Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
5. Si Mocci Imut


__ADS_3

Setelah sampai didepan toko helm aku langsung membantu Dina turun dari motor, setelah turun aku kemudian mengikutinya kedalam toko untuk mencari helm.


Setelah lama didalam toko itu, mungkin sekitar 15 menit, aku melihat dina masih terlihat bingung memilih helm.


" Hey udah?" Tanyaku sambil menepuk bahunya, dia kelihatan bingung dengan banyaknya model dan hiasan helm disana. Dia yang hanya menjawab dengan gelengan kepala sembari memandangku, seolah meminta bantuan agar aku memilihkannya.


" Mmm yang ini aja, bagus cocok buat kamu" Sambil menyodorkan 1 helm berwarna biru yang berhias gambar bunga sakura.


" Yang ini?" tanyanya sembari membolak balikan helmnya.


" Iya yang itu, cocok buat mocci kayak kamu, pas mocci kan dari jepang sakura juga, jadi cocok" kataku sembari tersenyum


" Mocci?" Katanya heran


Lalu aku mengambil helmnya dan langsung memakaikannya.


" Iya mocci imut" kataku sambil sedikit membungkukan badan karena badanku yang memang lebih tinggi darinya. Jika kami berjejer tingginya hanya 10cm diatas sikutku, berbeda dengan Marsya yang lebih tinggi jika bersamaku marsya setinggi daun telingaku.


Saat dia mendengar aku memanggilnya Mocci imut dia melihat mataku dan kemudian tersenyum. Sontak hatiku bergetar melihat dia tersenyum manis, sepintas ingin sekali aku mencium bibir itu.


" Terimakasih ka Gio" Katanya sembari terus mengembangkan senyumnya.


" mmm iya, gitu dong. Kamu imut kalau senyum" Kataku yang kemudian langsung pergi ke meja kasir karena takut aku terbawa suasana dan melakukan hal yang aneh.


Setelah aku membayar kami pun melanjutkan perjalanan kami kesebuah mol yang cukup besar dan terkenal di kota.


Sesampainya disana Perutku terasa lapar.


" Hey Mocci, kita makan dulu ya!" kataku dambil membantunya turun dari motor


" Iya kak" jawabnya sambil membuka helm dan memberikannya padaku.


" Ayo kalau gitu, lo mau makan apa? "


" Terserah kak Gio aja"


Akupun turun dari motor setelah menaruh helm yang aku dan Dina pakai.


Setelah didalam mol hp ku berbunyi, saat aku mengambil hp dari tas dan melihat layar, ternyat Angga yang menelpon.


" Bentar" Kataku pada Dina mengisyaratkan agar di berhenti berjalan.


" Ya apa?...Di mol biasa kita kumpul, dimana?...oh iya gue inget... Iya gue nyusul kesana sekarang" kataku yang kemudian menaruh lagi hp kedalam tas kecil yang aku bawa.

__ADS_1


" Kita ke lantai paling atas, kita makan disana. Ada temen gue disana" kataku pada Dina.


" Tapi kak!.."


" Udah ayo, mereka temen gue sekalian gue juga mau tanya hp yang bagus buat lo" Kataku sembari memegang tangannya dan menariknya masuk lift.


Sesampainya ditempat yang dituju gue langsung melepaskan tangan Dina


" G , sini ! " Panggil seno


" Ayo" kataku sembari menarik Dina lagi


Kemudian aku menghampiri Angga, Seno, Bagas dan Beni. Mereka terlihat terkejut melihatku dan Dina. Aku langsung menyuruh Dina duduk dan kemudian aku duduk disampingnya.


" Woy kenapa?" Tanyaku yang melihat keempat sahabatku hanya terdiam memandangi Dina yang terus tertunduk


" Lo sama siapa G?" Kata Seno Heran


" Ooh ini anak tante anita, sodara jauh gue namanya Dina" kataku yang kemudian mengenalkan mereka pada dina. Dina yang sudah terbiasa mencium tangan orang yang lebih tua darinya jika berjabat tangan, dia juga melakukannya pada empat kawanku. Sontak mata mereka seolah terkejut bercampur heran. Tapi mereka tetap tersenyum pada Dina walaupun mereka sedikit merasa canggung.


Setelah mereka berkenalan Aku dan Dina langsung memesan makanan, karena yang lain sudah memesan.


" Din kamu masih sekolah? " Tanya Beni


" Iya kak, saya masih sekolah kelas 2 SMA" Katanya sambil masih menunduk gugup


Mereka terus memandangi Dina sembari tersenyum.


" Kenapa sih kalian? Mandangin Dina segitunya?" Kataku heran pada keempat temanku yang terus memandang Dina.


" G nih anak cantik amat" Bisik Seno ketika sudah menarikku ke arah Angga, Bagas dan Beni


" Iya bener, tapi perlu polesan sedikit" Kata Bagas sembari mengangkat kedua alisnya


" Cewek kaya gini mah bisa ngalahin rubah licik" Kata Beni dengan penuh keyakinan


" Betul tuh, kita cuma harus rubah sedikit penampilannya" Kata Angga penuh semangat tapi tetap berbisik


" Apaan sih maksud kalian? Gue gak ngerti" Kataku yang bingung maksud mereka apa


" Mmmm lo G, males gue" Kata Seno yang kemudian duduk lagi ditempatnya.


" Udah lo ikutin aja" Kata Angga sembari mengisaratkan pada semu hal yang tidak aku mengerti.

__ADS_1


Setelah selesai makan sambil membicarakan niat awal ku dan dina pergi ke mol. Aku dan dina mengikuti empat sahabatku itu.


Ternyata mereka mendandani Dina dengan pakaian yang cocok, asesoris yang menambah keunikannya, mengganti model rambutnya, kaca mata yang d pakainya dan memoles wajahnya dengan make up natural tapi menunjukan kecantikan alami Dina. Aku yang memandangnya takjub dengan perubahan Dina, aku bahkan tak bisa berkata kata. Dina pun yang hanya menuruti keempat pria itu untuk mendandani dirinya, dan yang kulihat juga Dina cukup senang, karena aku melihat senyuman senyuman kecil diwajahnya saat keempat sahabatku berbicara dan mengajarinya cara berjalan seperti wanita modern.


Hp yang dipilihkan oleh merekapun cocok dengan Dina.


Sempat aku berpikir empat kawanku ini cocok dengan Dina, sama sama aneh. Mendandani dan memilih asesoris wanita, wah parah sahabatku ini.


Setelah melihat perubahan pada Dina aku baru mengerti apa yang dimaksud sahabat sahabatku itu, mereka mau aku menjadikan Dina pacarku, dan yang otomatis mereka mengisyaratkan bahwa Dina adalah wanita baik yang cocok mendampingiku menggantika posisi Marsya.


Tapi entahlah , disisi lain aku takut perasaan ku terhadap Dina hanya pelampiasan, bukan cinta yang diharapkan teman teman ku.


Entah lah aku masih bingung.


Aku masih ragu apakah aku mampu melupakan Marsya yang merupakan cinta pertamaku dan menerima Wanita baru dihatiku.


Dina memang gadis yang baik, walaupun aku baru mengenalnya, tapi apakah Dina mau sama aku?


Rasa bimbang, keraguan dan ketidak kepercayaan diri pada diriku sendiri terus membayangiku. Semua kata kata itu selalu terngiang dikepalaku. Tuhan apa yang harus aku lakukan?


" G kenapa lo?" Kata Beni yang menepuk pundakku


" enggak gue gak apa apa?"


" Kaget ya liat Dina jadi lebih cantik" Kata Bagas


" Sukses kita, liat Gio aja terpana" Kata seno


" Udah G sikaaat" Kata angga penuh semangat


" Gak tau ah, masa gue pacaran sama si mocci itu" kataku sembari melirik Dina yang sedang duduk memainkan hp barunya.


" Mocci??hahaha" kata mereka yang kemudian menertawaiku karna memanggil Dina dengan sebutan Mocci


" Ketawa aja ampe puas" Kataku pada mereka


" Bagus G, lo udah punya panggilan sayang haha" Kata Bagas dengan nada meledek


" Apa an sih, bukan panggilan sayang. memang dia kayak mocci" Kataku sedikit kesal


" G, lo tau gak kue mocci itu keliatannya memang gak menarik, tapi manis" Kata angga sembari mengangkat alisnya.


" Iya tu G, kue jadul tapi tak pernah sepi peminat" kata Seno sembari tersenyum

__ADS_1


" Kenapa jadi bahas kue mocci sih? udah a gue mau pulang, udah mau malam" Kataku yang kemudian berdiri dari tempat duduk ku


" G gue yakin lo bakal lupain Marsya dan cinta sama si Mocci" Kata angga sembari melakukan tos dengan Beni, bagas dan seno.


__ADS_2