
Sesampainya dirumah aku cepat cepat masuk ke kamar mengganti pakaian ku dan mengambil kunci motor .
" Gio mau kemana?" Tanya mamah yang tengah duduk bersama Ayah diruang tamu
" Keluar sebentar Mah, inget pak aji mau kesini"
" Iya" kataku sembari keluar menuju garasi dimana motor ku terparkir.
Aku melajukan motorku dengan kecepatan 60km/jam. Sedari tadi hpku terus saja berbunyi tanda panggilan masuk, tapi aku tak menghiraukannya karena aku yakin itu panggilan dari gendis yang sudah sampai ke tempat kami janjian tadi.
Sesampainya disana aku langsung masuk dan melihat ke sekeliling ruangan lestoran itu.
" Kak Gio" katanya sembari melambaikan tangan. Aku kemudian duduk didepannya sembari memanggil pelayan.
" Kamu udah lama?" Tanyaku sembari menunggu pelayan menghampiriku
" Iya sekitar 15 menit"
" Maaf tadi agak macet di jalan pas pulang dari acara nikah"
" Iya gak apa apa kak" katanya sedikit menunjukan wajah kesal
" Saya pesen ini terus ini sama ini" Kataku pada pelayan yang menyodorkan menu.
" Kakak belum makan?"
" Belum, tadi gak sempet." Kataku yang kemudian mengeluarkan hp dari saku jaket.
" Kak...gimana menurut kakak tentang niat papa aku yang mau jodohin kita?" ucap Gendis sembari minum orange jus didepannya
" mmm bentar" kataku yang masih mengirim chat para sahabatku untuk meminta maaf karena pulang tak berpamitan. Setelah selesai aku meletakkan hp di meja dan memandang Gendis.
"Mmm kalau tentang masalah itu aku sebenarnya aku keberatan"
" Kenapa ?"
" Kenapa?... mmm karena aku cuma anggap kamu patner kerja aja gak lebih"
" Apa karena aku temen Dina?"
" Terimakasih" kataku pada pelayan yang membawa pesanan ku
" Mmm gak juga, Lagi pula Dina gak ada hubungannya dengan hal ini, makan!" Kataku yang kemudian mulai makan
"Kenapa kakak gak suka sama aku?"
" Mmm suka? aku suka sama kamu tapi suka sebatas teman gak lebih"
" Tapi aku sayang sama kakak" mendengar hal itu aku langsung menghentikan kegiatan makanku.
" mmm aku gak bisa paksa kamu biar gak suka sama aku, dan kamu juga gak bisa paksa aku suka sama kamu. impas kan?" kataku kemudian melanjutkan makanku.
" Apa kurang aku kak? yang ada di dina dan tak ada di aku? aku bakal berusaha jadi orang yang kakak mau. Aku suka sama kakak udah lama"
" heeeemmm kamu cantik, baik dan tak ada yang kurang dikamu, tapi aku hanya anggap kamu sebatas patner kerja gak lebih..."
__ADS_1
" Kalau kak Gio mau aku jadi Dina aku bisa kok aku akan berusaha, agar kakak mau terima lamaran papa" Katanya sembari memegang tangan ku setelah berpindah duduk ke sampingku. aku yang kemudian menyelesaikan makanku, langsung menggenggam tangnnya.
" Jadilah diri kamu sendiri, jangan jadi orang lain. Kamu cantik, kamu bisa dapetin yang lebih dari aku" Kataku yang kemudian melepaskan genggaman, mengambil hp dan pergi dari hadapan Gendis.
Sebelum pergi aku membayar semua yang dipesan Gendis dan aku.
Saat berjalan menuju parkiran aku bertemu Marsya bersama laki laki yang berbeda dengan yang dulu saat meninggalkanku.
" Gio" Katanya menyapaku saat aku menaiki motor dan tengah memakai helm.
" Hay Sya" kataku balik menyapa
" Apa kabar? " Sapanya lagi sembari mengulurkann tangan
" Baik, lo sendiri?"kataku sembari melepas helm.
" Aku juga baik, aku ikut berduka cita atas meninggalnya Dina" katanya sembari menggandeng laki laki disebelahnya seakan ingin memanasiku
" Iya terimakasih"
" Oh iya kenalin ini tunangan aku Robi"
" Oh iya gue Gio" kataku menjabat tangan laki laki itu
" Robi, tunangan Marsya" katanya sembari tersenyum
" oh iya maaf aku buru buru aku duluan" kataku yang kemudian memakai helm lagi
" Oh iya silahkan"
Kulihat pesan dari Seno yang menyuruhku kumpul di rumah angga malam ini.
Aku langsung menelpon balik tapi tak diangkat, aku menelpon angga dia pun tak mengangkat.
Ahirnya aku memutuskan untuk pulang dulu dan istirahat.
Sesampainya dirumah dan memarkirkan motor, aku tak melihat keberadaan Mamah atau pun ayah.
Aku langsung saja masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur.
Aku berpikir bagaimana memberitahu mereka aku gak bisa datang kalau panggilanku diabaikan.
" aaaaaah siaaaaal" kataku sembari merubah posisi tidurku
Tak tau bagai mana aku bisa langsung tertidur, yang aku tau saat aku bangun hari sudah sore.
Mamah yang mengetuk pintu kamar yang tadi aku kunci membuatku sadar dari tidurku, dan langsung membuka pintu.
" Sudah sore nak, kamu belum mandi?"
" Iya mah maaf aku ketiduran"
" Ya sudah sekarang mandi dulu, Ayah nunggu kamu di bawah"
" Iya mah" kataku. Setelah mamah pergi aku menutup pintu lagi dan mengambil handuk.
__ADS_1
Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat, berharap pikiran pikiran yang membuatku bingung, bimbang dan marah terbawa oleh air itu.
Aku bingung harus seperti apa hidup yang aku jalani sekarang, seakan hidupku tak berwarna karena masih saja bayangan Dina memenuhi pikiranku.
Tubuh Dina yang penuh dengan darah terus terbayang, perkataan terahir Dina bahwa dia mencintaiku juga terus terbayang di benakku.
" Maaf Din... aku gak bisa jaga kamu" kataku sembari terduduk dibawah guyuran air.
Mungkin inilah yang dimaksud kejiwaan ku mulai terganggu, rasa cinta, rasa bersalah dan penyesalan yang amat sangat kurasakan membuatku terus dihantui Rasa bersalah pada Dina.
Setelah hampir satu jam aku pun keluar dan segera bersiap untuk acara malam ini.
" Gio, kamu udah siap sayang?" Kata mamah sembari membereskan meja makan bersama bi inah.
" Iya mah udah"
" Gio sini" Kata ayah yang sudah duduk sembari menutup koran. Aku kemudian menghampiri ayah dan duduk didepannya.
" Tadi Ayah telpon pak Udin, katanya Ajeng kerja sama keluarga pak Burhan, Apa kamu tau?"
" Iya tau Yah, dia jadi asisten pribadi Rara"
" Ooh gitu, tadi Ayah liat Ajeng cantik banget kalau dandan"
" Mmm dia kan cewek yah, pasti cantik. Kalau cowok pasti aneh kalau dandan" kataku sembari tersenyum
" Kamu ini Gioooo...keterlaluan" Kata mamah yang memukul bahuku dari belakang dan memelukku.
" hehe bercanda mah"
" Maksud Ayah kamu tertarik gak sama ajeng?"
" Mmm banget" bisiku pada mamah yang membuat mamah tersenyum memandang Ayah.
" Jadi yah kita besanan sama Pak udin" kata mamah sembari tertawa
" Apa gak masalah Ayah sama mamah?"
" Masalah gimana maksud kamu?" kata ayah heran
" Pak udin kan orang biasa, apa Ayah gak mau cari besan yang kaya?"
" Hahaha, Gio gio..." kata ayah yang kemudian membaca koran kembali
" Gio, dulu sebelum Ayah sama Mamah kayak begini, Ayah sama mamah juga kayak pak Udin, tak punya apa apa. Tapi dengan ketekunan ayah dan kejujuran ayah kita bisa jadi seperti ini" Ucap mamah sembari meneteskan air mata
" Gio , kamu harus ingat kalau tidak ada orang orang seperti pak udin yang membantu usaha kita sekarang, mungkin kita juga gak ada di posisi ini. Kamu harus ingat itu "
" Iya mah, Gio paham" kataku sembari memeluk mamah.
Aku bangga lahir dari rahim seorang ibu yang baik dan Ayah yang tak pernah lupa akan jati dirinya.
Walaupun keadaan mereka sekarang yang jauh dari pak udin yang hanya petani, Tapi Ayah dan Mamah tak pernah menganggap mereka rendah dan tidak pantas dijadikan besan.
" Aku sayang kalian..."
__ADS_1