Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
16. Mulai terbuka


__ADS_3

Aku kemudian menghentikan langkahku dan berbalik ke arah Dina.


" Ayo ikut" Kataku sembari menarik tangan Dina.


" Yah, mah Aku sama Dina ke kamar"


Mamah dan Ayah kemudian tersenyum.


Aku dan Dina kemudian pergi ke kamarku dan membiarkan pintunya terbuka.


" Haaaah kayak habis sidang aja gue, tegangnya minta ampun" Kataku sembari membaringkan tubuh di kasur. Dina kemudian duduk dipinggir kasur disampungku. Dia memperhatikan seisi kamarku yang penuh dengan poster motor dan mobil sport.


Aku yang kemudian mengaktifkan hp ku lagi dan mendapati 20 chat dari Bella dan Marsya.


" Kamar kakak kenapa penuh dengan poster? gak penuh dengan foto cewek kakak" katanya sembari terus mengamati dari jauh semua yang ada dikamar.


" Dulu Marsya gak suka aku pajang fotonya dikamar"


" mmm gitu"


" Kalau kamu suka?" kataku sembari masih sibuk mengotak atik hp


" Kalau kakak suka aku juga suka, aku hargain apa keputusan kakak"


" Kenapa gitu? kenapa kamu gak maksa aku?"


" ya karena hubungan yang diawali keterpaksaan gak bakal bisa membuat orang yang menjalaninya nyaman"


" Apa kamu mau aku nyaman sama kamu?"


" Iya" Jawabnya singkat sembari memandangku


" Gimana kalau aku nyamannya yang buat kamu sakit hati?"


" Itu berarti kakak egois, dan itu juga gak baik dalam hubungan"


" Terus gimana caranya kamu nyaman aku nyaman?"


"Caranya dengan kita saling terbuka dan gak ada yang disembunyikan dan kita harus saling berkomunikasi dengan apa yang kita rasakan" Aku kemudian menatapnya dan mengabaikan hp ku yang menyala.


" Sini" Tarikku ke Dina agar ikut berbaring disamping ku.


" Mau buka bukaannya sekarang?" godaku pada dina sembari mendekatkan wajaku dengan wajahnya


" Bubukan itu maksudnya" katanya dengan gugup dan pipi yang memerah, sontak aku tertawa dan kemudian mencium keningnya.


" Nih, kamu yang balas" Kataku sembari memberikan hp ku


" Kenapa?"


" Biar kamu tau apa isinya, aku mau tidur dulu. capek" Kataku yang kemudian memeluknya dan menutup mata.


Tak kurasa hari sudah pagi, aku benar benar tertidur setelah memeluk Dina. Aku yang meraba raba kasur dengan mata tertutup tidak menemukan Dina disana, hanya ada hp yang tergeletak.


Aku kemudian membuka mata dan menghidupkan hp ku, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

__ADS_1


Aku kemudian bagun dan duduk dipinggir kasur, mengucek ngucek mataku yang masih terasa silau. Kemudian aku memutuskan untuk langsung mandi setelah melihat beberapa chat Marsya dan Bella yang dibalas Dina.


yang isinya.


" Gio sayang malam minggu keluar yuk ! kita malam mingguan, aku mau nostalgia sama kamu"Pesan dari Bella


Balasan Dina " Iya"


" Yaudah kita ketmuan ditempat kamu nongkrong aja, katanya kamu malam minggu ada acara disana" Balas Bella lagi


" Iya" Balas Dina lagi


" Gio, aku bener bener mau berubah dan mau balikan sama kamu. Aku mohon maafin aku" Kata Marsya


" Iya aku maafin" Balas Dina


" Kamu mau kan balikan lagi sama aku" Balas Marsya lagi


" Aku gak tau"


" Yaudah, kita ketemuan saja besok malam, kita bahas lagi ini langsung. Ditempat nanti kamu Rapat sama anak anak kampus" Balasnya lagi


" Iya"


Aku hanya tersenyum dan melempar hp ke pinggir kasur.


Aku kemudian segera mandi, setelah selesai aku langsung turun untuk sarapan, kulihat Dina sedang duduk sendirian sembari mengotak ngatik hp nya.


" Pagi" Sapaku yang membuat Dina mengangkat kepalanya dan tersenyum membalas sapaanku.


" Selamat pagi kak"


Kataku sembari menyeret kursi dan duduk disamping Dina


" Ayah dan Mamah sedang keluar ada urusan katanya"


" Mamah dan Ayah? sejak kapan kamu panggil orang tua aku kayak gitu?" kataku sembari membawa roti dan selai


" Dari tadi pagi, mereka nyuruh panggil gitu. Katanya karna aku bakal jadi menantunya"


Katanya yang kemudian memandangku, aku hanya tersenyum


" Kenapa? Apa kakak gak suka?"Katanya dengan tatapan datar. Aku langsung menghentikan makanku dan memandangnya.


" Aku suka sayaaang"


" Oh ya" katanya sembari menundukan kepala, Aku menghela napas dan menaruh roti yang sedang aku pegang.


" Kenapa?" Tanyaku sembari memegang tangan lembut itu.


" Apa kakak mau balikan sama kak Marsya atau mulai baru sama Kak Bella?"


" hehehe gak mau ke duanya. Aku maunya kamu. Kamu ini pesimis banget kalau bahas masalah ini. Aku gak suka, apalagi ngomongin fisi kamu. Aku gak suka"


Kataku sembari mengambil hp Dina yang dari tadi dia pegang.

__ADS_1


" Aku mau liat isinya"


Didalam hp nya tak ada apa apa, hanya pesan dari Gendis yang menanyakan tugas dari guru.


" Kamu gak punya IG?"


Dia menggelengkan kepala


" Wa? FB?"


Dia masih menggelengkan kepala


" Hahaha, kamu tuh baru turun dari gunung? atau lama tertidur di gua? kamu ini.."


kataku yang kemudian mengusap rambutnya.


" Pantas kamu kayak gini" aku kemudian memegang kedua pipinya


" Kamu percaya aku saja, itu sudah cukup buat kamu mempertahankan aku dan mengikat aku agar aku tetap ada disisi kamu Sayaaang" aku mengecup keningnya


" Cup aku sayang kamu"


Aku langsung melanjutkan makan ku dan kulihat Dina hanya tersenyum sembari tak melepaskan pandangannya.


" Kenapa??? Kalau mau dicium nya di bibir bilang aja" kataku menggodanya, mendengar perkataanku dia langsung memalingkan wajahnya dan memandang lagi hpnya.


Ingin menghindari ku yang mungkin menurutnya akan melakukan hal konyol atau melakukan hal diluar prediksinya.


" Malam ini ikut yuk ke tempat nongkrong, aku ada kerjaan disana. Kalau bosen kamu bisa bincang bincang sama pacar Angga, Beni, Bagas dan Seno" Dina yang terlihat terkejut kemudian memandangku.


" Apa? kok gitu banget liat akunya? Aku salah ngomong ya?" Kataku sembari menyelesaikan satu suapan makanan ku.


" Mereka baik kok, gak bakal gigit kamu. Lagian kata angga kamu udah ketemu Rara kan?"


" Iya udah, kak Rara memang baik" Katanya sembari menundukkan kepalanya.


" uuuuh" ku hembuskan napas yang kutarik dari hidung dengan mulut ku. Aku mencoba memposisikan diriku berada diposisi Dina.


" Sikap kamu yang polos dan selalu minder kalau jalan sama aku itu bakalan ngejadiin orang yang liat kamu tuh malah ngejauhin kamu, apalagi kalau yang liatnya mantan aku. Mereka bakalan anggap kamu itu lemah dan bisa dengan mudah dapetin aku lagi"


" Udaaah" Kataku sembari memegang kedua tangnnya dan merubah posisi duduk kami mejadi saling berpandangan.


" Kamu tuh benar benar kayak kue mochi yang meyembunyikan rasa manisnya tepung putih" Kataku untuk menggoda nya agar iya tersenyum, tapi bukannya tersenyum dia malah cemberut dengan sedikit pandangan kesal


" Apa?" kataku sembari tersenyum


Memang bener kan kayak gitu?" Dasar mocci. Aku ke kamar dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan ,muuuah" Aku mencium keningnya untuk menutup pembicaraan. Aku pun langsung pergi kekamar.


Sebenarnya Dina memang anaknya sulit bergaul, apalagi kalau dia membahas masalah kekurangnnya dia lebih memilih untuk tidak terlihat orang lain.


Padahal Dina itu cantik, imut, lucu dan bisa buat aku selalu memikirkan nya.


Dia hanya merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri dan menutupi kemampuannya.


Ingin rasanya Aku bilang padanya

__ADS_1


" Kamu tuh cantik, gak perlu tinggi atau pakai make up yang berlebih" Apalagi aku sudah melihat semua tubuhnya, aku makin yakin dengan apa yang aku ucapkan.


Lagian cantik itu relatif kan? Bagai mana cara orang memandang dan menilainya...


__ADS_2