
" Din bukan gitu"
" Terus apa? aku sudah berusaha kak. Tapi mungkin ini udah jadi pilihan kakak. Aku harap kakak bah..."
Aku mendaratkan ciuman di bibirnya, dia kemudian berusaha melepaskan, tapi aku mempererat pelukanku.
Setelah kurasa Dina tidak memberontak aku kemudian melepaskan pelukanku.
Besok aku akan bicara sama Ayah dan mamah tentang hubungan kita.
" Untuk apa kak?"
" Untuk aku dan kamu, aku udah pilih kamu Din dan memilih melupakan Marsya" Kataku sembari tersenyum dan mengelus pipinya yang lembut.
"Aku sayang kamu Din" Kataku sembari mencium keningnya.
" Apa kakak benar benar sudah yakin dengan keputusan kakak? siap dengan resiko yang akan kakak dapat karena memilih cewek yang tak populer ,gak modis dan..."
"suuuuut " Kataku sembari menutup mulutnya dengan jari telunjukku.
" Aku sudah memutus kan, apapun resikonya nanti.apalagi membahas penampilan kamu. Aku sudah tak perduli, karena apa. aku cinta kamu apa adanya, bukan karna ada apanya"
Kataku sembari tersenyum.
" Kamu tau gak kalau aku ngomong dengan posisi kayak gini, aku kayak lagi ngajarin anak SD" Kataku menggodanya untuk mengalihkan pembicaraan. Dia kemudian menunduk melihat kearah kakinya.
" Memang aku pendek banget ya?" tanya nya sembari terus mengukur tubuhku yang tinggi dengan tubuhnya.
" Memang aku gak kayak anak SMA ya" mendengar hal itu aku tertawa kecil dan mencubit hidung mancungnya
" Kakak aja yang ketinggian" katanya sembari berlari kekamar dan mengejekku dengan menjulurkan lidah.
Aku hanya tersenyum sembari melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
Keesokan paginya saat kami berkumpul untuk sarapan aku menepati janjiku pada Dina semalam.
" Yah, mah hari ini Dina gak jadi pulang" Kataku membuka obrolan ketika mereka sibuk makan sembari menatap Ayah dan Mamah
" Kamu gak jadi pulang Sayang" Kata mamah ke Dina memastikan
" Enggak mah, dina disini aja" Kataku lagi
" Kenapa gitu?" Tanya mamah
" Aku gak bisa jauh sama Dina mah"
" Emang kalian ada hubungan?" Kata ayah
" Iya, kami udah pacaran" kataku lagi
"Heheh kamu mau pacaran sama Gio?" kata Ayah memastikan pada dina
" Mana mungkin dina mau pacaran sama kamu Gio Gio, jangan aneh aneh. Ini masih pagi" kata ayah menyepelekan
" Mah tolong ambilin itu" Kata ayah seolah tak menghiraukan ucapanku.
" Yah aku serius" Kataku sembari menatap Ayah
__ADS_1
" Terus cewek kemarin gimana?" Kata mamah santai
" Mah aku udah putus, kemarin dia datang cuma mau curhat gitu aja"
" Kenapa curhat sama kamu? jangan jangan dia minta balikan?" Kata mamah menyudutkan ku
" Kalau memang benar balikan aja, Iya kan Yah?"
" mmm terserah kamu Ayah udah gak perduli"
" Iya mah memang dia ngajak balikan"
" Sudah mamah duga, terus kalau memang ngajak balikan nanti dina mau kamu kemanain, hah?"
" Mah aku gak terima Marsya"
" Kenapa kamu gak terima? bukannya dia tipe kamu"Kata mamah yang mengungkit dan membalikan perkataanku dulu saat mamah menyuruhku putus dengan Marsya
" Ya karna..."
" Karna apa?? udah bosen? atau kamu mau Yang lebih Waw?"
" Maaah... "
" Apa? mamah mau tau"
" Ya karna aku udah sayang sama Dina"
" Sayang aja? kalau udah gak sayang kamu tinggalin gitu?"
" Bukan gitu Mah"
" Aku cinta mah dan gak mau kehilangan Dina wanita yang bisa buat aku bahagia"
" Gio hubungan itu bukan sebatas bahagia dan tidak bahagia. Hubungan itu harus ada saling mengerti dan memahami satu sama lain, bukan sebatas cinta dan suka aja" jelas mamah yang membuat aku tertunduk.
" Maaf mah"
" Buat apa minta maaf?"
" Gio memang belum paham kesana, Tapi Gio janji mah bakal belajar saling ngerti dan memahami" Kataku sembari menatap Ayah dan Mamah
" Baik lah mamah mau tau sampai mana kamu serius dengan perkataankamu, mamah dan Ayah juga mau tau sampai mana kamu bisa pertahanin Dina disisi kamu" Ucap mamah sembari menatapku.
" Ayah dan mamah restuin kamu nak"
Kata ayah yang kemudian beranjak dari duduknya dan memelukku. Sedangkan mamah memeluk dina.
" Ayah akan beritahu orang tua Dina, tentang hubungan kalian, semoga saja orang tua Dina juga percaya sama kamu"
Lega rasanya setelah memberitahu mamah dan Ayah tentang hubungan kami, aku tau aku masih cinta dan belum bisa melupakan Marsya.
Tapi aku yakin dengan berjalannya waktu posisi Marsya dihatiku akan terganti oleh Dina.
Setelah selesai sarapan aku berkumpul kembali diruang keluarga bersama Ayah mamah dan Dina.
" Kapan kamu lulus kuliah?"
__ADS_1
" Ini juga lagi berjalan yah" kataku sembari memainkan hp
" Gio kamu tuh harus serius ngurus perusahaan Ayah, bukannya main dan nongkrong sama temen temen kamu aja"
" Iya Yah...lagian aku juga serius. Kalau main dan nongrong cuma buat nenangin pikiran dan hiburan aja"
Mamah kemudian mengambil hp ku.
" Gio, kalau orang tua ngomong tuh perhatiin, bukan malah main hp"
Aku pun merubah cara dudukku
" Iya maaf" Ayah pun menatapku sembari menggelengkan kepala.
" Kamu itu mulai sekarang harus belajar bertanggung jawab dengan apa yang kamu miliki. Apalagi tentang dina, kamu harus menjaga dia dan perasaan nya"
" Benar kata Ayah Gio, perempuan itu gak suka diduain, diselingkuhin apalagi dibohongin"
" Iya maaaah"
" Kamu itu Gio... ngegampangiiiin aja"
Kata Ayah yang terus mwnggelengkan kepala. Aku yang seperti sedang melakukan sidang serasa tak nyaman dengan semua hal itu. Tapi ketika melihat Dina yang terus tersenyum sembari menatapku, Aku merasa apa yang ayah dan mamah katakan memanglah benar.
Sikap kekanak kanakan dan ketidak seriusanku menjalankan perusahaan memanglah harus diubah.
" Mmm malam minggu aku mau ajak Dina keluar Yah"
" Mau kemana?" Tanya mamah sembari mengangkat telpon rumah yang tiba tiba berdering.
" Halo... dengan siapa? ... ada apa ya?... oh iya sebentar"
Mamah kemudian memberi kode padaku untuk mengambil alih telponnya.
" Siapa mah?" Kata ayah yang penasaran.
" Katanya temen Gio waktu SMA" Kata mamah sembari duduk
" Halo" kataku sembari menaruh gagang telpon ditelinga.
" Iya lo tau dari mana no rumah gue?... ada apa" Bella yang menelpon karena hpku yang aku mode pesawatkan karena sedari tadi banyak pesan yang masuk dari Bella.
" iya gue lagi sibuk..."
Ku lirik Ayah , mamah dan Dina yang sedari tadi memandangku.
" gak bisa sorry gue lagi gak bisa keluar rumah... iya kita chat an aja... iya.." aku kemudian menutup telponnya.
" Siapa Gio yang telpon?"
" Temen mah"
" Baru Ayah bilang jaga perasaan Dina"
" Cuma temen kok yah" kataku sembari membawa hp dari samping mamah.
" Kamu anggap dia temen, tapi dia gimana?" Kata mamah yang menarik tanganku dan memberi kode agar aku melihat Dina yang memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
__ADS_1
" Dia teman kok mah" aku kemudian berjalan menuju kamar, aku berbalik melihat Dina yang tertunduk menyembunyikan perasaan yang entah apa yang dia rasakan. Kulihat Ayah dan mamah yang memberikan kode satu sama lain agar menghibur dina.