
" Iya Mas G, jangan hawatir. Putri juga bisa bantu" kata Putri
" Ajeng juga bisa, sekalian ajeng sama ajeng kita dueet" kata ajeng yang kemudian membuat semua tertawa.
" Iya sayang" kata beni sembari mengacak rambut pacarnya.
" Makasih gue gak tau harus apa kalau gak ada kalian"
" Makannya mas, jangan nunggu mas angga marah dulu baru cerita" kata putri sembari tersenyum
" Iya" kataku sembari tersenyum dan memeluk semua sahabatku.
Percakapan hari itu tentang keadaan ajeng dan pengobatan yang harus ajeng lewati di RS untuk sembuh, semua Rara bahas. Bahkan cara penyembuhan dengan metode pendekatan dengan Ajeng pun kami akan coba nanti.
" Ra lama gak ajeng di RS?" Kataku memastikan
" Kata dokter disana sih kondisi Ajeng yang mulai membaik bisa jadi ajeng pulang lebih cepat. Apalagi sekarang Ajeng mulai komunikasi dengan perawat yang merawatnya."
" Mas G, apa gak coba mas kesana lagi? jenguk gitu" Kata putri
" Gak tau, gue sibuk di kantor"
" Apa gak ada libur mas" Kata mira
" Iya lagian jaraknya gak jauh jauh amat kan?" kata Ajeng
" Gue gak tau, gue juga masih gak tega kalau liat ajeng kondisinya kayak gitu."
" Tapi kondisi Ajeng lebih baik lo G" Kata angga seolah tau
" Maksudnya?"
" Besok gue sama temen temen mau kesana, lo ikut?"
" Kemana?"
" Ke RS tempat Rara kerja"
" Mau ngapain?"
" Mau liburan, kita udah rencana lama. Makannya kita cuti dari tempat kerja ya kan?" kata Beni sembari tersenyum
"Lo ikut?" Kata Bagas sembari menepak bahuku
" Gue banyak kerjaan, gue gak bisa ikut"
" Tapi pas nikahan gue lo pasti dateng kan?"
" Gue usahain gas, lagian masih lama kan?"
" Ya lumayan sekitar 2 bulan lagi, iya kan yank?"
" Ya, pokoknya nanti ada di undangan tanggal dan waktunya" kata mira
" Pokoknya lo harus datang, kalo gak gue gak mau kenal lo lagi"
" Iya gue pasti usahain gas."
Setelah perbincangan yang cukup lama sampai sampai hari sudah menunjukan pukul 8 malam, aku pun pamit pulang.
" Dari tadi gue gak liat ibu Ga?"
" Oh ibu... ibu lagi dirumah sodara yang mau adain acara sunatan.Kenapa?"
__ADS_1
" Gak, gue cuma udah lama aja gak ketemu ibu. Ya udah gue balik duluan"
" G, kalo lo butuh kita bilang aja" kata angga yang mengantarku sampai gerbang.
" Iya makasih Ga, kalian memang sahabat gue"
Akupun langsung mengenakan helm dan pergi.
Sesampainya dirumah aku langsung kekamar yang sudah dibereskan bi inah dan membaringkan tubuhku diatas kasur.
" Uuuuh ahirnya bisa istrahat juga. Mocci aku kangen kamu.." kataku sebelum memejamkan mata dan tidur
Keesokan paginya seperti biasa setelah aku bersiap aku langsung turun untuk sarapan.
" Gio, ada yang kamu butuhkan lagi untuk di ruang kerja kamu?"
" Gak tau mah, Aku belum liat kamarnya. Malem aku capek banget jadi langsung tidur."
" Kamu kemarin ketemu sama pak Aji?"
" Iya Yah ketemu"
" Gimana? perusahaan kita jadi kerjasama sama perusahaannya?"
" Jadi yah"
"Bagus kalau begitu"
" Katanya Paj aji punya anak perempuan yang lagi belajar bisnis, apa anaknya ikut?"
" Iya ikut mah, namnya Gendis"
" Kamu kenal?"
" Oh, gimana orangnya?"
" Ya gitu, seperti perempuan pada umumnya. Aku berangkat dulu mah" kataku sembari mencium tangan mamah setelah selesai sarapan.
" Maksud mamah apa kamu suka?"
" Enggak mah, biasa aja. Aku anggap dia cuma patner kerja dan temen" Aku pun pergi setelah berpamitan pada Ayah.
Hampir 2 bulan berlalu, aku yang sibuk dengan segala rutinitas kerja dan kerja, sangat jarang berkumpul dengan teman bahkan keluarga. Pernah 2 atau 3 kali aku ikut reuni, itu juga karena Bagas datang langsung ke kantor dan memaksaku meninggalkan pekerjaanku.
Sampai aku pernah datang bersama Gendis karena waktu itu kami baru selesai rapat dan aku menawarkan untuk mengantarnya pulang Tapi sebelum keluar parkiran Beni datang dan langsung memaksaku. Alasan untuk mengantar Gendispun tak dihiraukannya. Ya ahirnya aku mengajak Gendis kesana.
Saking seringnya aku bersama Gendis karena pekerjaan yang menuntut kami seperti itu. Aku jadi hapal apa makanan yang sering Gendis pesan, Melihat hal itu Angga dan yang lain menganggap kami pacaran. Padahal aku sama sekali tidak punya perasaan husus pada Gendis. Aku tetap menganggapnya teman dan rekan bisnis saja.
Sampai suatu hari ketika aku sedang bekerja di rumah, angga dan Seno datang.
" G ini kan minggu masih kerja aja" Kata seno setelah kami duduk di ruang tamu
" Gue gak sempet kerjain di kantor, jadi gue bawa ke rumah. Oh iya kemana yang lain?"
" Mereka lagi bantu persiapan pernikahan Bagas yang tinggal 2 hari lagi"
" Yaampun gue lupa"
" Lo datang kan?" Kata angga serius
" iya gue pasti datang"
" Gue harap lo gak ingkar janji G"
__ADS_1
" Pasti gue datang Ga"
" Oke, lo meu ikut ke tempat acara sekarang buat bantu kita apa enggak?"
" Sorry No, gue gak bisa. Kita ketmu pas acara aja Ya"
" G, lo sama cewek yang kemarin kemarin datang ke tempat nongkrong pacar lo?" kata seno menyelidik
" Gendis?"
" Iya dia" Kata angga penasaran
" Bukan, dia cuma patner kerja."
" Lo ada rasa suka sama dia?" Sambung angga
" Enggak, emang?"
" gue cuma nanya, No pulang yuk"
" Kok cepet banget?"
"Lo juga lagi sibuk kan? kita pulang aja"
" G, lo udah gak asik, udah banyak berubah" Kata Seno sembari pergi mengikuti angga yang mendahului ke luar rumah.
Setelah mereka pergi aku kembali ke ruang kerja dan duduk didepan laptop.
" Apa maksud Seno? Apa gara gara gue jaraang ikut ngupul?....aaaaagh "Kataku yang kemudian berbaring di sofa karena tak bisa konsentrasi karena mengingat perkataan Seno.
Aku kemudian menelpon sekertaris dan menyuruh mengosongkan jadwalku selama 3 hari kedepan. Aku berencana bersiap siap membeli hadiah pernikahan dan membantu Sahabatku mengurus pernikahannya.
Keesokan harinya Aku pergi ke rumah Angga pagi pagi sekali.
" Bu" kataku menyapa ibu angga yang sedang menyapu lantai.
" Nak Gio, sehat nak"
" Alhamdulillah bu sehat, ibu sendiri?" kataku sembari mencium tangannya
" Ibu juga sehat na"
" Ada angga bu?"
" Angga menginap di rumah nak bagas, Coba telpon saja"
" Oh iya bu"
Aku pun langsung menelpon Angga dan tidak diangkat, ku coba telponn Bagas juga tidak dijawab.
" Saya pulang saja bu" Kataku pamit
" Kenapa buru buru?"
" Saya ada pekerjaan lain bu"
" Oh iya kalau begitu, hati hati di jalan ya"
" Iya bu terimakasih."
Aku pun pergi dari sana dan menuju tampat acara pernikahan berlangsung nantinya, ternyata mereka juga tidak ada, 6ang ada hanya dekorasi dekorasi indah yang telah dipasang.
" Kalau saja kamu masih ada Mocci imut, kita pasti akan mengadakan pernikahan seperti ini."
__ADS_1
Aku pun pergi dari sana dan pulang ke rumah. Tadinya aku ingin menelpon angga tapi aku urungkan karena aku takut mereka akan tidak nyaman dengan kedatanganku yang tiba tiba