Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
18. Menenangkan Pikiran


__ADS_3

Tiga bulan setelah meninggalnya Dina aku memutuskan keluar dari rumah Ayah dan tinggal sendiri di rumah yang aku beli yang tadinya ingin aku hadiah kan pada Dina saat pernikahan kami. Awalnya Mamah melarangku pergi, tapi begitu banyak kebahagiaan bersama Dina di rumah Ayah yang kini menjadi kenangan yang membuat hatiku begitu sakit bila mengingatnya.


Perasaan bersalah terus menghantuiku, bayangan akan kebencian dan kata kata kasar keluarga Dina padaku, yang menurut mereka aku adalah orang yang tak mampu menjaga Dina terus saja mengisi otakku.


Aku memang bersalah, akulah yang tak bisa menjaganya... Maafkan aku...


Ayah dan Mamah yang mengerti akan kesedihanku tak pernah membahas tentang kejadian atau masalah Dina lagi didepanku, mereka membiarkan aku menjalankan apa yang aku mau. Termasuk bekerja sebagai karyawan diperusahaan orang lain.


Karena Rumahku tidak jauh dari Rumah Ayah, Mamah sering menjengukku hanya untuk memastikan aku baik baik saja.


" Gio, kamu jangan capek capek ya, mamah takut kamu kecapean" katanya sembari mengusap rambutku.


" Mah, apa keluarga Dina menghubungi mamah? Tanyaku sembari tidur dipangkuannya.


" Gio, sudah lah. Jangan pikirkan hal ini lagi. Kejadian itu sudah kehendak yang illahi. Jangan kamu sesali lagi"


" Tapi mah..."


" Sudah lah nak, lebih baik sekarang kamu kembali kerumah dan tinggalkan pekerjaan kamu ini. Perusahaan Ayah membutuhkan kamu"


" Mah, aku mau liburan dulu ke Vila Ayah yang dipuncak" Kataku yang bangun dari pangkuan Mamah


" Iya nak, jika itu yang membuatmu merasa lebih baik Mamah ijinkan kamu.


" Makasih mah, sepulangnya dari sana aku aku akan kembali ke perusahaan Ayah"


" Iya Nak, Mamah akan hubungi pak udin disana. Biar mereka mempersiapkan kebutuhan kamu disana"


" Makasih mah"


Sepulangnya mamah, aku langsung menyiapkan pakaian yang akan aku bawa kesana.


Aku berpikir akan sedikit lama tinggal disana, untuk mendinginkan pikiran dan sedikit melupakan permasalahan yang selalu menghantuiku.


Keesokan paginya aku berangkat setelah menyerahkan surat pemunduranku ke perusahaan dimana aku bekerja selama 2 bulan.


Sesampainya disana aku disambut Pak udin dan keluarganya yang selama ini mengurus Vila ayah.


" Mas Gio, sehat?" kata pak udin sembari menjabat tanganku


" Sehat pak, bapak sendiri?"


" Alhamdulillah sehat Mas, seperti yang mas lihat" Katanya sembari tersenyum.


" Ini istri sama anak saya mas"Katanya sembari menggendong anaknya yang masih Balita


" Oh iya halo bu, saya Gio"

__ADS_1


" Iya mas saya sering denger soal mas dari suami saya, mas bisa panggil saya Ratmi"


" Iya Bu Ratmi, maaf selama saya disini merepotkan"


" Ah mas ini, itu kan sudah jadi tugas saya" katanya sembari tersenyum


" Ibu sama Bapak baru punya satu anak?"


Tanyaku yang heran karena umurnya sudah cukup tua tapi hanya punya satu anak dan masih balita.


" eeem itu Mas Gio..." Kata pak udin sembari melirik istrinya, kulihat ada sesuatu yang membebani mereka.


" Maaf Pak Bu, saya cuma penasaran. Dan gak ada maksud apa apa. Kalau Pak udin Sama BU ratmi gak jawab juga gak apa apa.


Saya masuk dulu". Kataku yang kemudian masuk kedalam Vila meninggalkan Pak udin dan bu Ratmi yang masih terdiam.


Kulihat sekeliling Vila yang sudah lama aku tak pernah datangi, terahir aku datang kesana saat masih SMP. Suasana yang sama posisi perabotan yang masih sama, dan pemandangan yang masih indah. Yaa walaupun ada sedikit yang berubah.


Setelah puas melihat sekeliling aku merebahkan diri di kasur yang masih zadul, yang menggunakan ranjang.


Aku pun tertidur sampai seseorang mengetuk pintu dan memanggil namaku.


" Mas... mas.. mas Gio"


Aku langsung membuka mata dan berjalan menuju pintu yang tadi aku tutup. Kulihat Bu Ratmi membawa nampan yang penuh dengan makanan dan minuman has desa.


" Oh iya Bu makasih, saya memang belum makan. Saya ketiduran tadi jadi lupa kalau belum makan"


" Ya sudah ini Mas Gio makan dulu m7mpung lagi hangat"


" Iya makasih bu"


Akupun mengambil nampan dari tangan bu Ratmi, dan meletakkannya dimeja.


" Mendingan gue mandi dulu" kataku berbicara sendiri


Setelah selesai mandi aku pun makan sembari mengecek hp yang penuh dengan pesan Mamah dan sahabat ku.


Aku pun sembari makan membalas satu persatu pesan.


Setelah selesai aku duduk di ruang tengah sembari membuka laptop.


" Mas Gio, kalau mas membutuhkan sesuatu bilang saja, saya sama istri ada dikamar belakang" Kata pak udin yang tiba tiba datang dari belakang ku


" Oh iya Pak terimakasih. Bapak tinggal dirumah ini?"


" Sebenarnya tidak mas, saya sama istri kesini kalau mau beres beres. Tapi karena sekarang ada Mas Gio saya menginap disini. Takutnya mas Gio butuh saya malam malam. apa lagi rumah saya dari sini cukup jauh mas kalau jalan kaki" katanya sembari tersenyum

__ADS_1


" Oh iya makasih pak, saya jadi ngerepotin bapak"


" Oh tidak begitu Mas, itu sudah tugas saya. Lagipula saya kan digaji sama keluarga Mas gio. Kalau mas gak butuh saya, saya kebelakang dulu Mas"


"Iya pak silahkan."


Keesokan paginya aku bangun pagi dan melihat sudah tersedia makanan dimeja makan.


" Mas Gio sudah bangun? apa mas butuh sesuatu?"


" Oh enggak bu, oh iya bu saya mau jalan jalan disekitar sini" Kataku sembari duduk dan memakan makanan yang Bu Ratmi siapkan.


" Mas mau jalan jalan kemana?"


" mmm disekitar sini aja bu, liat perkebunan ayah"


" Kalau perkebunan Ayah mas Gio luas mas, gak cukup kalau satu hari"


" Hehehe bu Ratmi ini, saya mau liat pemandangan bukan mau ngukur tanah"


Kataku sembari tertawa.


" hehehe iya, kalau gitu nanti saya bilang sama suami biar temenin mas Gio"


" Iya bu boleh"


" Kapan mas mau berangkat?"


" Mmm saya mau mandi dulu"


" oh iya kalau begitu saya kasih tau suami dulu" katanya sembari pergi


Setelah mandi hp ku berbunyi.


" Ya halo... ya gue baik baik aja... gak tau, tapi kalau gue pulang kita ketemu ditempat biasa" Kataku yang kemudian menutup telpon dari Beni


Aku pun keluar rumah dan melihat Pak udin yang menggendong anaknya.


" Mas Gio sudah siap, jalan sekarang?"


" Bapak mau bawak anak?"


" Iya kasian kalau gak diajak suka nangis"


" ooh ya sudah ayo berangkat pak"


Kami pun melangkahkan kaki dan melewati perkampungan, disana banyak yang membungkukkan badannya untuk memberikan rasa hormat mereka, Mereka kebanyakan adalah pegawai Ayah diperkebunan. Sebenarnya Desa itu mulai maju sejak Ayah mempercayakan semua kebun untuk dikelola oleh warga disana. Ayah juga membangun sekolah SD, SMP, kelinik kesehatan dan koprasi masyarakat.

__ADS_1


Tak heran mereka begitu menghormatiku sebagai anak dari orang yang dianggap berjasa pada mereka.


__ADS_2