Hanya Ada Mocci Imut

Hanya Ada Mocci Imut
28. Keputusan ku


__ADS_3

6 Bulan berlalu, Aku yang selalu menyibukan diri dengan pekerjaan mulai merenggang dengan sahabat sahabatku, bahkan pernikahan Beni dengan ajeng dan Seno dengan Putri pun aku tidak hadiri, karena aku sedang diluar negri saat itu.


Aku baru 1 minggu pulang dan kembali bekerja di perusahaan Ayah alangkah terkejutnya saat sekertaris ku datang dan memberitahu bahwa Semua sahabatku ada di lantai satu menunggu ku menemui mereka.


Aku pun segera merapihka pakaianku dan keluar ruangan untuk menemui mereka. Aku sedikit takut mereka akan marah padaku karena tak mengabari kepualanganku.


Sesampainya disana aku melihat mereka yang tengah duduk di sofa.


" Ben, Ga, Gas, No karaku sembari memeluk dan menyalami mereka.


Pandangan mereka terlihat sangat kecewa padaku, aku tau mereka marah padaku karena selama 6 bulan lebih tak mengabari mereka sekalipun tentang keadaan dan posisiku dimana. Malah aku tak pernah memakai lagi hp ku. Mengabari mamah dan ayah pun aku menggunakan telpon kantor.


"Apa kabar?" Kataku sembari duduk dekat angga mereka masih terdiam dan saling memandang. Aku mencoba bersikap biasa dan seolah tak mengerti atas perlakuan mereka


" Mmmm mana istri kalian?" Kataku menepuk bahu angga


" Gue belum nikah" Kata angga ketus dan melepaskan tanganku


" OH iya gue lupa, hahaha" kataku seolah itu hal yang lucu


" hem lo memang udah lupa kan sama kita?" Kata Seno ketus


" Mana mungkin gue lupa No, sama sahabat sahabat gue" kataku merangkul Seno


" Ooh lo masih anggap kita sahabat?" Kata Beni sembari memalingkan muka


" Oke oke gue minta maaf, gue memang salah. Gue sibuk banget makannya gue gak bisa kasih kabar. Ini aja gue baru 1 minggu pulang ke indonesia langsung kerja lagi" kataku sembari tersenyum.


" Ini undangan nikah gue sama Rara" kata angga sembari memberika undangan.


" iya makasih gue pasti datang" kataku yang kemudian mengambil undangan itu.


" Lo mau datang atau enggak, gue udah gak perduli G" Kata angga marah


" Sabar Ga"Kata Bagas yang langsung merangkul Angga yang tengah berdiri


" G, lo dulu bilang juga gitu sama Gue dan Seno dulu. Tapi apa buktinya? cuma hadiah mahal lo aja yang datang, lo pikir dengan hadiah mahal lo bisa buat kita maafin lo?" Kata Beni


" Sorry Ben, No gue bener bener minta maaf karena hal itu, gue gak ada maksud apa apa" kataku ingin menyudahi kemarahan sahabat sahabatku


Angga kembali duduk karena bagas memaksanya.

__ADS_1


" G, kita kesini bukan hanya undang lo ke pernikahan angga. Tapi kita juga mau lo temuin Ajeng" Kata Bagas setelah duduk lagi


" Ajeng? emang kenapa ajeng?" kataku memandangi ke empat sahabatku


" Ajeng sakit G, ini udah bulan ke empat dia di RS jiwa" Kata Seno sembari memandangku


" Bukannya Ajeng jadi asisten Rara?" Kataku


Mereka tak menjawab untuk beberapa waktu, hanya keheningan dan suara langkah karyawan yang melewati kami yang terdengar.


" Ajeng syok lagi setelah bertemu Edo di tempat nongkrong kita G" Jelas Angga


" Maksud lo? gue gak ngerti."


" Edo ternyata calon Ajeng dulu yang ninggalin dia G" Kata Seno menjelaskan


" Disana Ajeng di hina sama Edo G" Kata Beni


" Gue nyesel ajak Ajeng kesana malam itu" Kata angga sembari menjambak rambutnya


" Ga udah, bukan salah lo. Lagian kita gak tau situasinya seperti ini" Kata Bagas menepuk pundak angga.


Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Beni bahwa Ajeng terguncang lagi setelah berbicara dengan edo, padahal waktu itu angga mengajak ajeng bertujuan agar ajeng mau berbaur dan lebih banyak memiliki teman.


" Apa? Lo tuh suka kan sama Ajeng? lo tuh kenapa G? kenapa? Apa lo gak mau ajeng sembuh?"


" Sabar Ga sabar" Kata Bagas yang kemudian menyuruh Angga duduk lagi.


" Ajeng memang bukan siapa siapa G, tapi beberapa bulan ini ajeng udah gue anggap sebagai keluarga gue" Kata angga setelah sedikit tenang


" Ajeng sering bersama kami menggantikan lo g, Kita rasa ajeng adalah orang yang tepat menggantikan posisi Dina" Kata Beni


" Tapi Ajeng gak ada perasaan apa apa sama gue" kataku lesu


" Apa lo gak mau g, perjuangin cinta lo?" Kata semi sembari merangkul ku


" Gue gak tau, apa perasaan ini benar cinta atau kasian"


" Ga, lo pernah terluka 2 kali , ajeng pun pernah terluka karena penghianatan. Kenapa lo dan ajeng gak saling bantu? masalah mencari tau perasaan lo benar cinta atau kasian itu bisa lo cari sembari berjalan " Kata Bagas


" Iya G, gue yakin lo sama ajeng pasti bisa saling memahami satu sama lain." Kata angga yang kemudian merangkulku

__ADS_1


" Ajeng hanya tertekan G, dokter bilang dia butuh dukungan kita" Tegas Bagas


Ternyata selama aku tak ada, Ajeng dan sahabat sahabatku sudah saling mengenal, apalagi Ajeng dekat dengan Rara, otomatis dia juga dekat dengan Mira, Putri, dan Ajeng.


Banyak hal yang aku lewatkan saat di luar negri dan sibuk dengan pekerjaanku.


" Baiklah gue ikut kalian sekarang, tapi sebelum itu gue mau ke apartemen dulu ngambil sesuatu " Kataku yang kemudian mereka setujui.


Sesampainya di Apartrmen aku langsung ke kamar dan mengambil cincin yang aku beli saat diluar negri. Cincin itu sengaja aku beli dan aku ukir dengan inisial G&A. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, tapi sekarang aku tau hati ku lah yang menginginkan dan ini mungkin saatnya aku memberikannya pada Ajeng.


" Ayo berangkat" Kataku pada parasahabatku yang tengah sibuk memandangi sekitar ruangan.


" Jadi selama ini lo ngumpet disini G?" kata beni sinis


" Gue gak ngumpet Ben" kataku sembari duduk


" Terus kenapa lo gak kasih tau ke kita" Kata angga sinis


"Udah lah, jangan bahas itu lagi. Gue kan udah minta maaf sama kalian"


" Udah, Ayo berangkat. Lagian istri gue udah nelpon terus" Kata bagas


Kami pun berangkat satu mobil karena mereka takut kalau aku memakai mobil lain aku akan berubah pikiran dan kabur. Padahal hal itu hal yang tak mungkin terjadi, Apalagi aku telah memberi tahu Ayah dan Mamah lewat Telpon bahwa aku telah memutuskan akan menjalin hubungan serius dengan Ajeng sekarang dan melupakan masalalu.


Mamah dan Ayah yang ada di luar negeri karena sedang berlibur sangat senang mendengar hal itu, karena mereka pun menunggu hal ini sejak dulu.


" G nanti disana lo jangan bahas masalah Edo ya" Kata Beni


" Iya, buat apa juga gue bahas dia?" kataku sembari mengirim pesan pada mamah


" G, lo gak apa ninggalin kerjaan lo?"


" Gue udah suruh Asisten gue buat hendel semua. Lagian gue cuma sehari disana" Mendengar Hal itu Bagas yang mengemudi tiba tiba menghentikan laju mobil dan memandangku, begitupun Angga, Beni dan Seno


" Apa? ...Gue langsung nikahin aja dia, biar gak lama. Jadi pengobatannya sembari..." Kataku sembari tersenyum licik


" Oooh hahaha" Katanya bebarengan dan tertawa


" Jadi gue dong yang terahir nikah?" Kata angga sedikit kesal


" DERITA LO haha" Kata kami bebarengan sembari tertawa

__ADS_1


Bagas pun kemudian menjalankan mobilnya lagi dan melanjutkan perjalanan kami.


__ADS_2