
Setelah percakapanku dengan Angga, kemudian aku memutus kan menyelesaikan pekerjaanku tadi di kantor, Aku kemudian membawa laptop dan dokumen dikamar dan kembali ke ruang Keluarga.
" Kak sedang apa?" Kata dina sembari duduk disampingku.
"mmm lagi beresin pekerjaan Ayah yang belum selesai dikantor" Kataku sembari masih sibuk membaca satu persatu dokumen.
" Kakak hebat bisa ngerjain semuanya, padahal kakak sibuk sama acara kelulusan" Entah apa yang Dina pikirkan saat itu, bukannya dia memelukku untuk pujiannya, diamalah terlihat sedih. Aku kemudian meletakkan laptop dan merangkul Dina, menyandarkannya dibahuku.
" Kenapa kamu sedih?"
" Ayah mau sekali aku kayak kakak, memimpin perusahaannya tapi..."
" Tapi apa?" tanyaku semakin heran
" Aku gak bisa kayak gitu, aku terlalu bodoh dan tak mengerti masalah bisnis. Apalagi penampilan aku yang gak pantas seba...." Sebelum Dina melanjutkan perkataannya aku membungkam mulutnya dengan bibirku.
" Aku ada disini, kamu gak perlu paham masalah bisnis, cukup cintai aku, jaga komitmen kita dan tersenyumlah jangan menyembunyikan perasaan kamu ke aku. Aku mau apa pun yang kamu rasakan kamu utarakan ke aku" Kataku sembari menatapnya dalam dan mengecup keningnya.
Kenyamanan antara kami mulai terwujud, aku dan Dina berjanji akan benar benar menjaga hubungan kami dengan dasar kejujuran.
Dina yang kelelahan melihatku bekerja tertidur di sofa, kakinya yang mungil ada di pahaku, ku usap lembut kakinya agar dia merasa nyaman dan nyenyak dalam tidurnya.
Aku yang juga kelelahan bekerja, lalu tertidur disofa, Aku yang bersandar dikursi dengan masih memegang kaki dina.
Keesokan paginya aku terbangun karena sedikit goncangan pada bahuku dan panggilan yang ramah.
" Adeeen adeen" Kata bi inah membangunkanku. Aku terbangun dengan posisi yang berbeda saat aku tidur, mungkin Dina yang sudah merubah posisiku.
" Iya bi kenapa?" Kataku sembari mengucek ngucek mata.
" Itu den, saya disuruh ibu sama bapak bangunin aden"
" Mamah sama ayah udah pulang bi?" Kataku sembari menurunkan kakiku dari sofa.
" Iya sudah, tadi pagi den"
"Dina kemana?"
" Non dina udah berangkat dianter supir, Aden ada yang mau bibi ambilin?"
" Enggak bi" Bi inah kemudian pergi menuju dapur, Aku yang masih belum sadar betu lalu berdiri dan menghampiri mamah dan ayah yang sedang sarapan.
" Pagi mah, Yah" kataku yang kemudian duduk dan minum air putih.
" Pagi sayang"Kata mamah yang kemudian mengusap punggungku.
__ADS_1
" Kamu ini bangun jam segini, kasian Dina tadi hampir berangkat naik bis. Untung saja Ayah pulang hari ini, jadi dina bisa diantar supir"
" Sudah Yah, mungkin Gio kecapean. Tadi Dina kan udah bilang" Bela mamah padaku
" Yah Aku baru tidur jam 3 subuh. Banyak pekerjaan Ayah dikantor, kemarin aku gak sempet jadi aku bawa kerumah"
" Kamu kebanyakan nongkrong jadi gak bisa atur waktu kamu" Kata ayah yang masih marah dengan ku karena beranggapan tak bisa menjaga Din.
" Maaf Yah, aku mau mandi dulu" Kataku yang kemudian beranjak dari dudukku yang ingin menghindar dari kemarahan Ayah.
" Kamu ini banyak alasan" Kata ayah semakin kesal
" Sudah yah" Kata mamah sembari menenangkan Ayah
" Terus kapan kamu serius dengan hidup kamu? Kamu ini penerus Ayah satu satunya" Kemarahan ayah semakin memuncak.
" Kapan kamu lulus kuliah dan menikah? Ayah tak tau sampai kapan Ayah ada disini, kamu tau penyakit ayah yang sewaktu waktu bisa mengancam kehidupan ayah" Kata ayah yang selalu membahas penyakit jantungnya. Hal itu selalu menjadi alasan ayah untuk menyudutkanku.
" Nanti aku menikah kalau Dina udah lulus SMA" Kataku sembari pergi. Ayah dan Mamah langsung berbalik menatapku
" Apa maksud kamu Nak" Kata mamah yang penasaran dengan ucapanku. Aku tak menghiraukan pertanyaan mamah, aku langsung pergi kekamar untuk Mandi.
Saat aku sedang bersiap ketukan dipintu terdengar. Aku langsung membuka pintu dan melihat Bi inah yang berdiri disana.
" Itu den Ada non Marsya"
" Marsya?"
" Iya den"
" Dimana sekarang?"
" Diruang tamu sama ibu sama bapak"
" ****** gue" Kataku sembari memegang dahi. Aku langsung turun setelah mengambil tas, hp dan dompet.
Kulihat mamah memandang Marsya dengan tatapan sinis, memang dari dulu mamah tak suka aku berhubungan dengan Marsya. Menurut filing seorang ibu, Marsya adalah orang yang tidak baik. Jadi selama aku berpacaran dengannya mamah tak pernah sekalipun ramah pada Marsya.
" Sya, kenapa kamu kesini?" Kataku sembari melihat kemarahan diwajah mamah
" Aku mau ketemu kamu dan ngobrol diluar" Katanya dengan tatapan sedih"
" Mah aku keluar dulu sama Marsya" Kataku sembari pamit
" Kenapa gak ngomong disini aja gio" kata mamah sedikit meninggikan suaranya, Ayah kemudian memegang pundak mamah
__ADS_1
" Biarin aja mah, mungkin ini masalah pribadi" Kemarahan mamah mereda
" Aku pergi dulu" Kataku yang kemudian mengajak marsya, ketika marsya ingin menjabat tangan mamah, mamah malah pergi.
" Mah..." kata papa yang kemudian menyusul mamah.
Kamipun pergi kesebuah lestoran yang tak jauh dari rumah, mungkin sekitar 10 menit dari rumah.
Kami memilih tempat duduk dan setelah pesanan makanan dan minuman kami datang aku mulai membuka pembicaraan, karena sedari tadi Marsya hanya terdiam
" Ada apa Sya?"
" Aku mau minta maaf " katanya yang mulai menitihkan air mata
" Kamu kenapa?" Aku mulai panik melihatnya menangis seperti itu, beberapa orang disana melirik kami dan saling berbisik
" Sya jangan nangis, kamu kenapa? kalau masalah kemarin kemarin aku udah maafin kamu "
" Makasih Gio" Kata Marsya yang kemudian mulai menghentikan tangisannya.
" Aku udah putus sama cowok aku Gio, ternyata dia udah punya istri dan 2 anak, padahal sama aku dia bilang masih bujang. Aku salah sama kamu. Mungkin ini balasan buat aku karena ninggalin kamu. Aku nyesel Gio" Kata Marsya yang kemudian memegang tangan ku.
Aku hanya terdiam dan merasa simpati padanya.
" Sabar Sya, mungkin ini yang terbaik buat kamu. Aku yakin ada tujuan lain kamu dikasih cobaan seperti ini" Kataku sembari membalas pegangan tangannya.
" Makasih Gio, kamu memang baik. Aku nenyesal udah hianatin kamu"
" Gak apa apa Sya aku udah lupain semuanya" Kataku kemudian melepas pegangannya dan mulai memakan makanan yang tadi sudah dipesan.
" Aku mau balikan sama kamu" Kata kata Marsya membuat aku menghentikan kegiatan makanku.
" Kenapa kamu bilang begitu Sya? bukannya waktu itu kamu bilang udah bosen sama aku?" Kataku sembari memandangnya.
" Waktu itu aku emosi Gio, maafin aku"
"Aku udah maafin kamu Sya, tapi kalau buat balikan kayaknya enggak" Kataku yang kemudian melanjutkan makanku.
" Apa kamu gak cinta lagi sama aku?"
"Parasaan cinta sama kamu masih ada Sya, tapi hubungan yang seperti ini gak sehat"
" Maksud kamu apa?"
" Kamu berulang kali nyakitin aku, aku biarin kamu sesuka kamu. Aku bertahan karena cinta aku terlalu besar sama kamu. Tapi kini aku sadar Sya, cinta seperti ini gak bisa dilanjutin.
__ADS_1