
Aku duduk dibawah pohon rindang yang terdapat kursi terbuat dari bambu. Kupandangi Indahnya pemandangan pegunungan hijau, seketika bebanku serasa hilang. Membuatku nyaman dan tak ingin pergi dari sana.
Sementara Pak udin sedang berbicara dengan salah seorang penduduk, anaknya yang masih balita menghampiriku.
Dia memberikan air minum dan berusaha duduk disampingku, tapi karena badannya yang masih kecil, dia tidak bisa duduk sendiri.
" Mau duduk ya?" kataku sembari tersenyum. Anak itu kemudian mengangguk dan tersenyum.
Aku pun langsung menggendongnya dan mendudukannya disampingku.
Mungkin umurnya antara tiga atau empat taun. Pikirku mungkin anak ini belum bisa bicara, karena sedari tadi dia hanya diam dan kalau pun dia menyuruhku minum atau memakan bekal dari tas yang dari tadi dia gendong dia hanya menyodorkannya padaku.
" Siapa nama mu dek?" Tanyaku sembari memakan ubi bakar yang dia berikan padaku, Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya sepintas aku mengingat Dina yang sering menundukan kepala.
" Ya sudah kalau gak mau jawab, kakak gak maksa" kataku sembari tersenyum
" Namanya Didit Mas Gio" kata Pak Udin
" Oh nama kamu Didit" kataku sembari mengusap kepalanya
" Dia gak bisa bicara mas"
Mendengar hal itu aku terkejut sampai tersedak.
" uhuk uhuk uhuk, apa maksud bapak gak bisa bicara?" Pak udin hanya tersenyum dan kemudian menggendong Didit
" Sudah takdir saya Mas" katanya sembari tersenyum.
Beberapa saat kemudian kebisingan terjadi, banyak anak anak yang berteriak dan berlarian sembari membawa batu dan tongkat dirangan mereka.
" Ajeng" Kata pak Udin yang kemudian berlari meninggalkanku.
" Kenapa pak, ada apa?" Teriakku yang kemudian mengikuti pak udin berlari
" Pergi anak anak. Jangan begitu tidak baik" Kata pak udin yang membubarkan kerumunan anak kecil itu, terdengar suara kekecewaan dimulut kecil mereka.
Kuliahat pak udin memeluk seorang gadis yang terduduk sambil menangis. Rambut yang acak acakan ,pakaian yang lusuh dan kotor.
" Sudah nak, mereka sudah pergi. Ayo pulang nak" Kata pak udin sembari memeluk anaknya dan membantu gadis itu berdiri
Aku kemudian menghampiri mereka.
" Pak"
" Maaf Mas Gio, saya harus mengantar anak saya pulang ke rumah dulu" Kata Pak udin yang sedikit meneteskan air matanya.
" Ini anak bapak?" Tanyaku yang heran melihat anak pak Udin seperti orang yang terganggu jiwanya
" Iya mas, ini anak pertama saya. Sepertinya pasung anak saya terlepas, jadi dia berkeliaran dikampung"
" Maksud bapak? bapak pasung anak bapak?"
Tiba tiba Pak udin menangis sembari memeluk kedua anaknya.
" Maaf mas, ini hal yang memalukan buat keluarga saya"
Aku yang semakin penasaran dengan kehidupan Pak udin kemudian mengajak pak udin untuk membawa kedua anaknya ke villa.
__ADS_1
Awalnya pak udin menolak, tapi setelah aku membujuknya ahirnya Pak udin setuju.
Sesampainya di villa Bu Ratmi terlihat terkejut dengan kedatangan kami.
" Pak, kok Ajeng dibawa kesini?" Kata bu ratmi gugup
" Saya yang suruh" Kataku yang kemudian menyuruh mereka masuk dan duduk
" Sebenarnya apa yang terjadi pak bu?"
Awalnya mereka hanya bertatapan dan tak berbicara sepatah katapun.
" Kenapa ajeng seperti itu?" tanyaku lagi yang semakin penasaran dengan kondisi keluarga pak Udin.
Ajeng kemudian ditarik oleh Didit untuk keluar rumah, mungkin maksudnya ia mengajak bermain.
" Awalnya ajeng anak yang biasa saja, tapi setelah kejadian memalukan itu, jiwanya menjadi terganggu"
Kata Pak udin
" Iya mas, ajeng terpukul dan sekarang..." Tangisan bu Ratmi pun pecah
" Sudah buu" Kata Pak udin menenangkan istrinya yang menangis.
" Kalau Mas merasa malu karena hal ini, saya akan berhenti bekerja, Maaf Mas Gio, maafkan saya" Kata pak udin sembari bertekuk lutut dikakiku.
" Pak pak, jangan begini" Kataku yang kemudian menyuruh pak udin ditempatnya kembali. Kulihat ajeng dan didit bermain diluar, mereka tersenyum dan tertawa bersama.
" Maaf pak bu, hal memalukan apa maksud ibu dan bapak?" kataku setelah melihat mereka sedikit tenang
" Ajeng sekitar satu tahun yang lalu dilamar pemuda kota, tapi setelah hari yang ditentukan untuk acara pernikahan laki laki itu tidak datang"
" Hal itu membuat ajeng stres dan tergoncang jiwanya"
" Kenapa bapak dan ibu gak bawa ajeng berobat?"
" Kami tak punya biaya, apalagi kalau dikota. Pasti butuh banyak uang"
" Kenapa bapak tak minta bantuan Ayah?"
" Saya malu, Ayah mas Gio sangat baik dan sangat berjasa sama saya dan keluarga"
" benar mas saya tak mau membebankan keluarga mas dengan masalah keluarga saya"
" Seharusnya Bapak bilang ke Ayah masalah ini, apalagi Ayah sudah anggap Pak udin keluarga"
" Maafkan saya mas.."
" Ya sudah besok kita ke kota buat periksakan ajeng"
" Tidak usah mas, biar ajeng saya bawa pulang"
" Terus bapak mau pasung lagi gitu?" Kataku sembari menunjukan amarah
" Maaf Mas, Saya takut Mas jadi gosif di kampung kalau menolong saya"
" Saya sudah putuskan, bapak sama ibu siap siap saja besok. Kita berangkat pagi"
__ADS_1
Aku kemudian pergi kekamar dan langsung mandi.
Selesai mandi aku mengecek di hp tempat RS jiwa atau sejenisnya yang dekat dengan posisiku sekarang. Ternyata ada RS jiwa yang letaknya sekitar 1- 2 jam jika pakai mobil.
Setelah aku mengemasi yang mungkin nantinya aku butuhkan disana akupun tidur.
Keesokan paginya setelah aku mandi dan bersiap, seperti biasa aku disuguhkan berbagai makanan has desa.
Setelah selesai makan aku langsung mengambil kunci mobil dan keluar untuk memanaskannya.
" Mas Gio"
" Iya bu, kenapa?" Kataku yang ingin membuka pintu mobil
" Apa kita berangkat sekarang?" kata bu Ratmi yang sudah siap berangkat
" Iya bu, saya manasin dulu mesin mobilnya"
Dari dalam mobil kulihat Pak udin dan kedua anaknya keluar dari rumah dan menghampiri bu Ratmi.
" Bu berangkat sekarang kata Mas Gio"
" Iya pak, tapi katanya manasin dulu mobil, bapak udah kunci pintu?"
" Udah bu"
Pandanganku tertuju pada Ajeng yang berbeda dengan kemarin saat pertama kami bertemu. Dia terlihat cantik dengan rambut yang diikat, kulit yang kuning langsat dan tatapan yang terlihat kosong.
" Ayo naik" Kataku dari dalam mobil
Merekapun naik dengan posisi Pak udin menggendong Didit di kursi depan, dan Bu Ratmi bersama ajeng di kursi belakang.
Kulihat tatapan senang di raut wajah balita itu.
" Sudah, kita berangkat sekarang"
Setelah membaca do'a kami pun berangkat. Di sepanjang perjalanan aku melirik ajeng dari kaca sepion, Dia terlihat menatap dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi.
" Pak apa Ajeng sering mengamuk?"
" Sering sih tidak mas, tapi kalau ada yang mengejeknya atau membuatnya sedih dia pasti marah marah sendiri mas"
" Memangnya benar rombongan laki laki itu kecelakaan?"
" Saya tidak tau mas, karna ada juga yang bilang kalau laki lakinya memang gak baik mas. Dia cuma mainin ajeng saja"
" Berapa lama ajeng kenal laki laki itu? "
" Kenal cuma 2 bulan, ke rumah sama ketemu ajeng saja cuma 3x."
" Kenal darimana pak?"
" Waktu itu laki laki itu mau beli tanah Ayah Mas Gio katanya buat investasi, tapi tanahnya juga gak jadi karena Ayah Mas gak mau jual tanah itu"
" Oooh jadi awalnya Bapak juga gak tau orangnya gimana? kok bisa bapak mau nikahin sama ajeng?"
" Saya pikir laki laki itu benar suka sama ajeng, apalagi saat itu teman ajeng sudah pada menikah dan punya anak. Saya tadinya niat jodohin, ajeng juga umurnya sudah 18 taun waktu itu"
__ADS_1
Sedikit aku memahami pemikiran laki tua yang ada disampingku yang menginginkan anaknya menikah. Wajarlah didesa hal seperti ini selalu dilebih lebihkan.