Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
29. Menikahi Ajeng


__ADS_3

Sesampainya disana Kami disambut Rara, Ajeng , Mira dan Putri yang sedang berkumpul menunggu kedatangan kami.


Saat melihatku Rara tersenyum dan langsung menghampiriku.


" Kamu datang G?"


" Iya Ra, sebenernya gue sibuk tapi calon suami lo maksa gue sambil nangis nangis" kataku sembari tersenyum


Angga tak menghiraukan perkataan ku dan langsung menanyakan keadaan Ajeng.


" Mana Ajeng?"


" Ajeng tidur, mending kita pulang ke rumah ku dulu, ini sudah malam. Besok kita kesini lagi" Kata Rara sembari memandang kearahku.


" Kita gak bisa ikut Ra, gue sama Mira harus balik" Kata Bagas yang kemudian diikuti Beni dan Seno. Ahirnya hanya Aku dan Angga yang ikut ke Rumah Rara untuk istirahat.


Keesokan Paginya Aku kembali ke RS dimana Ajeng dirawat.


Rara dan Angga menunggu di lorong RS dan melihatku yang menghampiri Ajeng yang sedang duduk sendiri di kursi taman.


" Ajeng" Kataku sembari duduk disampingnya.


Tak ada respon dari Ajeng, dia hanya menatap kosong kearah depan, entah apa yang sedang ia pikirkan.


" Ajeng" Kataku lagi sembari memegang bahunya. Dia kemudian menoleh


" Mas Gio, kapan mas kesini?" katanya sembari tersenyum


" Barusan, kamu lagi ngapain duduk sendiri?"


Kataku kemudian mengeluarkan kotak cincin dari saku.


" Saya sedang melihat pemandangan Mas" katanya kemudian menatap kosong lagi ke arah depan


" Ajeng" Kataku lagi. Tapi ajeng tak merespon lagi. Aku kemudian melihat Rara yang tengah menangis dibahu Angga, angga kemudian membawanya menjauh dari sana


Sekali lagi aku memanggil menepuk pundak Ajeng


" Oh mas Gio, kapan mas kesini?" Tanya nya lagi sembari tersenyum.


" Kamu kenapa?" Kataku sembari tersenyum. Tiba tiba ajeng menangis dan memukul tangannya sendiri. Aku langsung memegang tangnnya.


" Ajeng... Ajeng" kataku sembari memeluknya


" Mas di bilang saya wanita cacat, di bilang saya tak pantas dicintai dia bilang wanita seperti saya pantas dibuang..." katanya sembari menangis. Kemudian Dia melepaskan pelukannku.


"Mas lihat ini ini ini dan ini" Katanya sembari membuka lengan baju panjangnya, memperlihatkan kakinya dan memperluhatkan dada nya yang terdapat luka bakar yang telah menghitam.

__ADS_1


" Katanya ini membuat saya jadi tak pantas sama dia, saya Wanita cacat mas..." Dia kemudian menangis di pangkuanku. Tapi tiba tiba dia tertawa


" Hahahaha dasar laki laki ber****k, dia ninggalin saya gara gara ini" Katanya sembari memukul dada dan tangannya sendiri.


" Hentikan... Hentikan" kataku sembari memegang tangannya


" Hahah nananananana, Bapak ibu ajeng tak mau hidup... Ajeng sayang kalian...Maafkan ajeng...." katanya kemudian melepaskan tanganku dan duduk di tanah.


Entah apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku hanya terdiam melihat ajeng menangis sembari memandang ke depan dengan tatapan kosong.


Aku kemudian mengambil kotak cincin yang tadi terjatuh di tanah.


Kemudian duduk didepan Ajeng.


" Ajeng aku mau kita menikah" Kataku sembari memasangkan Cincin di jari manisnya.


" Aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya" Mendengar perkataan ku Ajeng kemudian memandangku


" Mas Gio..." Katanya kemudian memelukku


" Jangan pikirkan siapa pun dan bahas laki laki itu lagi, aku gak suka. Ayo kita menikah sekarang" Kataku kemudian melepaskan pelukan Ajeng dan menghapus air matanya.


" Jangan seperti ini lagi, aku gak suka. Aku suka kamu yang ceria." Kataku kemudian mengecup keningnya.


" Kenapa Mas Gio mau sama Saya? Padahal Saya cuma wanita..."


" sssttt, aku Sayang kamu dan mau kamu jadi istri aku. jangan berpikir diluar itu. Oke" kataku sembari tersenyum.


Aku mengutarakan niatku menikahi ajeng, karena aku dan keluarga ajeng tak mempersiapkan apa apa, terpaksa kami pun menikah secara siri. Aku pun berjanji akan mengurus surat resminya setelah pulang ke kota.


Pernikahanpun terlaksana dengan sederhana, yang hanya dihadiri beberapa saksi dan kerabat dekat Ajeng, Angga dan Rara sebagai saksi dari pihak ku.


Senang Rasanya aku kini telah menikah dengan Wanita yang aku ingin kan.


Setelah acara selesai aku pun pamit pulang membawa Ajeng ke kota bersamaku.


" Pak, Bu. Saya pulang dulu, banyak pekerjaan yang harus saya urus disana"


" Apa sebaiknya nak gio disini dulu beberapa hari ini, sembari menunggu kelengkapan data Ajeng" Kata pak udin


" Maaf Pak, bukannya saya tak mau. Tapi saya benar benar tidak bisa. Kalau masalah kelengkapan yang dibutuhkan untuk mengurus surat secara negara, saya akan mengirim pengacara dan supir kesini"


" Baiklah kalau begitu, Bu sudah siap?" Kata Pak udin memastikan pakaian ajeng sudah dikemas


" Sudah pak" Kata bu Ratmi yang kemudian memeluk Ajeng


" Kami berangkat sekarang" kataku sembari memegang tangan Ajeng. Ajeng hanya terdiam melihat keluarganya dan tak berkata apa pun.

__ADS_1


Saat di mobil Ajeng hanya terdiam memandang ke arah jendela. Rara yang disampingnya hanya memandangnya sembari menahan air mata.


" Ga, berapa hari lagi nikahan lo?" Kataku memecah kesunyian


" 1bulan kurang lagi, emang kenapa?" Kata angga sembari fokus menyetir


" Pantes Rara keliatan biasa aja, ternyata masih lama"


" Emangnya gue harus gimana?" kata Rara dengan nada kesel


" Harusnya lo belajar dandan yang menor, biar angga makin kesemsem"


" Gak menor juga mas Angga udah cinta berat" Kata Rara sembari mencubitku


" Aaaw... Sakit Ra" kataku sembari tersenyum


" Biarin" katanya sembari tertawa


" Ajeng, awas nanti malem kalo Gio minta jatah jangan dikasih" Kata Rara sembari memegang tangan Ajeng. Tapi ajeng tak merespon apapun. Rara kemudian menangis dan Angga langsung menghentikan laju mobilnya.


Rara kemudian keluar mobil yang diikuti Angga.


Aku melihat ke arah Ajeng yang sama sekali tak berpindah dari tempatnya. Aku pun keluar mobil menghampiri Rara dan angga.


" Ra, ajeng baik baik aja. Gue yakin ajeng pasti sembuh, gue bakal coba segala cara buat ajeng sembuh" Kataku sembari menepuk bahu Rara


" Ajeng mas..."


" Yank udah, Gio bener. kita harusnya dukung cara Gio sekarang. Kita percayain semuanya ke Gio. Ini lebih baik dibanding Ajeng harus dirawat di RS" kata angga meyakinkan Rara.


" Ra, gue janji bakal jaga istri gue, lo gak usah hawatir"


Kami pun melanjutkan perjalanan setelah Rara merasa lebih baik.


Sesampainya di depan apartemen, Rara dan angga berpamitan. Aku kemudian mengajak Ajeng masuk dengan membawakan tas dan menggandeng nya. Sesampainya Di apartemen Aku langsung membereskan pakaian Ajeng ke lemari. Setelah selesai aku langsung menghampiri Ajeng yang sedang melihat pemandangan dari jendela.


" Indah kan? Apalagi kalo liatnya dari balkon dan malem hari. Pemandangannya lebih indah" Kataku sembari memeluknya dari belakang.


" Mau makan diluar? Disini banyak lestoran yang enak" Kataku yang masih memeluknya.


" Kalau gak mau, kita makan disini aja. Kita pesen makanan biar dianter kesini. Kamu suka apa?" Ajeng masih tidak merespon dan hanya memandang kosong ke luar.


" Sayang...Aku bahagia kamu sekarang ada di sini" Kataku sembari mencium lehernya dari belakang


" Kenapa?" Katanya dingin


"Karena aku memang mengharapkan semua ini. Apa kamu gak bahagia? menikah sama aku?"

__ADS_1


"Kenapa mas mau sama wanita cacat kayak aku?" katanya masih dingin dan berbalik memandangku.


Aku kemudian tak menghiraukan pertanyaan Ajeng, aku langsung pergi mengambil hp dan memesan makanan.


__ADS_2