
" Mmm mau makan?" kataku memecah kesunyian antara kami
"mmm enggak mas, terimakasih." katanya sembari tersenyum
"mmm kalau gitu kita nunggu diluar aja, gak enak sama tamu yang lain"
" Iya mas boleh"
Kamipun keluar gedung dan duduk ditempat tadi aku duduk setelah menelpon Gendis.
" Kapan kamu keluar RS?"
" Belum lama mas, mungkin sekitar 2 minggu"
" Kamu sudah mmm..."
" Sembuh maksud mas?"
" Iya"
" Insyaalloh sudah, tapi saya masih minum obat dari dokter, kata dokter juga saya harus mengkontrol emosi saya" katanya sembari tersenyum malu
" Jadi asisten Rara juga baru?"
" Kalau masalah itu waktu saya masih di RS mbak rara udah jadiin asisten mas, katanya agar saya bisa lupa sama masalah saya. Jadi Mbak rara nyuruh saya belajar berkas berkas RS. Itu juga saya gak ngerti apalagi saya kan cuma lulusan SMK "katanya sembari terus tersenyum dan memainkan kakinya.
" Oh iya mas , saya mau ucapin terimakasih atas bantuan mas sama keluarga saya, terutama saya" Katanya sembari menatapku
" Saya tidak tau kalau tidak ada Mas Gio dan kalau mas Gio tidak memasukan saya ke RS, mungkin saya..."
" Udah gak usah dibahas, yang penting sekarang kamu udah sehat. oh iya kamu tinggal dimana?"
" Saya tinggal di RS, Nempatin kamar kosong mas, soalnya lumayan jauh kalau dari rumah Bapak, tapi selama disini saya tinggal dirumah Mbak Rara"
"Oh... Bapak sama ibu tau kamu udah sembuh? "
" Tau, pas awal saya pulang dari RS juga ibu sama Bapak yang jemput"
"Betah kerja sama Rara?"
" Betah mas, Mbak Rara baik orangnya, cantik lagi"
" Cantikan kamu" Kataku sembari tersenyum
" Ah mas Gio bisa aja, jauh kalau dibandingin sama saya, saya gak ada apa apanya"
Aku pun hanya tersenyum melihatnya salah tingkah dengan perkataan ku.
" Mas Gio kesini gak sama pacar Mas?"
" Aku gak punya pacar" kataku kemudian menyalakan sebatang rokok
" Kenapa gak punya mas? padahal mas Gio gak jelek jelek amat" katanya sembari tersenyum
" Hahaha kamu ini, harusnya kamu bilang aku ini ganteng dan gak mungkin gak punya pacar"
" Hehehe gitu ya? Maaf mas... Mas Gio bener gak punya pacar?"
" Kenapa gitu? Kamu mau jadi pacar aku?" Kataku sembari memandangnya, Dia kemudian tersenyum dan manggelengkan kepala
"Kenapa engga?"
" Mas Gio terlalu ganteng, takutnya banyak cewek yang ngejar ngejar. Nanti saya kecewa hehehe"
" Kenapa kecewa?"
" Saya kan kalau diliat dari sisi manapun gak ada yang bisa dibanggain mas, hehe. saya yakin yang ngejar mas Gio pasti cantik cantik"
" hehehe kamu tuh lucu" kataku sembari mengacak ngacak rambutnya.
" Saya bukan ngelucu mas, ini beneran. saya serius" katanya sembari menatapku
"Iya" kataku singkat dan kemudian mematikan rokok
" Iya apa Mas?"
" Iya kamu serius"
__ADS_1
" Oh iya" katanya sembari tersenyum lebar
" Berapa umur kamu?"
" Euum... berapa ya?... saya lupa hehehe"
" hahaha kamu ini lucu banget, umur sendiri aja lupa"
" Saya gak ngelucu mas, saya beneran lupa. kalau gak salah 16 atau 17."
" Masih muda ternyata"
" Memang mas Gio berapa?"
" 23 taun ini"
" Ooh udah tua ternyata"
" Bukan tua, kamu aja yang masih muda. Tau gak aku tuh lebih beruntung dari kamu."
" Maksud mas Gio apa?"
" Umur kamu baru 16 belum tentu kamu sampe ke umur 23, sedangkan aku udah ngelewatin umur 16. Iya kan? aku lebih beruntung"
Kulihat dia berpikir sampai sampai dahinya mengkerut, tapi ketika dia sadar dan mengetahui maksudku dia langsung memukulku dengan tas kecil yang dia bawa.
" iiiih mas Gio parah, maksudnya aku meninggal gitu?? iiih jahat kata katanya"
" hahaha lama banget kamu mikir nyampe aku ubannan"
" Ih bukan gara gara aku, Mas Gio aja yang udah tua hehehe"
Sudah lama rasanya aku tak tertawa, entah mengapa aku rasanya nyaman berbincang dengan ajeng.
" Eh ya, awas kamu jangan deket deket sama pacarnya Beni"
" Pacar mas beni? kenapa gitu mas" Iya pun langsung mengerutkan dahinya lagi sembari memandangku
" Namanya juga kan ajeng, takutnya kesetrum atau nempel"
" Makannya jangan mikir aneh aneh" kataku sembari mengacak ngacak rambutnya
" iiih mas Gio gak lucu ah"
Sedang asik ngobrol dengan ajeng, tiba tiba Gendis menelpon , yang awalnya tidak aku angkat.
" Kenapa gak diangkat mas?"
" Lagi sibuk"
" Siapa yang sibuk?
" Aku"
" Sibuk apa?" katanya sembari mengernyutkan dahi dan memandangku
" Sibuk ngambil hati kamu"
" Kenapa mas mau ngambil hati aku?"
" Mmm supaya mau jadi pacar aku"
" Hahaha mas Gio dari tadi bercanda aja."
Hp ku kembali berbunyi, aku pun langsung mengangkatnya.
" Ya apa?... masih di tempat nikahan... iya jadi... iya aku berangkat sekarang" kataku kemudian menutup telpon.
" Pacar mas ya?"
" Bukan, pacar mas Gio kan ada di sini" kataku sembari tersenyum memandangnya.
"Mas Gio orangnya humoris ya dari tadi bercanda terus"
" hehehe kamu punya pacar?"
" Saya gak mau pacaran mas, saya mau langsung menikah aja. Jadi pacarannya pas udah nikah aja"
__ADS_1
" Bagus kalau gitu, tunggu aku ya. Nanti aku langsung lamar"
" Iya mas, gimana mas aja" Katanya sembari tersenyum
Aku yakin dia saat itu menganggapku main main. Karena dia tak serius menanggapi kata kataku.
" Kamu masuk lagi aja, aku ada urusan dulu. Takutnya kalau sendirian diluar ada yang culik kamu"
" Ih mas Gio emangnya aku anak kecil"
Saat aku ingin mengantar Ajeng, tiba tiba ayah dan ibu menghampiri kami.
" Yah, mah. pulang sekarang?"
" Iya, eh ini siapa?" kata mamah yang melihat ajeng
" Saya ajeng Nyonya, putri pak udin pekerja nyonya sama tuan di villa"
" Ya alloh, kamu cantik sekali nak, iya kan pak?"
" Iya mah" Kata ayah sembari tersenyum padaku.
" Kamu kok bisa kesini?" Kata Mamah sembari terus memegang tangan Ajeng
" Saya kerja sama Mbak Rara bu"
" Rara?"
" Pacar angga mah" sambungku
" Ooh iya"
" Kamu mau ikut kami pulang?"
" Tidak usah nyonya saya nunggu Mbak Rara dulu"
" Yaudah kapan kapan kamu main ke rumah ya!"
"Iya Nyonya"
" Yasudah kami pulang dulu" kata mamah yang kemudian memeluk ajeng
" Kamu pulang juga Nak?" setelah melepas pelukan nya pada ajeng
" Iya mah, Gio ikut pulang. Mau ambil motor"
" Kamu mau kemana lagi?"
" Ada urusan sebentar"
" Kami pulang duluan ya" kata Ayah yang kemudian menepuk bahu ajeng
" Iya tuan" Mamah dan ayah pun berjalan menuju mobil.
" Aku duluan"
" Iya mas Gio . hati hati dijalan."
Setelah memastikan Ajeng masuk ke gedung aku pun menjalankan mobil.
" Ajeng cantik ya Yah?"
" Iya mah, gak nyangka dia cantik kalau dandan. Ayah sampe pangling liatnya.
" Gimana Gio, kamu tertarik gak sama kecantikan Ajeng?"
" Iya mah, kita langsung lamar aja"
" Kamu serius nak?"
" Iya mah"
" Terus gimana sama keluarga pak Aji?" Kata ayah hawatir
" Tenang aja Yah, Gendis juga belum tentu mau sama aku"
" Mamah sama Ayah terserah kamu aja , mau gimana sama Pak Aji"
__ADS_1