Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
22. Gendis


__ADS_3

Setelah sedikit mempelajari dokumennya, aku kemudian keluar ruangan dan menyuruh sekertaris untuk ikut rapat bersamaku.


Sesampainya ditempat yang sudah dijanjikan dan bertemu dengan klien, Aku sungguh terkejut dan tidak percaya yang ada dihadapanku.


" Gendis?"


" kak Gio?"


" Pak Gio kenal anak saya?" kata laki laki tua yang ada dihadapanku itu


" Iya kami kenal" kataku sembari menjabat tangan laki laki itu dan gendis.


" Silahkan duduk" Titahnya padaku


" Saya tidak menyangka Nak Gio masih muda tapi sudah menjadi pemimpin perusahaan besar"


" Ini perusahaan Ayah saya pak, jadi jangan terlalu memuji" Kataku sembari tersenyum


" Tapi kan lama kelamaan juga jadi milik nak Gio kan?" Katanya sembari tertawa


" Kak Gio hebat, Dina pasti bangga sama kakak" Kata gendis sembari tersenyum


" Siapa Dina?"


" Dina itu calon istri kak Gio Pah, tapi..."


" Sudah meninggal karena kecelakaan" kataku melanjutkan kata kata gendis


" Iya pah, dia sahabat aku satu satunya" kata gendis yang kemudian meneteskan air mata


" Sayang, sudah ah malu jangan nangis"


" Iya pah maaf" Gendis kemudian mengusap air matanya


" Kita mulai rapatnya sekarang?" Kata Ayah gendis yang kemudian mengeluarkan dokumen dari tas nya.


Kami pun memulai rapatnya, gendis yang sedang belajar mengurus perusahaan papahnya pun ikut rapat dengan kami. Seusai Rapat yang berujung kerjasama antara perusahaan kami, Aku pun langsung pulang karena hari sudah sore.


Saat diperjalanan menuju rumah, aku menghentikan laju motor ku karena hp ku berbunyi. Saat kulihat ternyata panggilan dari Bagas, Awalnya aku merasa malas untuk menjawabnya, tetapi Bagas terus saja menelponku sampai 3x. Ahirnya aku pun mengangkat panggilannya.


" Halo gas ada apa?... Gue baru pulang, ini juga lagi di jalan.... Gue capek... oke gue kesana" kataku sembari meletakkan hp ke saku kemejaku.


Tadinya aku menolak karena seharian bekerja aku ingin instirahat di rumah tapi saat aku mendengar bahwa anak anak lagi kumpul di rumah Angga dan mereka bersama pacar mereka aku pun setuju untuk datang. Aku berencana untuk menemui Rara dan bertanya tentang Ajeng.


Sesampainya disana mereka sedang berbincang di teras depan, akupun menghampiri mereka setelah memarkirkan motor dan membuka jas ku.

__ADS_1


" Pak bos datang juga" Kata Bagas sembari langsung berdiri dan memelukku


Mereka pun langsung berdiri dan satu persatu memeluk dan menjabat tangnku.


" Sehat G?" kata beni


" Seperti yang lo liat" Kataku yang langsung duduk.


" Aku ambilin minum buat Gio dulu ya" Kata Rara yang kemudian menuju dapur


Sontak aku langsung berpamitan kepada mereka ke toilet, padahal niatku untuk bertanya pada Rara.


Saat situasi serasa aman, aku mendekati Rara yang sedang memanaskan air.


" Ra" kataku dari belakangnya, ia pun langsung menengok kaget


" Kaget aku, apa G?" katanya sembari membelakangiku lagi.


" Gue mau nanya masalah ajeng"


" Kenapa lo nanya masalah cewek gue G?" Kata beni yang tiba tiba muncul dari belakangku. Sontak aku menjadi gugup dan tak tau harus menjawab apa.


" Bukan cewek kamu mas Ben, tapi Ajeng yang lain" kata Rara dengan santai menuangkan air panas ke gelas.


" Emang ada ajeng yang lain selain ajeng ku sayang?"


Yaa mau tidak mau setelah keluar aku harus menjawab pertanyaan pertanyaan teman temanku.


Setelah duduk ditempat awal tadi aku datang, semua menatapku dan tak berkata apa apa.


Karena merasa tidak nyaman ahirnya akupun bertanya.


" Apa? kok liatin gue kayak gitu?" kataku santai sembari menyeruput kopi yang dibuat Rara tadi.


" Gak ada apa apa?" kata Bagas santai sembari menghisap batang rokok yang sembari tadi dia hidupkan.


" ooh" kataku lagi, yang mencoba santai


" Gue sekarang udah resmi ngambil alih perusahaan bokap, jadi mungkin kita bakal jarang nongkrong" kataku memecah kesunyian. Mereka sepertinya tak merasa tertarik dengan cerita itu, aku pun kemudian mencari topik lain.


" Eeh Gas, lo jadi nikah taun ini sama Mira?"


" Jadi" katanya ketus


Mereka masih memandangku dengan pandangan sengit apalagi Angga yang sepertinya menaruh kemarahan padaku.

__ADS_1


" mmm kalau gitu gue pulang dulu, gue mau istirahat" kataku yang kemudian berdiri.


" Jadi lo udah gak anggap kita sahabat lo lagi ya?"


" Apa maksud lo Ga?" Aku pun duduk lagi


" Udah lama kita jadi sahabat G, lebih dari gue pacaran sama Rara, bahkan sebelum Bagas jadian sama Mira. Lo tau kan gimana bahagianya kita waktu salah satu sahabat kita punya pacar?"


Sebenarnya aku mengerti apa yang Angga maksud, tapi aku takut mereka tidak mendukung niatku karena keadaan ajeng.


" Kalo lo memang mau jauhin kita dan mutusin persahabatan kita ya udah" Kata Beni emosi


" Bukan gitu"


" Terus apa G, lo mulai gak terbuka sama kita, mulai menjauh, mulai nyimpen rahasia dan banyak lagi apa itu maksudnya?" Kata Seno yang ikut marah.


" Gue cuma butuh waktu"


" Apa 3 bulan kurang G? mau berapa lama lagi? Dina sudah tenang disana, lo harusnya udah bisa iklas?" kata Bagas


" Mas bagas udah, gak baik kalau semua marah" Kata Putri melerai.


" Terserah lo aja G, kalo mau pulang pulang aja" kata Angga memalingkan mukanya


Aku hanya terdiam dan memandang wajah mereka satu persatu, aku memberanikan diri untuk mengatakan apa yang terjadi padaku setelah memutuskan pulang ke rumah Ayah dan berlibur ke villa.


Pertemuan ku dengan Ajeng yang membuatku kembali merasakan apa yang aku rasakan dulu pada dina, ayah dan mamah yang menyetujui keputusanku akan bersama ajeng atau tidak, dan kebimbanganku bagai mana, dan apa yang harus aku lakukan setelah ini.


" G harusnya lo bilang dari awal, kita tau kondisi ajeng dari Rara" Kata Bagas sembari menepuk bahuku


" G, perasaan yang lo rasain sama ajeng bisa dirasakan siapa aja, termasuk Gue" Kata Beni


" Kalau memang keadaan ajeng yang buat lo bimbang dan bingung harusnya lo cerita sama kita, kita bakal bantu lo selama kita bisa. Iya kan Ga" Kata seno yang kemudian menepak Angga yang sepertinya masih marah


" Kecuali lo memang udah anggap kita orang lain" Kata angga dengan pandangan marah.


" Sorry gue gak maksud kayak gitu. Gue cuma belum siapa dan gak tau apa yang harus gue lakuin. Apalagi gue juga gak tau perasaan gue ini rasa kasian atau emang rasa cinta"


" Kalo lo mau tau kita cari tau bener gak sob" Kata Beni dengan semangat, yang kemudian membuat mereka tersenyum.


" G, kita dukung lo, kalau itu buat lo merasa lebih baik dan bisa melupakan kesedihan lo"


Kata angga yang mulai bisa memahamiku.


" Betul g, lagian keadaan Ajeng gak separah yang lo duga. Iya kan Yang?" Kata angga pada Rara

__ADS_1


" Iya , Aku yakin, ajeng kalau dapet banyak perhatian dan melupakan kesedihannya dia akan sembuh. dokter juga bilang kalau dia mengamuk itu juga karena sesuatu yang membuatnya sedih diungkit, jadi dengan kata lain, ajeng sama kayak Kamu G, butuh perhatian dan butuh orang yang bisa membuat dia lupa akan kesedihannya"


" Dan kalau mas G butuh bantuan cewek cewek, kita bisa bantu apalagi kalau cewek sama cewek biasanya cepet akrab" Kata mira sembari tersenyum.


__ADS_2