
Sesampainya di RS aku langsung menyuruh Pak udin untuk mendaftar, sementara aku duduk di ruang tunggu sembari memainkan hpku.
" Gio..." seseorang memanggilku dari arah depan
" Rara!" kataku yang terkejut melihat rara berada didepan ku sontak aku langsung berdiri
" Lo kok disini Ra?"
" Iya... aku kerja disini. kamu sendiri? ngapain kamu disini? Ini kaaan..."
Aku segera menarik tangan Rara keluar dari tempat itu dan menuju taman. Kulihat arah sekitar, serasa sudah aman, aku langsung melepaskan peganganku dan menyuruh Rara duduk di kursi kosong.
" Kena G?"
" Lo kerja disini? Sejak kapan?"
" mmm sekitar 1 bulan yang lalu, eh kamu ngapain disini? kata Angga kamu lagi liburan. kok malah disini?"
" Iya Gue....memang lagi liburan di villa Ayah, disini Gue anterin Pak udin periksa anaknya yang..."
" oooh, aku kira..."
" Lo kira Gue yang daftar?"
" hehehe maaf aku cuma bercanda. Kamu baik baik aja G?"
" Ya seperti yang Lo lihat" Kataku sembari tersenyum
" Sukur dech"
" Ra, Lo jangan bilang siapa siapa kalau Gue kesini. Termasuk angga dan yang lain"
" Kenapa G?"
" Selama ini kita gak pernah ada rahasia kan?"
" Iya gue tau... Mungkin ini terdengar gila."
" Maksud kamu apa G?" tanya Rara dengan pandangan tajam
" Kayaknya Gue...."
" Mas Gio" Panggil Ibu Ratmi padaku. Aku langsung berdiri dan menghampiri Bu Ratmi
" Kenapa bu?"
" Sepertinya Harus dirawat disini mas" katanya sembari meneteskan air mata"
" G kenapa?" Kata Rara dari arah belakang sembari menepung bahuku
" Anak mereka sepertinya harus dirawat katanya"
" Siapa nama anak ibu" Kata Rara mulai penasaran dengan apa yang terjadi
" Ajeng"
" Tunggu sebentar ya" Kata Rara yang kemudian pergi entah kemana
" Mana Bapak bu?"
" Bapak diruang tunggu Mas"
" Kalau ajeng?"
" Ajeng sedang diruang perawatan dan diperiksa dokter, tadi dia mengamuk pas dokter nanya nanya dan langsung di beri obat tidur"
__ADS_1
Aku memutuskan untuk menemui Pak udin yang duduk bersama Didit.
" Pak" Kulihat sorot mata yang penuh kesedihan terpancar dari Pak udin
" Mas Gio" Langsung memelukku dan menangis
" Bagai mana ini Mas?" Iya lansung terduduk dan mengajak ngacak rambutnya sendiri. Tangisan pun pecah.
" Sabar pak bu, kita lihat dulu bagai mana kata dokter"
" Iya mas"
Aku pun ikut duduk dan menggendong Didit yang terlelap tidur.
" G" Panggil Rara yang tengah keluar dari ruangan Dokter yang memeriksa Ajeng
" Ra"
" Sepertinya, ajeng memang harus dirawat sementara disini, Tapi ibu dan bapak jangan hawatir. Kami pada petugas medis akan merawat ajeng dengan baik."
" Bagai mana kondisi anak saya?"
" Ajeng sekarang baik baik saja, dia sedang tidur. Jadi bapak dan ibu pulang saja"
" Tapi apa saya tak bisa membawa anak saya pulang?"
" Dokter menyarankan untuk sementara dirawat disini dulu, kami takut kalau tidak ajeng akan menyakiti dirinya sendiri"
Tangisan pun semakin pecah saat mendengar perkataan Rara.
" Ra apa gak bisa dirawat dirumah saja?"
" Maaf G, ini masalah yang cukup serius, keadaan jiwa yang terguncang akan menimbulkan masalah yang besar jika tidak diatasi atau diobati. Aku takut ajeng awalnya marah terhadap orang disekitarnya dan ahirnya melukai dirinya sendiri"
" Ada, terus beri dukungan dan harapan tentang hidup yang dia jalani, ajeng bukan hanya butuh obat tapi juga dukungan kalian"
" Ibu dan Bapak tenang saja, Saya disini akan memastikan pengobatan ajeng sampai tuntas"
" Iya bu, Pak. Rara ini teman saya, saya yakin dia bisa jaga Ajeng disini"
" Terimakasih mas, Mbak saya dan istri tidak tau apa yang harus kami lakukan sekarang kalau tidak ada bantuan Mas dan Mbak"
" Sudah pak, sebaiknya kita pulang dulu" kataku sembari menepuk bahu laki laki yang tengah menangis itu.
" Ra gue pulang dulu, gue anter Pak udin sama keluarganya"
" Tunggu G, kita harus bicara dulu. Jadi lebih baik bapak dan ibu biar sopir saya yang antar"
Entah apa yang akan Rara bicarakan yang pasti Rara akan membuatku terbuka atas apa yang terjadi dan yang aku rasakan saat ini.
Setelah mengantar Pak Udin dan keluarga ke mobil Rara yang akan mengantar mereka pulang, aku langsung menuju kantin bersama Rara.
Sesampainya disana kami memesan minuman, tatapan Rara sangat serius padaku.
" Apa Ra?" Tanyaku yang penasaran melihat Rara seserius itu. Sebenarnya aku sedikit gugup dan takut melihat Rara yang seperti itu. Aku takut Dia akan melontarkan pertanyaan yang aku sendiri pun tak tau.
" Aku gak paham sama kamu yang sekarang G. Kamu berubah setelah kepergian Dina. Sampai sampai kamu gak tau gimana keadaan kita sesudah kelulusan. Bahkan kamu gak datang pas wisuda, gak pernah kasih kabar, kamu ganti nomor dan..."
" Tapi Ra sekarang kalian tau kan no gue"
" Iya tau, setelah kami maksa sama ortu lo G"
Kemarahan dan kekecewaan Rara yang terpancar dari wajahnya sangat terlihat.
" Maaf Ra, gue gak maksud jauhin kalian. Gue cuma butuh waktu sendiri"
__ADS_1
" G kita tau kamu kehilangan Dina, tapi jangan jadiin Dina alasan kamu untuk jauh dari sahabat sahabat kamu"
" Iya Ra gue minta maaf, lagian gue mulai hubungin kalian lagi kan?"
" Oke kalo gitu aku maafin kamu" kulihat amarah Rara mereda
"terus kamu kenapa repot repot anterin keluarga ajeng kesini, siapa mereka?"
" Pak Udin sama keluarganya kerja sama ayah diperkebunan yang ada di desa **** cuma beberapa jam dari sini.
Yaa yang seperti yang lo lihat mereka butuh bantuan ya gue bantu."
" Ajeng kok bisa kayak gitu?"
" Katanya pernah dibohongin sama calin suaminya, itu aja yang gue tau"
"mmm pantas kata Dokter Arif tadi ajeng marah marah dan bilang pembohong pembohong sama dokter Alif"
" Tunggu, gue belum tau lo kerja jadi apa disini?"
" Hahaha makannya sama temen jangan ngejauh"
" Yaampun Ra masih dibahas aja" kataku sedikit kesal
" Ini RS yang diriin ayah aku G. Aku disini jadi pengawas aja, sembari tunggu dilamar Angga" Katanya sembari tersenyum
" Ooh gitu" Entah kenapa aku senang mendengar perkataan Rara, aku berpikir aku akan punya banyak alasan untuk mengunjungi Ajeng disini.
" Ke rumah yuk, Angga juga bakalan kerumah"
" Sorry Gak bisa, gue kan lagi liburan" kataku sembari tersenyum
" Mmm iya deh, tapi kapan kapan datang ke rumah ya, aku kenalin sama keluarga besar aku disini"
" Iya gue janji, mmm Ra... jangan bilang gue kesini ya"
" Iya"
Sebelum pulang ke villa aku menyempatkan untuk membeli makanan dan cemilan untuk Pak udin dan keluarga, karena aku yakin mereka belum makan sedari tadi siang, Sesampainya di villa kulihat Pak udin dan Bu Ratmi masih duduk diluar.
Setelah turun dari mobil aku kemudian menghampiri mereka dengan membawa makanan yang tadi aku beli.
" Pak Bu kenapa gak masuk? Saya beli makanan untuk kalian"
" Terimakasih mas"
" Iya Pak, bapak sama ibu kenapa?"
" Saya hawatir Mas sama Ajeng"
" Tenang pak, bapak sama ibu kan bisa jenguk kesana"
" Tapi pekerjaan kami disini.."
" Bapak sama Ibu bisa libur 1 minggu sekali kalau mau"
" Alhamdulillah, makasih mas Gio" Kata pak udin yang langsung menjabat tangan ku.
" Iya pak sama sama, itu makan dulu mumpung masih hangat. Saya masuk dulu"
" Iya mas Terimakasih"
Setelah mandi dan berpakaian aku membaringkan diri di kasur sembari berpikir mencari alasan untuk mengunjungi Ajeng.
Apa aku menyukai ajeng? entahlah... Aku merasa dia seperti Dina dulu, membutuhkan perlindungan ku. Apa ini awal aku akan mencintai Ajeng? seperti dulu aku mencintai Dina. Entah lah, biar waktu yang akan menjawabnya...
__ADS_1