Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
31. Perubahan Ajeng


__ADS_3

Keesokan paginya aku terkejut karena Ajeng tak ada disampingku, aku langsung berlari dan hanya mengenakan celana pendek.


" AAAAGH" kata rara yang tengah duduk dikursi. Angga kemudian mendorongku masuk ke kamar.


" Apaan sih lo G? keluar gak pake baju" Kata angga sedikit kesal


" Sorry, gue gak tau kalian ada disini" kataku yang kemudian duduk diujung kasur


" Gue takut Ajeng ngelakuin sesuatu yang gak diinginkan"


" memangnya kenapa G?" tanya angga sembari duduk disampingku


" Kemarin dia lukain tangannya sendiri pake garpu, katanya buat ngilangin luka bakar ditangannya"


" Tapi pas gue sama rara datang Ajeng biasa aja tuh, malah kayak dulu kembali periang"


" LO disini udah lama?"


" mmm ada kali setengah jam. Gue kesini bawa bahan makanan, katanya Rara mau masak sama Ajeng, Tapi ajeng malah nyuruh kita duduk dan dia masak sendiri."


" Sukur dech, gue takut dia ngelakuin hal kayak kemarin"


" LO malem habis..." katanya sembari tersenyum licik


" iyaa... kenapa? pengen?" kataku yang kemudian mengambil handuk


" Pantes lo gak pake baju, hahaha"


" Udah ah gue mandi dulu, Gue telat ke kantor"


" Lo G, kerjaan terus. Baru juga nikah, harusnya lo nikmatin dulu bulan madu"


" Terus ajeng mau kasih gue makan apa? kalau gak kerja? makan batu?" kataku sembari masuk kamar mandi.


Lega rasanya mendengar sikap ajeng yang kembali seperti dulu. Setelah aku mandi dan bersiap aku langsung menghampiri Rara dan Angga di meja makan.


" Kalian gak ada kerjaan ya? pagi pagi datang ganggu orang baru nikah?" kataku sembari duduk


" Mas gak baik bilang gitu, Mbak rara sama mas angga kan temen kita" Kata Ajeng sembari mengambil piring dan meletakkannya dihadapanku.


" Betul tuh Ajeng, gue setuju" kata angga sembari mengacungkan 2 jempol


" Yank, kalau kamu baik sama temen temen aku, mereka bakal ngelunjak"


" Apa an sih, kita tuh baik tau. Kesini bawa bahan makanan sehat buat ajeng, iya kan?"


" Alasan" kataku sembari melahap makanan


" Bilang aja mau dimasakin istri gue"


" Hahaha itu juga boleh. Enak masakan kamu Jeng"


" Makasih mas, masakan Mbak Rara juga enak"


" Kalau masakan Rara is the best" kata angga sembari mencium pipi Rara.


" Kamu gak makan?"


" Iya nanti, saya ambil dulu buah buahannya"


Aku kemudian menarik Ajeng ke pangkuanku.


" Suapin aaa"


" Mas..." katanya sembari melirik Angga dan Rata


" Anggap aja gak ada" Kataku yang kemudian membuka mulut ku. Ajeng kemudian menyuapiku dengan tersipu karena malu kepada Angga dan Rara


" Saya ambil dulu buahnya" Kata ajeng sembari tersipu.


" Lo bisa aja G"


" ih sok romantis" Kata Rara sinis


" Bilang aja sirik" ledekku.


" Oh iya habis ini kalian mau kemana?"


" Mau ngambil baju pengantin dibutik. emang kenapa?"

__ADS_1


" Enggak, takutnya kalian gak ada acara terus ganggu gue lagi"


" Maaas..."


" Gak apa Jeng, si G emang gitu orangnya. Kita udah biasa" kata angga sembari tersenyum.


Setelah selesai makan merekapun pergi.


" Yuk berangkat" kataku pada ajeng setelah mengantar Rara dan angga


" Saya dirumah saja mas, apalagi dandanan saya kayak gini. Takutnya nanti bikin mas malu disana"


" Kita ke tempat temen aku dulu, yuk" Kataku kemudian ajeng masuk kedalam mobil.


Sesampainya di depan Salon teman waktu kuliah aku langsung masuk.


" Rin"


" eh Gio, apa kabar?" katanya sembari besalaman dengan aku dan ajeng


" Baik, Lo sendiri?"


" Baik baik, ada apa nih tumben"


" Gue mau lo dandanin istri gue, terus pilihin baju baju yang cocok dan gue mau rambutnya potong sebahu"


" Ini istri lo? kapan nikah?"


" Iya istri gue, belum lama"


" Oh iya, lo tau Marsya gagal nikah?"


" Gak tau, gue lama tinggal diluar negeri jadi gak tau gosif"


" Ah lo gak berubah, Yaudah lo mau tunggu apa gimana?"


" Gue mau ke kantor, tapi nanti gue kirim sopir buat jemput istri gue"


" Oke kalau begitu, Ayo Mbak"


" MAS..."


Sesampainya dikantor aku menyuruh sekertarisku mengirim supir untuk menjemput Ajeng dan aku menghadiri rapat.


" Pak Gio, Istri bapak sudah diruangan bapak" " Susah berapa lama kita rapat?"


" Sekitar 3 jam pak"


" Baiklah suruh tunggu sebentar lagi"


" Baik pak"


Setelah selesai rapat aku langsung menemui ajeng diruangan, penampilan ajeng yang sangat berubah membuatku terpaku sekejap.


" Mas... gak pantes ya?"


" Cantik. kamu pantas kok, Aku suka" Kataku kemudian memeluknya


" Apa lagi kalau pakaiannya yang terbuka" kataku sembari berbisik


" Tapi kalau terbuka luka bakarnya..."


" ssssst, maksud aku buat di kamar" kataku sembari tersenyum


" Kalau di luar harus gini, biar orang gak tau kalau kamu cantik dan seksi"


"Aaah mas Gio"


" Apa? gak salah kan? aku gak mau kamu diambil orang nanti"


" Oh iya mas, ini yang harus mas bayar dan itu barang barangnya" Kata Ajeng sembari memberikan secarik kertas


" Mas kita balikin baju baju nya aja, biar mas gak sebanyak itu bayarnya"


" kenapa? kamu gak suka pakaiannya?"


" Bukan gitu, tapi mas harus bayar berjuta juta hanya buat saya" Katanya sembari menunduk


" Aku kerja buat kamu, jadi apa salahnya? gak ada kan. Udah jangan pikirin lagi"

__ADS_1


Aku langsung membayarnya lewat rekening.


" Ayo berangkat" Kataku setelah memakai jasku


" Mau kemana?"


" Kita kan mau ke mol jalan jalan"


" Tapi mas.."


" Ayo, sini aku bawa sebagian" kataku sembari menggandeng Ajeng keluar ruangan.


" Mas..."


" mmm apa?"


" banyak yang liatin"


" emang kenapa?"


" Mas gak malu jalan sama aku?" katanya sembari menunduk dan mencoba melepaskan peganganku.


" Kenapa malu, kamu istri aku. Kalau kamu istri orang lain baru aku malu"


Sesampainya di mobil aku langsung menjalankan mobilnya menuju Mol.


" Mas boleh tanya?"


" Iya boleh, tanya apa?" kataku sembari fokus menyetir


" Mbak Marsya itu siapa?"


" Marsya tuh pacar waktu kuliah, kenapa gitu?"


" Tadi pas mas pergi saya ketemu Mbak marsya di salon Mbak Rini"


" Oh terus"


" Mbak Marsya cantik kayak model" Katanya sembari memandangku


" mmm, aku kan udah lama gak ketemu sayang, jadi gak tau dia sekarang kayak apa"


" Kalau mas ketemu pasti..."


" Pasti apa? Suka? Cinta?"


" iya" katanya kemudian memalingkan wajahnya memandang keluar jendela


" Aku punya kamu Sayang, lagian kalau dia secantik bidadari pun aku gak mau"


" Kenapa? engga? katanya kembali memandangku.


" Karna aku punya bidadari ku sendir yaitu kamu"


" Bidadari cacat" gumamnya sembari memalingkan wajah


Aku langsung menghentikan mobil di pinggir jalan.


" Sayang. . . kamu cemburu?" kataku sembari memegang tangannya


" Saya gak cemburu mas"


" Terus? Apa?"


" Saya takut mas ninggalin saya"


" Ninggalin gara gara Marsya? itu gak mungkin sayang. Mau ada seribu wanita cantik pun aku gak mungkin ninggalin kamu"


" Kenapa enggak?


" Karena kamu istri aku, aku nikahin kamu untuk nemenin sisa umur aku. Bukan buat aku sakiti."


Ajeng kemudian menangis sembari memandangku.


" Yank, aku gak kayak edo yang dengan mudah ninggalin kamu demi wanita cantik, aku bukan dia. Aku adalah aku, yang sayang sama kamu dan mau buat kamu bahagia di sisi aku"


Aku kemudian memeluknya.


" Aku gak akan pernah ninggalin kamu dan hianatin kamu. Kamu tak perlu percaya, cukup lihat dan rasakan pembuktiannya"

__ADS_1


Setelah memastikan dia baik baik saja aku pun langsung melajukan mobil lagi


__ADS_2