
"Pak, Bu" Kataku ketika didepan Pak udin dan bu Ratmi
" Saya pulang hari ini"
" Kenapa cepat sekali mas Gio luburan disini? belum juga 1 minggu mas" Kata bu Ratmi
"Saya harus bekerja Bu, Terimakasih bapak dan ibu sudah mengurus saya selama disini"
" Harusnya saya yang berterimakasih sama Mas Gio, karena sudah menolong saya dan keluarga" Kata pak Udin sambil menangis memegang tangan ku
" Sudah Pak, itu buka apa apa. Sering lahjenguk Ajeng disana pak, masalah biaya biar saya yang urus, bapak dan ibu jangan hawatir."
" Makasih Mas Gio" Tangisan Bu ratmi dan pak udin pun pecah
" Sudah, do'a kan biar ajeng sembuh"
" Iya mas terimakasih.
Kemudian setelah berpamitan aku pun pergi.
Sesampainya dirumah ayah, aku langsung disambut mamah didepan pintu.
" Gio" Kata mamah sambil memelukku.
" Mamah kok tau aku pulang?"
" Kata pak udin sayang, tadi pak udin nelpon mamah." Katanya sembari melepas pelukannya.
" Ayo masuk, Ayah nunggu kamu di dalam"
Aku pun masuk dan melihat Ayah yang sedang duduk sambil memegang koran, aku langsung memeluk Ayah dan ayahpun membalas pelukanku.
Setelah itu aku duduk disamping mamah.
" Maaf Mah, Ayah aku udah buat kalian kecewa"
" Tidak Nak, kamu tidak membuat kami kecewa. Kami paham kamu terlalu sedih karena kepergian Dina yang mendadak."
" Iya Mah"
" Kapan kamu mulai kerja diperusahaan lagi?"
" Yah, Gio kan masih capek. besok saja kita tanya hal itu"
" Gak apa kok mah. Gio masuk besok Yah"
" Pekerjaan kamu di perusahaan **** Gimana?"
" Aku udah mundurin diri Yah."
" Udah Yah, Gio biar istrahat dulu. Ayo nak mamah antar ke kamar kamu"
" Iya makasih mah"
Hatiku serasa sakit ketika lewat kamar yang dina tinggali dulu, aku berdiri di depan pintu dan mengingat masalalu kami yang indah.
" Gio" kata mamah menghentikan lamunan panjangku
" Iya mah"
" Mamah tau kamu pasti terpukul, tapi sebaiknya kamu harus terbiasa dengan keadaan sekarang"
__ADS_1
" Iya mah Gio tau, barang barang Dina apa sudah diambil mah?"
" Belum sayang, sepertinya mereka masih marah. Mamah belum sempat mengantarkan nya juga"
" Aku tidur dikamar Dina saja mah"
" Apa kamu tidak apa apa?"
" Enggak mah, mungkin aku juga pindah kekamar ini nanti"
" Mamah terserah kamu saja. Mamah senang kamu pulang nak "
Setelah mamah memelukku dan pergi aku masuk kekamar yang dulu ditempati Dina.
Keadaan kamar itu masih sama, aroma parpum yang biasa Dina pakai pun masih tercium harimnya.
Posisi barang barang dina pun tidak berubah, sepertinya mamah membiarkan semua itu sebagai kenang kenangan yang dina tinggalkan.
Setelah puas melihat barang barang dina aku merebahkan diri dikasur dan tidur.
Mungkin aku yang terlalu capek karena sudah mengemudi, aku bangun kesiangan.
Aku langsung mandi dan turun ke meja makan, aku lihat ayah yang sudah selesai makan dan akan pergi.
" Maaf yah, aku kesiangan" Ayah hanya menepuk bahuku dan pergi
" Tidak apa Nak, ayo duduk. Mamah sudah siapin sarapan buat kamu"
" Iya makasih mah" Aku pun duduk dan makan
" Ayah pagi sekali mah berangkat ke kantor"
" Ayah sibuk nak, semenjak kamu tidak ada ayah yang hendel pekerjaan disini dan diluar kota"
" Jangan gitu Gio, yang penting kamu ada disini sama kami sekarang"
" Iya Mah. Oh iya mah, tolong nanti ke bi inah suruh mindahin barang barang aku ke kamar Dina dulu, aku mau jadiin kamar aku, dan kamar aku mau dijadiin ruang kerja"
" Iya, nanti mamah suruh bi inah beresin ya"
" Iya mah, makasih"
" Mamah dengar kamu bantu pak Udin dan keluarganya, apa kamu suka sama ajeng?"
Mendengar hal itu aku langsung tersedak.
" Jangan terkejut, kalau ajeng memang buat kamu sedikit melupakan dina mamah dan ayah setuju"
" Tapi mah... apa mamah tau keadaan ajeng sekarang?"
" Mamah dan ayah tau, mamah dan Ayah lihat sendiri perubahan ajeng dulu dan sekarang. lagi pula ajeng anak yang baik. Mamah tau itu karena mamah tau ajeng kayak gimana sebelum jiwanya terganggu. Mamah yakin kejadian pada ajeng mungkin bisa terjadi pada kamu dulu. tapi mamah bersyukur kamu anak yang kuat" Kata mamah sembari memebelai rambutku.
" Kalau kamu memang suka, kita lamar Ajeng ke sana, Ayah juga sudah setuju, Apalagi pak udin orang yang sudah lama kita kenal. Sekarang tinggal keputusan kamu"
" Gio gak tau mah"
" Pikir pikir saja dulu sayang, mamah dan ayah akan nunggu keputusan kamu"
" Iya Mah"
Setelah sarapan Aku langsung berangkat ke kantor menggunakan sepedah motor dan mulai dengan kesibukanku dengan segala pekerjaan yang selalu ayah kerjakan.
__ADS_1
" Gio"
" Iya Yah"
" Ayah serahkan semua perusahaan ke kamu, Ayah harap kamu bisa menjaga ini semua. Ayah sudah tua dan ingin sekali pensiun, sekarang giliran kamu yang menjaga dan mengembangkan usaha kita nak"
" Iya Yah, Gio janji sama ayah untuk menjaga dengan baik perusahaan ini"
" Ayah senang nak, mulai sekarang kamu lah pemimpin perusahaan kita"
" Iya Yah terimakasih"
" Ayah mau pulang beristirahat dan ingin bulan madu dengan mamahmu ke tempat tempat yang dulu kami datangi sewaktu muda" Kata ayah sembari tersenyum
" Apa ayah akan berlibur?"
" Iya, mamah mu tidak bilang?"
" Tidak yah, mamah cuma membahas masalah pak udin dan keluarganya"
" Mamah mu pasti lupa. Ayah dan mamah berencana liburan setelah kamu memutuskan langkah kamu dan memberikan semua perusahaan ke kamu"
" Iya Yah terimakasih dan maaf.."
Ayah kemudia memelukku erat, sebelum ia pergi meninggalkanku diruangannya yang mulai sekarang akan jadi ruanganku.
Aku pun duduk dikursi yang biasa ayah gunakan. aku mulai membuka hp Dina yang aku ambil tadi dari atas meja. Mungkin Mamah yang menyimpannya untuk kenang kenangn. Ku hidupkan dan membukan kunci pin yang tertera disana.
" Apa kata sandinya?" kataku yang bingung memikirkan kata sandi apa yang harus aku masukkan. Aku mencoba kata GiodanDina, ternyata bukan, kemudian tanggal lahirku, tanggal lahir Dina, angka 0000, angka 1111, tetap saja tidak terbuka.
" Apa ya?" kataku sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
" Apa kata sandinya..." Aku pun mencoba mengetik kata Mocci imut dan ternyata masuk.
" Dasar Mocci imut" kataku sembari tersenyum.
" Ternyata diam diam dia juga menyukai nama yang aku berikan"
Ku mulai membuka galeri. Banyak disana foto foto Dina bersama Gendis.
" Kenapa fotoku gak ada" kataku sembari tersenyum. Ketika kulihat file yang diberi namah Suamiku dan kubuka. Banyak fotoku yang mungkin Dina ambil secara diam diam, tak kurasa aku meneteskan air mata.
" Mocci imut aku kangen kamu"
Terdengar suara pintu diketuk dan aku pun langsung mengusap pipiku yang basah.
" Masuk"
Tak lama sekertaris ayah masuk dan menaruh banyak dokumen dihadapanku.
" Ini file yang tadi Ayah bapak minta dan yang harus bapak pelajari"
" Oh iya terimakasih"
" Oh iya pak, 1 jam lagi ada rapat di luar"
" Iya terimakasih dan tolong siapkan berkasnya saya akan mempelajari ini dulu"
" Baik pak"
Dia pun keluar dan aku segera mempelajari dokumen yang ada dihadapanku.
__ADS_1
" Banyak sekali yang harus aku kerjakan" Keluhku melihat banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.