
Karena akad pernikahan mulai pukul 8 pagi aku berangkat pukul 7 bersama Ayah dan mamah menggunakan mobil.
" Gio, apa kamu gak bawa pasangan?"
" Enggak mah, lagian aku kesana cuma sebentar, soalnya aku juga banyak pekerjaan di kantor"
" Yah" kata mamah yang memberikan sinyal pada ayah untuk berbicara
" Gio"
" Iya yah"
" Nanti malam keluarga pak aji mau kerumah"
" mmm" jawabku tak ingin tau
" Katanya mereka mau melamar kamu" Sontak aku langsung melihat Ayah yang berada disampingku, dan kemudian menghentikan mobil yang aku kemudikan setelah dipinggir jalan.
" Maksud ayah?"
" Katanya mereka mau kamu menikah dengan anak mereka"
" Terus ayah setuju?" Desakku pada ayah karena sedikit tidak terima
" Ayah dan Mamah nunggu keputusan kamu"
Mendengar hal itu aku sedikit tenang dan kemudian melanjutkan perjalanan.
" Gimana menurut kamu nak?"
" Aku anggap Gendis cuma sebagai patner kerja Yah, aku gak ada sedikitpun rasa suka yang berlebihan sama dia"
" Apa kamu masih memikirkan Dina?"
" Masih mah, Dina adalah wanita yang paling sulit aku lupakan. tapi Dina bukan penghalang yang mamah dan maksud. Aku cuma belum menemukan wanita yang cocok untuk menggantikan posisi Dina"
" Ajeng bagaimana?" Kata mamah yang kemudian memandangku lewat kaca sepion
" Aku gak tau mah" Mamah dan Ayah hanya saling memandang dan tersenyum melihat ekspresiku.
Sesampainya ditempat pernikahan aku langsung berkumpul dengan teman yang lain.
" Mana pengantinnya?" Kataku pada Beni
" Masih dandan"
" Angga belum datang?"
" Udah, tadi dia anterin asisten Rara ke ruang pengantin. Katanya mau ikut di hias"
" Memangnya sekarang Rara punya asisten?"
" Punya lah, seoarang Rara udah jadi Pemilik RS yang sibuk, jadi butuh asisten pribadi" Kata seno yang tiba tiba muncul sembari membawa makanan
" Pernikahan belum mulai lo udah makan aja" kataku
" Eeh lo salah, kalau nunggu nanti gue harus ngantri, kalau sekarang kan enak" katanya sembari makan
" cewek cewek kalian juga dihias?"
__ADS_1
"Pasti, kan jadi pagar betis" kata Beni sembari merangkulku
"Pagar ayu Beeeen" kataku sembari melepas rangkulannya.
" Iya maksud gue itu haha"
" G, udah datang?" Kata angga sembari merangkulku dari belakang.
" Iya barusan"
" Gak bawa pasangan?" Katanya sembari tersenyum
" Enggak gue tadi kesini sama Ayah sama Mamah, gue juga gak bisa lama. kalau udah akad gue langsung pergi. Banyak kerjaan dikantor."
" Lo masih aja kerjaan jadi alasan G" kata angga sinis sembari melepaskan rangkulannya
" Jadi gak ikut foto foto dong?" kata Beni
" Gak seru G kalo gak ada lo" Kata seno merangkulku.
" Iya sebentar aja gue ikut" kataku yang tak mau mereka kecewa.
Saat aku sedang berbincang dengan teman teman kampus dulu yang juga datang, hp ku berbunyi karena pesan yang masuk, aku langsung membuka pesan itu setelah berpamitan pada teman yang sedang aku ajak bicara.
" Mau kemana G?" Kata angga yang melihatku akan keluar gedung
" Keluar dulu, gue mau nelpon seseorang"
" Acaranya bentar lagi mulai "
" Iya bentar aja"
Aku kemudian menelpon Gendis karena dia terus mengirim pesan dan melakukan panggilan.
Aku langsung menutup panggilan dan memasukan kembali hpku ke saku.
Karena memikirkan apa yang akan Gendis katakan ahirnya aku memilih menghidupkan sebatang rokok dan duduk dibawah pohon yang terdapat kursi besi berhias warna hitam dan emas.
Tak terasa satu batang habis dan aku pun tersadar acara pernikahan yang sedang aku hadiri, aku pun kembali ke dalam. Ternyata acara akad sudah selesai. Para pengantin sudah duduk dikursi pengantin dan menyalami semua tamu.
" Kemana aja lo G" Tanya beni
" Sorry gue tadi ada urusan dulu"
" Tadi Bagas nanyain lo" Kata Seno"
" Kayaknya lo sibuk banget G" Kata angga sedikit sinis
" Sorry Ga, gue gak maksud"
Aku kemudian naik ke panggung bersama Angga, Seno dan Beni.
" Selamat ya" Kataku memeluk Bagas
" Iya makasih Sob" Kata bagas balas memelukku
" Foto dulu ya" Kata seorang yang memegang kamera, kemudian menyuruhku, angga, Seno dan Beni berdiri berjejer bersama Bagas dan Mira.
" Sob kita foto pasangan" Kata bagas setelah beberapa jepretan foto
__ADS_1
" Gue gak bawa pasangan Gas, gue turun aja" kataku kemudian melangkah turun dari panggung, tapi Angga menghentikan ku.
" Mau kemana?"
" Turun, gue gak bawa pasangan kan" kataku memaksa turun
" Tunggu, ayo kesana lagi" Kata Beni sembari tersenyum
" Apaan sih kalian"
Tak lama Rara, Ajeng, Putri dan seseorang yang tidak asing naik bersama Seno.
" Ayo semua udah kumpul" Kata seno kemudian memasangkan Gadis itu bersamaku.
Gadis itu hanya tersenyum melihatku dan kemudian berdiri di sampingku, aku menatapnya seakan mengenali siapa dia. Tapi entah dimana? Aku terus menatapnya dengan perasaan penasaran dan takjub melihat kecantikannya.
" Maaf mas tolong liat ke kamera"
" G liat ke kamera" Kata Seno sembari tersenyum licik
" Iya" kataku yang kemudian menatap kamera. Setelah beberapa jepretan aku dan gadis itu disuruh berfoto berdua oleh Rara, walaupun terasa canggung ahirnya aku melakukannya.
" G rangkul" Kata Angga yang sembari mencontohkan pada Rara. Aku hanya menggelengkan kepala, tapi kemudian Bagas merangkulkan tanganku ke bahu gadis itu.
Awalnya aku takut gadis itu marah ketika melihat ke arahku tapi ternyata dia hanya tersenyum dan menoleh lagi ke kamera.
Setelah beberapa jepretan foto aku kemudian turun setelah berpamitan pada pengantin.
" Mau kemana G?" Kata Angga yang kemudian menarik tanganku
" Udah kan? gue pulang dulu"
" Lo gak mau kenalan sama asisten Rara?"
" Dia asisten Rara?" kataku terkejut
" Iya, asisten pribadi aku" kata Rara yang kemudian menggandeng gadis itu
" Kenalin G ini asisten aku" kata Rara sembari tersenyum. Saat gadis itu mengulurkan tangan akupun menyambutnya.
" Gio" kataku
" Saya tau mas Gio, saya ajeng anaknya pak udin" kata gadis itu sembari tersenyum menatapku
" Ajeng?" kataku terkejut karena tak percaya ajeng bisa secantik ini jika didandani.
" Iya mas Gio" katanya sembari melepas tangan ku. Kulihat sahabatku tersenyum puas dengan ekspresiku yang terkejut.
" Cantik ya G?" Kata seno sembari merangkul angga
" Kaget ya G? hahaha" Kata angga yang seperti puas melihat ku terpaku melihat kecantikan ajeng.
Aku tak bisa berkata apa apa saat itu.
" Yank makan dulu yuk aku lapar nih" Kata angga pada Rara yang kemudian ia rangkul
" Iya nih gue juga lapar" Kata Seno yang kemudian pergi bersama beni dan pacar pacar mereka.
" G, aku titip Asisten aku dulu ya" teriak Rara sembari tersenyum
__ADS_1
Merekapun meninggalkan kami berdua berdiri sembari memandang satu sama lain.
Entah apa yang benar benar aku rasakan, Gugup, senang, takut semua menjadi satu.