
" Gas, lo mau gue anter?" Kataku setelah drama saling rangkul selesai
" Gak usah, anak anak biar gue anter pake mobil aja G" Kata angga sembari menunjukan kunci mobil yang dipegangnya.
" Oke kalo gitu, gue pulang duluan" Kataku yang kemudian berlalu menjauhi mereka dengan membawa motor ku.
Aku merasa lebih baik setelah bersama sahabatku dan mengingat perkataan ibu Angga.
" Mungkin kata ibu Angga benar, seharusnya aku bersyukur. Mulai sekarang aku akan mencoba melupakan Marsya" Kataku berbicara dalam hati.
Diperjalanan pulang aku sempat menghentikan laju motor ku karena mamah menelpon.
" Halo mah, dijalan mah ini juga mau pulang. Iya mah ini juga pulang Iyaaaa mamah ku sayang" kataku yang kemudian menutup telpon mamah.
Sesampainya dirumah aku langsung menyimpan motorku di garasi yang telah dibukakan bi inah.
" Bi mobil Ayah kemana?" Tanyaku pada ART rumah
" Tuan sama nyonya dari pagi sudah berangkat, kata nyonya kalau aden pulang disuruh anter non Dina" kata bi inah yang kemudian pergi
" Anter kemana?" gumam ku
Karena melihat bi inah langsung pergi
" eeh bi inah malah maen pergi aja" Kataku yang kemudian mengeluarkan hp dari saku.
Pikirku aku akan menelpon mamah atau ayah menanyakan pertanyaan ku, tapi ketika aku akan membuka pintu tiba tiba pintu langsung terbuka dan aku melihat Dina yang membukanya.
" eeeh kaget gue?" kataku kaget melihat simochi itu eeh maksud ku Dina
" Maaf kalau saya mengagetkan" kata Dina yang kemudian menundukan badannya.
Kulihat dia sudah bersiap dan membawa tas kecil yang iya selendangkan di bahunya.
" Eh gak usah kayak gitu, gue cuma lagi gak fokus" Kataku yang tak enak melihat dia membungkuk
" Eh iya lo mau dianter kemana?" Kataku berharap dia mau mengangkat wajahnya melihat ku.
" Tititidak usah kak, saya bisa berangkat sendiri" katanya sambil masih menunduk dan kemudian melangkah kan kakinya keluar rumah.
__ADS_1
Sontak aku langsung memegang pergelangan tangannya.
" Biar gue anter, nanti mamah marah lagi kalau tau lo berangkat sendiri" Kataku yang kemudian melepaskan tangannya ketika terlihat dia tidak nyaman.
" Titidak usah kak, saya takut merepotkan" katanya lagi sambil memegang tangan yang tadi aku pegang.
" Gak apa apa, lagian gue lagi males dirumah. sekalian jalan jalan. Lo tunggu diruang tamu, gue mandi dulu. Gak bakal lama" Aku langsung masuk dan pergi ke kamar.
Setelah selesai bersiap aku langsung keluar kamar, kulihat Dina yang duduk di sofa yang masih terus menundukkan kepalanya.
" Tuh anak gak pegel ya?...nunduk terus perasaan" kataku pelan sembari menuruni tangga
" Ayo jalan, eeh iya kita mau kemana?" Tanyaku setelah berada dihadapan Dina, Dina kemudian berdiri dan memberikan kartu keredit
" Kartu keredit Ayah nih?" Tanyaku sambil mengambil kartunya.
" Iiiya kak, sayaa disuruh beli hp untuk saya gunakan" katanya yang masih menunduk
" Hp? lo gak punya hp?" kataku sembari tersenyum heran. Dina hanya menggelengkan kepala
" Lo memang gadis aneh, udah nunduk terus, gak punya hp padahal zaman sekarang semua pakai hp..." Aku kemudian menghentikan ucapanku saat melihat Dina mangangkat wajahnya dan melihat kearah ku.
Saat itu aku merasa anak ini benar benar aneh, tak ada ekspresi yang menunjukan dia marah sedih atau apalah. Malah aku tak tau apa dia tersinggung dengan perkataan ku atau tidak.
" hem.. yaa gak aneh aneh juga sih, cuma kalau kamu gak nunduk kalo bicara sama orang mungkin aneh itu bisa hilang" Kataku sembari tersenyum
" Maaf kak, saya tidak terbiasa bicara sama orang? "Katanya dengan nada sendu dan kemudian menundukan pandangannya lagi
"hehehe baru aja gue bilang jangan nunduk, lo malah nunduk lagi" Kataku mengingatkan Dina lagi. Tapi Dina tetap menunduk
" Yaudah lah ayo berangkat" Kataku sambil menarik tangannya, tapi Dina malah tidak berjalan dan malah melihat tanganku yang memegang tangannya.
" Eh sorry, gue..." kataku sambil melepaskan tanganku
" Iya gak apa apa" katanya yang langsung memegang tangan nya.
" Apa gue terlalu keras narik tangan lo? sorry gue gak sengaja" kataku takut aku benar benar menyakitinya
" Yaudah ayo, lo duluan deh jalannya" Kataku sedikit canggung.
__ADS_1
Dina kemudian berjalan mendahului ku lalu aku mengikutinya dari belakang sembari tersenyum sendiri.
" Kayaknya nih anak kuper, gue pegang tangannya aja dia udah geroginya gak ketulungan, dasar Mocci" ucapku dalam hati.
Sesampainya didepan rumah dia menghentikan langkahnya.
" Tunggu gue ambil motor dulu" Kataku yang kemudian mengambil motor. Setelah mengambil motor dan berhenti di hadapan Dina, Dina malah terdiam.
" Hey ayo, jadi pergi gak?" kataku sedikit kesal karena dia malah melamun memandangi motorku.
" Kakak gak ada helm lagi?"kata nya sambil melihatku sebentar sebelum menundukan kepala lagi.
" Oh iya gue lupa cuma punya satu, oh gini aja kita beli didepan komplek, disana ada yang jualan helm" Setelah aku berkata begitu dia pun berusaha naik motorku dengan susah payah, mungkin karena badannya yang tidak terlalu tinggi, mungkin hanya 150cm. Karena tidak tega aku kemudian membantunya dengan mengulurkan tangan ku agar dia memegangnya saat naik.
" Sini Gue bantu, lo injakin dulu kaki lo yang kiri ke step terus lo langsung berdiri di stepnya dengan kaki sebelah langsung deh naikin kaki kanan lo. Harusnya lo jangan manjangin kuku lo aja, panjangin juga kaki lo tuh biar gak susah kalau naik motor" kataku sambil menatap wajahnya yang sedang kesulitan dengan intruksiku.
" Maaf kak, saya merepotkan" katanya setelah berhasil duduk di belakangku.
" mmm lo tuh, minta maaf mulu bosen gue dengernya"
" Iya Ma..."
" Suuuuut" kataku sambil tersenyum dan memandangnya dari sepion.
Kulihat dia sedikit berekspresi sedih, sepertinya kata kataku memang sedikit keterlaluan.
Aku pun kemudian melajukan motorku pelan.
" Pegangan, gue gak mau nanti lo jatuh"
Iya kemudian memegang pundak ku
" Emang gue kayak tukang ojek ya, pegangnya sini" Kataku sembari menarik tangannya kepinggangku, badannya sedikit tertarik dan sedikit menghantam helm yang aku pakai.
" Aw..." katanya sambil memegang keningnya
" Makannya jangan nunduk mulu, pandangan itu harus ke depan, kalo pandangan lo kebawah terus nanti orang ngiranya lo lagi nyari uang jatuh hahaha" kataku sedikit bergurau, sembari aku berharap dia akan tersenyum. mmm tapi ternyata tidak, dia hanya melihat ku dari sepion dengan tatapan yang sama.
Tapi pada ahirnya dia hanya memegang jaket yang aku pakai.
__ADS_1
Aku sedikit mencuri curi pandang padanya dari kaca spion.
" Sebenarnya dia cukup cantik, yaa walaupun tidak semodis Marsya. eeh apa an sih gue! gue udah janji gak bakal inget inget dia lagi, apalagi ngarepin dia. Gue harus bener bener Move on. Walaupun sulit ngelupain dia gue bakalan coba" Ucapku dalam hati