak" Tanya mamah sembari memeluk Dina
" maaf kami terlambat pulang" Kata dina dengan perasaan menyesal
" Tidak apa apa sayang, lagian mamah yakin Gio bisa jaga kamu. Kamu cantik sekali nak" Kata mamah yang melihat perubahan pada Dina.
" Ayah dina cocok ya dandan kayak gini" Kata mamah sembari menengok ke arah Ayah yang tengah duduk di sofa sambil melihat kami, Ayah mengacungkan kedua jempol tangannya sembari tersenyum lebar sebelum kembali lagi membaca koran nya yang sedari tadi dipegangnya.
Dina dan mamah melihat hal itu langsung tersenyum.
" Mah, Ayah aku masuk kekamar dulu capek" Pamitku setelah mencium tangan Ayah dan mamah.
Entah apa yang dibincangka Ayah, mamah dan Dina setelah aku pergi, aku tak tau. Yang kudengar hanya suara tawa mamah dan Ayah yang samar.Aku pun masuk kamar, menutup pintu dan merebahkan tubuhku di kasur.
" Dia memang cantik, imut, lucu dan baik apa bener gue harus memacarinnya agar gue lupa dengan Marsya? Gue kan baru kenal dia, dia juga pasti berpikiran sama, apalagi biasanya cewek lebih ribet. Harus deket dulu lah, harus kenal dulu lah, harus ada rasa dulu lah bla bla bla... aaaaaaaaagh siaaal binguuung gue"
Ketika aku berbicara sendiri pintu kamarku diketuk seseorang.
" Yaa masuk gak dikunci" kataku sembari masih berbaring di kasur. Pintu terbuka dan ternyata Dina yang sedang berdiri di belakang pintu
" Kak Gio... kakak marah sama aku ya? maaf kalau aku buat salah sama kakak" katanya dari pintu yang masih terbuka, aku hanya meliriknya sebentar dan langsung membelakangi nya.
" mmm...mending lo keluar deh gue capek mau istirahat " kataku ketus
" Maaf kak, saya pergi sekarang" Dina pun menutup pintu dan pergi.
Ada perasaan menyesal setelah Dina pergi karena mengacuh kannya. Aku bingung sendiri dengan perasaan ku dan bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Apa aku harus melakukan yang dikatakan Sahabat sahabatku?atau mencari jalan lain yang aku juga belum tau apa, untuk move on dari Marsya?
Kepalaku rasanya berputar putar mengingat semua itu.
" Aaaagh pusing gue" Kataku sembari melempar bantal.
Ahirnya aku memutuskan untuk mandi cukup lama aku dikamar mandi, mungkin satu jam.
Setelah mandi aku merasa sedikit lebih baik.
" Aden makan dulu"
Kata bi inah yang sembari mengetuk pintu. Bi inah memang sudah terbiasa mengingatkan aku untuk makan. Karena bi inah sudah bersama keluarga kami sejak umurku 10 tahun, jadi ia tau benar bagai mana kebiasaan ku.
" Iya bi nanti" kataku sambil memakai baju.
Saat aku keluar kamar dan turun dari tangga ku lihat Dina tengah makan dan duduk sendiri di meja makan. Aku berpikir mungkin aku harus minta maaf atas sikapku tadi.
" Mana mamah dan Ayah? " kataku membuka obrolan, Dina yang sepertinya terkejut melihatku datang langsung berdiri.
" Euuuh itu" Katanya gugup
" Duduk aja, gue cuma nanya" Kataku langsung duduk dan mengambil makanan
" Duduk aja, lanjutin makan lo" Kataku, tapi Dina yang masih terlihat gugup malah mengambil piring
" Sasaya sudah selesai kak" Katanya yang langsung mencuci piring yang telah dia pakai. Aku hanya memandangi gerak geriknya yang tidak nyaman. Saat di berjalan melewatiku, aku langsung menarik tangannya yang masih basah setelah mencuci piring yang ia pakai.
" Duduk, temenin gue makan. Gue gak suka makan sendiri" Kataku sembari menyuruhnya duduk disampingku.
Dina yang kemudian duduk kembali disampingku dengan posisi menghadapku karena tangannya terus aku pegangi. Aku merasakan kegugupannya saat aku memegang tangannya dan kemudian aku mengeratkan tanganku dengan menyatukan jari jemari kami. Getaran tangannya dan kepala yang tertunduk membuatku tersenyum karena merasa lucu.
" Gue gak marah dan lo juga gak buat salah" Kataku santai sembari makan dan mengeratkan pegangan tanganku padanya.
Dina langsung mengangkat kepalanya dan menatapku heran.
" Apa? lo mau makan lagi?" Kataku sambil menyodorkan nasi dan lauknya di sendok.
Dina hanya menggelengkan kepalanya dan sedikit tersenyum.
" Oke kalau tidak mau" Kataku santai dan melanjutkan makan ku.
__ADS_1
Sebenarnya aku hanya ingin memastikan dan meyakinkan diriku atas keputusanku yang aku ambil saat mandi tadi.
Aku memutuskan untuk mengenal lebih jauh lagi tentang Dina, dan mencari tau hal hal tentang Dina. Aku takut dia sudah punya pacar atau gebetan, aku kan tidak tau.
Karena itulah aku memutuskan untuk mencari tau.
Dan kalau situasi nya telah aku pahami aku akan berusaha membuka hatiku untuk Dina dan melupakan Marsya.
Saat itu sebenarnya aku juga gugup tapi aku memang pandai menyembunyikannya.
Apalagi saat Dina menggerak gerakan jari kecilnya yang aku pegang. Tapi aku lihat Dina seperti nyaman dengan perlakuanku, yaa walaupun kegugupannya tidak bisa dia sembunyikan.
" Apa aku tanya sekarang ya dia punya pacar atau tidak?" ucapku dalam hati sembari makan.
" Tapi kalau punya mati lah gue, gagal semua rencana gue tadi" Ucapku terus dalam hati bingung rasanya mengingat hal yang akan terjadi.
" Kak Gio... " Katanya sambil menatapku, aku langsung menatapnya kembali
" Mmm apa?"
" Kata ka Bagas, Kak seno, kak angga dan kaaa.." Katanya bingung mengingat nama Beni
" Beni maksud lo?" Kataku memotong lamunan Dina yang terlihat bingung
" mmm iya..." katanya sembari tersenyum
" Kenapa mereka?" Kataku sembari menyelesaikan makan.
" Mmm saya gak ngerti maksud temen kakak sama saya tadi"
" Memang ngomong apa?"katakuyang kemudian melepaskan pegangan kami dan mengambil roko dari saku. Aku lihat Dina sedikit tidak nyaman ketika melihatku merokok.
" Hey, kok diem" Kataku lagi
" Kata temen kakak Saya harus narik perhatian kakak dan bantu kakak move on" Katanya sedikit terlihat bingung.
" Tapi saya gak ngerti dan gak tau harus bantu apa" Lanjutnya
" Heheh udah jangan dipikirin" Kataku sambil mengelus rambut nya.
" Tapi kalau kakak butuh bantuan saya bilang saja, saya juga mau membalas kebaikan tante dan om pada saya" Katanya sembari tersenyum
__ADS_1
" Lo mau bantu gue?"Kataku memastiakan
" Iya kalau saya mampu, saya bantu" mendengar hal itu Aku langsung bingung dari mana aku harus mulai bicara.