
" Aku minta maaf Gio, Maafin aku. Aku janji bakalan berubah demi kamu" Katanya sembari memegang tanganku
" Sya maaf aku gak bisa" Kataku sembari menarik tanganku dari genggamannya
" Aku harap kamu ngerti Sya, aku yakin kamu bisa dapetin apa yang kamu mau"
" Tapi yang aku mau kamu Gio" Marsya menangis lagi
" Kita masih saling sayang dan cinta Gio, ayo kita sama sama lagi bangun hubungan kita yang baru"
" Maaf Sya aku gak bisa, aku harap kamu mengerti keputusan aku" Aku kemudian pergi meninggalkannya yang masih menangis.
Setelah aku membayar semua makanan kemudian aku melajukan motorku kerumah Beni. Disana aku sudah ada acara bersama Angga, Bagas dan Seno. Sesampainya disana aku langsung menghampiri mereka yang tengah duduk di teras rumah.
" Sorry gue telat" Kataku sembari berjabatan dengan mereka.
" Nganter Dina dulu G?" Kata Rara yang duduk disamping Angga
" Enggak, gue ketemu sama Marsya tadi" Sontak mereka langsung memandangku dengan tatapan sengit.
" Apa lo kata?" Tanya Seno
" Iya gue ngobrol dulu sama Marsya di lestoran. Kataku sembari menyalakan rorok
" G, lo masih hubungan sama tuh cewek rubah? Gila lo yah. Mau kemanain Dina?" Kata Angga yang seperti marah
" Bukan gitu Ga" kataku ingin menjelaskan
" Bukan gitu gimana G? Lo tuh gak kapok kapok ya di bodoh bodohin sama cewek rubah kayak Marsya" Kata Beni yang ikut marah sembari menunjuk nunjuk kearahku.
" Mas sabar" Kata Ajeng sembari memegangi lengan Beni ( Ajeng adalah pacar Beni)
" Parah lo G gue kecewa sama lo" Kata bagas yang ikut ikutan marah
" Yang udah, mungkin kak G punya alasan" Kata Mira ( Pacar Bagas)
" Iya, kita denger dulu penjelasan dari kak G, jangan marah marah dulu" Kata Putri ( Pacar Seno)
" Oke apa penjelasan lo G?"Kata Angga yang terlihat sangat marah.
" Gini tadi Marsya kerumah gue buat minta maaf, terus lo pada tau kan nyokap gue gak suka sama dia, gue langsung ajak aja dia ke lestoran deket rumah. Emang sih dia ngaja balikan"
" Jadi lo mau G?" Kata seno
" Parah lo G" Kata Bagas
" Dina mau kemanaain G, cewek sebaik dia lo mau tinggalin?" Kata angga semakin marah sampai sampai dia berdiri yang kemudian diikuti Rara yang terus menenangkannya.
" Gue kecewa Sama lo G" Beni
" Enggak gitu, dengerin dulu. Gue belum selesai ngomong. Intinya gue tolak dia"
Kataku yang kemudian mematikan rokok
" Ya emang si gue masih cinta dan sayang"
" Cukup G, kalo lo hianatin Dina mending lo keluar dari geng kita" Kata angga yang terlihat sangat sangat marah
__ADS_1
" Iya G, gue juga setuju apa kata angga. kalo lo balik sama rubah itu mending kita gak usah jadi sahabat lagi." Kata Bagas
"kok gitu sih" Kataku yang tak terima
" Kalo lo milih percaya sama si Marsya dan gak percaya kita temen lo, buat apa kita Sahabatan lagi?"
Kata Seno yang ikut marah
" Lo mau pilih kita atau Rubah itu? semua keputusan ada ditangan lo G" Kata Beni
" Gue pasti pilih Dina dan kalian sahabat gue"
Mendengar keputusanku kemarahan mereka mulai mereda.
" Inget G kita gak main main sama ancaman kita" Kata Angga yang kemudian duduk lagi
" Udah kan jelas, kita bisa mulai Rapatnya? Rapatny" Kata Ajeng mencairkan suasana.
Setelah Perdebatan kesalah pahaman dan Rapat selesai aku kemudian pamit pulang, Karena hari sudah sore aku langsung pulang kerumah.
Saat tiba didepan rumah aku langsung memasukan motor ke garasi dan kemudian masuk kedalam rumah.
Saat aku akan menaiki tangga ke kamar untuk mandi Mamah memanggil ku dari Ruang keluarga.
" Gio, sini" Kata mamah
Aku kemudian menghampiri mamah yang tengah duduk bersama Ayah, dan didepan mereka ada Dina.
" Iya mah, kamu dari mana baru pulang? "
Kata mamah dengan wajah masam.
" Duduk Gio" Kata Ayah
" Yah aku mandi dulu"
" Ayah bilang duduk" Kata ayah yang meninggikan suaranya. Aku kemudian duduk.
" Kenapa kamu gak jemput Dina? Kamu tau tadi dina naik bis pulang" kata mamah yang mulai marah
" Aku kira tadi Pak udin yang bakalan jemput" " Kamu ini, dikasih tugas buat antar jemput aja gak bisa" Kata Ayah yang semakin marah
" Gak apa apa kok om" Kata Dina membelaku
" Dina kamu jangan membela anak ini" Kata Ayah sembari menunjukku.
" Yah, aku capek mau mandi dan istirahat" Kataku yang kemudian pergi tak menghiraukan panggilan Ayah.
Aku terlalu capek membahas semua ini.
Aku kemudian masuk kekamar mandi, lama aku berendam dan mendinginkan kepalaku.
Setelah selesai dan bersiap siap dan aku turun untuk makan malam bersama Ayah, Mamah dan Dina
" Kapan kamu Pulang?" Kata Ayah sembari tersenyum pada dina
" Besok pagi pagi om" Kata Dina
__ADS_1
Mendengar hal itu aku langsung tersedak
" uhuk uhuk uhuk pulang?" Tanyaku
" Iya pulang memangnya kenapa? disini juga kamu jaganya gak bener. Lagian disana Dina ada sopir, jadi bisa antar jemput" Kata mamah sembari menatapku sinis.
" Kalau dina pulang aku gak bisa ketemu dia setiap hari dong" ucapku dalam hati
" Kamu udah beresin barang barang kamu?" Kata mamah memastikan
" Udah tante"
" Maaf ya tante gak bisa jaga kamu baik baik" " Gak apa apa tante, saya mengerti"
Percakapan yang tak aku mengerti. Aku tak berkata apa apalagi sampai selesai makan.
Setelah selesai makan Kami berkumpul diruang keluarga. Aku terus memandangi wajah Dina yang sedang tersenyum karena cerita mamah. Dia sangat manis dan lucu ketika tersenyum.
" Om denger Ayah kamu bakalan jodohin kamu Din!" Kata Ayah
" Iya om, katanya gitu"
" Ganteng orangnya? Kata mamah sembari tersenyum
" Menurut saya iya"
" Tega nya dia memuji laki laki didepanku" ucapku dalam hati
" Apa kamu cinta sama dia?" Tanyaku sinis pada Dina
" Pasti cinta dong, gak mungkin enggak kan Din. kalau orangnya ganteng pasti gampang sukanya" Kata mamah sembari tersenyum
Aku kemudian masuk kekamar dan marah marah sendiri
" Apa sih maksudnya, bukannya dia cintanya sama gue? kenapa dia mau aja dijodohin? Dasar cewek aneh" Ucapku dalam hati sembari melempar bantal keseluruh ruangan.
Sudah puas marah marah sendiri dan memastikan mamah dan ayah masuk kamar kemudian aku turun lagi untuk mengambil jus. Kulihat Dina sedang membuat susu di gelas.
Kuhampiri dia sembari meminum jus.
" Kamu mau pulang?" Tanyaku sembari menatapnya
" Iya kak"
" Kenapa?"
" Kenapa apanya?"
" Kenapa kamu pulang?"
" Aku gak tau kak" Katanya yang kemudian berjalan menjauhiku, aku kemudian mengejarnya dan menarik tangannya.
" Kamu gak boleh pulang"
" Kenapa gak boleh?"
" Karena kamu udah milik aku, jadi kamu gak boleh jauh dari aku"
__ADS_1
" Tetus kak Marsya? apa kakak juga mau milikin dia?" Kata dina sembari melepas tanganku.
" Aku tau dari tante kalau kakak pergi sama kak Marsya jadi mungkin aku udah gak ada gunanya lagi kan" Katanya lagi sambil menangis