
Ketika sampai di depan gerbang sekolah kami bertemu Edo dan seorang gadis berseragam sama seperti Dina.
" Kak Gio" Katanya sembari melambaikan tangan dan kemudian mendekati kami.
" Lo lagi ngapain disini?" Kataku seolah tak tau bahwa pacarnya satu sekolah dengan Dina.
" Sama kayak kakak nganterin pacar" katanya sembari merangkul gadis itu seolah menunjukan pada kami mereka pasangan serasi.
" Ooh iya" Kataku yang kemudian membantu Dina turun dari motor dan melepas helm nya.
" Nama saya Salsa kak" Kata Gadis itu sembari mengulurkan tangan. Aku kemudian menjabat tangannya sembari senyum
" Oh iya salam kenal ya!"
" Kak" Kata Dina yang berada disampingku
" Oh iya kamu kenal Dina?" Tanyaku sembari memegang pundak Dina.
"Ooh iya kak saya kenal, tapi tidak terlalu dekat" katanya sembari tersenyum sinis
" Oh gitu ya, memang calon istri gue ini kurang bisa bergaul" Kataku sembari mencubit pipi Dina
" Kakak" Ucap Dina kesal, Salsa dan Edo kemudian sedikit menjauh dari kami. Tapi aku lihat edo dan pacarnya itu sesekali masih memperhatikan kami dari tempat mereka berdiri.
" Iya maaf, oh iya nih uang pegangan kamu. aku bakal sibuk di kantor hari ini buat gantiin Ayah , jadi gak bisa jemput kamu. Gak apa kan?" Kataku sembari memberikan beberapa uang lembar 100 ribu. Dina mengangguk dan mengambil uangnya.
" Aku duluan kak" Kata Edo yang kemudian pergi setelah melihat pacarnya masuk.
" Oh iya.."
" Kamu bisa pulang sendiri kan? Kalau kamu mau kamu bisa datang ke kantor nanti"
" Mmm liat nanti aja ya kak" Katanya sembari tersenyum dan mencium tanganku
" Met belajar ya" Kataku yang kemudian pergi setelah memastikan Dina masuk ke halaman sekolah.
Sesampainya di depan kantor, aku segera memarkirkan motor. Beberapa karyawan menyapaku karena mereka sudah tahu bahwa aku adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan dimana mereka bekerja. Saat masuk aku disambut securiti yang berjaga.
" Selamat pagi pak" katanya menyapaku, aku hanya menganggukan kepala dan kemudian menaiki lift menuju kantor Ayah.
Saat keluar lift aku langsung menuju meja kerja Mona yang merupakan sekertaris Ayah.
" Tolong minta dokumen keuangan dan dokumen yang harus saya tandatangani" Ucapku pada Mona yang kemudian membuat Mona berdiri
" Baik pak, Saya akan siapkan"
__ADS_1
Aku masuk dan duduk dimeja kerja Ayah dan kemudian mengambil Hp dari tas punggungku dan mematikannya.
Saat Mona masuk dan membawa setumpuk dokumen aku langsung tercengang.
"Benar yang gue duga Ayah meninggalkan banyak pekerjaan" Kataku dalam hati
" Ini pak yang harus bapak tandatangani dan bapak pelajari, dan ini Laporan keuangan perusahaan Bulan ini"
" Astaga... Ayaaaaah" Kataku sembari menyenderkan tubuhku di kursi, Mona kemudian tersenyum melihat ku
" Makasih, kamu boleh pergi" Kataku pada Mona yang kemudian meninggalkanku sendiri.
Melihat tumpukan dokumen didepanku saja aku sudah malas karena membayangkan betapa bingung dan lamanya aku harus duduk dikantor Ayah.
" aaah Ayaaah, sengaja sekali membuatku pusing..." Dengan kesal kemudian aku baca satu persatu dokumen itu, sampai aku lupa hari sudah siang.
" Pak, apa bapak mau saya pesankan makanan siang" Kata mona saat masuk keruangan
" Tidak terimakasih" Kataku yang kemudian menutup dokumen yang sedang aku baca.
" huuuuh Sebaiknya gue makan dulu, nanti gue lanjut lagi.
Kemudian aku turun ke lantai 1, aku berniat pergi sendiri ke lestoran yang tidak jauh dari kantor. Saat aku baru melewati pintu seseorang memelukku dengan erat.
" Gio, aku kangen kamu" Suara yang tak asing ditelinga. Dia adalah Bella Wanita yang mengejar ngejarku saat masih duduk dibangku SMA, bisa dibilang dialah saingan Marsya. Mereka dulu sempat bersitegang karena aku memilih marsya sebagai kekasihku.
" Bella ngapain kamu kesini?" Tanyaku sembari melepas pelukannya.
" Aku kangen sama kamu Gio, aku bahagia denger kamu udah putus sama si nenek jelek" Katanya yang kemudian memelukku lagi.
" Bel lepasin, kita dikantor" Kataku yang terus berusaha melepaskan pelukan Bella
" Biarin aja, biar mereka tau aku sayang kamu, Aku yakin kamu juga pasti kangen sama aku. Kita udah gak ketemu 2 tahun kan"
" Bellaaa... lepasin. Aku mau makan" kemudian bella melepaskan pelukannya dan langsung menggandengku
" Kalo gitu ayo kita makan sembari ngedate" Bella terus menarik tanganku.
Seharian Dia terus saja bercerita tentang kemana saja dia selama 2 tahun dan perasaannya padaku.
Sampai sampai aku kembali ke kantor hari sudah sore. Ahirnya Aku mengemasi barangku dan lebih memeilih pulang dan membawa pekerjaan ku ke rumah.
Saat Aku sampai di rumah dan memarkirkan motor aku langsung masuk kerumah.
" Aden..." Kata bi inah yang sedikit panik
__ADS_1
" Apa bi?" Kataku heran melihat bi inah seperti ketakutan
" iiitu Den, Non Dina belum pulang"
" Belum pulang bi?" Kataku yang kemudian menghidupkan hp.
Kucoba menghubungi no Dina tetapi tidak diangkat, karena cemas ahirnya aku memutuskan untuk mencarinya. Sebelum aku menyalakan motor Angga datang membawa Dina di belakangnya. Dina seperti orang yang telah lama menangis, matanya sembab sekali.
" Kamu kemana aja?Bi inah sampai panik kamu belum pulang jam segini" Kataku sembari menarik Dina yang telah turun dari Motor Angga.
" Terimakasih kak angga saya kedalam dulu" Kata dina yang melepaskan tanganku kemudian masuk kerumah.
" Din...Dina" Saat aku berniat mengejar Dina Angga menarik tangan ku.
" G biarin aja, kayaknya dia butuh sendiri dulu"
" Lo sama dia seharian" Tanyaku pada angga dengan curiga
" Gue ketemu dia dijembatan jalan ke kantor lo, dia nangis sambil jalan tadi. Gue tanya, dia gak jawab, terus gue ajak aja ke rumah Rara. Dia juga gak jawab apa apa pas rara tanya, malah Rara bilang anterin aja kesini biar lo yang tanya." Jelas Angga
***
( Rara adalah tunangan Angga)
" Kayaknya dia marah sama lo G"
" Marah sama gue? tapi tadi pagi kita baik baik aja" Kataku semakin heran.
" Yaudah lo tanya aja, gue mau pulang. Tanya nya yang lembut jangan kasar" Kata Angga sembari tersenyum dan kemudian pergi.
Setelah angga pergi aku kemudian masuk ke rumah.
" Bi buatin makanan ya, terus anterin ke kamar Dina"
" Iya Den"
Aku kemudian kekamar dan mandi. Setelah mandi dan berpakaian aku keluar kamar dan lihat bi inah yang membawa nampan berisi makanan.
" Kenapa Bi?"
" Non dina katanya gak mau"
" Yaudah biar saya yang kasih bi" Setelah mengambil nampan aku kemudian mengetuk pintu.
" Din... kita makan dulu yuk" Tapi tak ada jawaban, aku pun kemudian mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
__ADS_1
Setelah didalam kamar kemudian aku menutup pintunya lagi dari dalam.