
"Gadis!" Jerit Nadin, salah satu sahabatku yang sudah berada di kerumunan club malam. Karena, malam ini kami berencana mengadakan meet up dengan sahabat waktu kuliah.
Langkah kakiku terasa berat saat aku harus bergabung dengan Nadin.
Hiruk pikuk suasana club malam membuat kepalaku terasa seperti mau pecah.
Akupun masih tak mengerti mengapa mereka lebih memilih menikmati momen meet up di club malam?
Padahal, biasanya kita banyak menghabiskan waktu di caffe favorit kita.
"Buruan sini Dis!" perintah Alya tak kalah histerisnya dari Nadin saat Alya mengetahui aku sudah berada di pintu masuk.
Wajar saja, kalau mereka sangat histeris melihatku. Mungkin karena aku yang jarang datang di tiap acara kumpul kumpul.
Aku terlalu sibuk dengan aktivitasku sehari hari.
"Kenapa sih kita mesti kumpul di tempat beginian?" tanyaku setelah aku berhasil duduk dan ikut bergabung dengan Nadin, Alya, dan juga Syilla.
Saat kuliah dulu kita berempat sangat dekat, bahkan tak jarang anak-anak mahasiswa menjuluki kita dengan sebutan empat serangkai.
Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, dulu kami berempat sangat hits di kalangan mahasiswa. Aku sih beranggapan, mungkin karena bentuk tubuh molek yang kita miliki, dan rupa wajah yang bisa dikategorikan lumayan cantik.
"Udah gak usah banyak protes deh Dis. Mending kita nikmatin meet up kita yang sedikit gila." celoteh Syilla yang tak ingin mendengar protesku.
"Kayanya kalian lagi banyak masalah." tebakanku biasanya tak pernah salah.
Aku berpikir kalau mereka bertiga sedang ingin mengingkari masalah hidup masing-masing dengan pergi ke tempat laknat ini.
"Nggak juga sih Dis. Kalau gue sih cuma pengen nikmatin jadi orang bebas ajah." ucap Nadin sambil menghisap minuman soda berwarna merah.
Jelas sudah maksud dari ucapan Nadin menjadi orang bebas adalah putus dengan pacar.
Tebakanku memang selalu tepat. Sepertinya aku terlalu mengerti Nadin.
"Bilang ajah kalau lo abis diputusin Nad." kini giliran Alya yang menimpali ucapanku untuk Nadin.
Sebenarnya sudah hampir enam bulan kita baru bertemu lagi. Tapi, sedikitpun tidak ada yang berubah dari sikap masing-masing.
Akhirnya, kita berempat sibuk dengan obrolan obrolan yang tak penting.
__ADS_1
"Nad, dugem yuk!" ajak Syilla setelah sekitar setengah jam kita sibuk berceloteh di meja nomor 36.
Terlihat wajah Syilla yang sedikit bosan dengan duduk duduk saja di meja ini.
"Wah! Ide bagus Syill." ajakkan Syilla disambut semangat oleh Nadin, sementara aku masih tetap terpaku di sudut sofa.
Tanganku sibuk dengan beberapa chat dari partner kerjaku yang membicarakan beberapa projek bisnis.
"Lo mau ikut gak Dis?" tanya Syilla padaku.
"Ngapain juga lo ajak Gadis, udah pasti jawabannya gak mau." Alya yang sudah mengerti akan responku langsung menjawab ajakkan Syilla, mewakili isi kepalaku.
"Gak asyik banget sih Dis." umpat Nadin padaku.
Aku hanya nyengir kuda mendengar ocehan mereka bertiga, lalu merekapun melangkah pergi meninggalkanku seorang diri.
Pandangan mataku mulai mengedar ke beberapa penjuru ruangan club malam, membuatku sedikit merasa jijik.
Banyak wanita nakal yang sedang menggoda tamu pria di sana, ada pula pria yang sedang meracau tak karuan akibat pengaruh alkohol.
Ah, rasanya aku ingin cepat pergi dari tempat ini. Kalau sampai ada karyawan kantorku di sini, maka reputasiku bisa hancur.
Aku yakin Nadin, Syilla, dan juga Alya pasti sudah melupakan barang barang milik mereka. Mungkin karena mereka terlalu asyik dugem.
Kalian jangan cari gue.
Barang barang kalian gue titipin ke bagian penitipan barang.
Gadisha Kharisma.
Aku sengaja menuliskan note tersebut di atas meja yang aku tindih dengan asbak, agar mereka tidak kalap saat mencari barang barang berharga milik mereka.
Akupun mulai melangkahkan kakiku yang hanya berbalut sepatu kets warna coklat tua bertali.
Diantara kita berempat, akulah yang memiliki style paling tomboy. Buktinya, hanya aku yang mengenakan kaos hitam polos fit body berpadu celana jeans.
Berbeda dengan sahabatku yang lain, mereka nampak elegan dalam balutan mini dress.
"Hai Nona, apa sendirian saja?" tiba-tiba pertanyaan itu terasa mengusik gendang telingaku.
__ADS_1
Kutolehkan wajahku ke arah sumber suara. Ternyata, sosok pria paruh baya sedang berusaha menggodaku.
Sepertinya dia sosok pria yang selalu haus akan daun muda. Aku dapat membaca isi pikirannya dari cara dia menatapku.
Akupun tidak menjawab pertanyaannya, bagiku tidak ada waktu untuk merespon kehadirannya.
"Come on girl, tak usah jual mahal." ucapnya lagi.
Aku yakin sebenarnya dia sudah mengerti akan raut wajahku yang menolak kehadirannya. Hanya saja, dia lebih memilih berpura-pura menjadi muka tembok.
"Aku minta dengan hormat, jangan menghalangi jalanku." ucapku dengan nada penuh penekanan. Tapi, sepertinya ucapanku sia-sia.
Pria itu masih menyeringai nakal di depanku, menganggapku seperti mangsa yang sudah siap dia terkam.
"Wanita memang selalu bersikap pura-pura, hanya untuk meninggikan harganya." ucapan pria itu semakin merendahkanku, bahkan tangan kanannya berani menyentuh pipiku.
Beruntung aku segera menepiskan tangan kotornya, hingga aku kehilangan kendali menampar wajahnya teramat keras, sampai terdengar bunyi tamparan di pipinya.
"Saya sudah peringatkan Anda untuk tidak menghalangi jalan saya. Kalau Anda beranggapan saya ini wanita murah, Anda salah!" ucapanku semakin berani memaki pria paruh baya tersebut. Gurat amarahpun terbias dari wajahnya, namun aku tidak peduli sama sekali.
"Kau sudah macam-macam denganku Nona." bisiknya penuh penekanan, ada nada ancaman di sana. Tapi, sekali lagi aku tak peduli.
Akupun berhasil membuat pria itu minggir dari jalanku, lalu aku melangkah pergi meninggalkan tempat laknat yang penuh dengan kebebasan.
Sejak kejadian tadi, batinku mengatakan kalau aku sedang diperhatikan oleh sepasang mata pria asing yang duduk di depan meja bartender.
Aku yakin pria itu sedang menikmati aksi kerasku terhadap pria paruh baya yang berusaha menawarku.
Aku sempat menatapnya sesaat, mungkin karena aku merasa risih diperhatikan terus olehnya.
Harus kuakui rupanya yang tampan dan mempesona bisa menembus semua jantung wanita yang menatapnya.
•••
Maafkan author kalau ada penulisan yang tidak sempurna. Baik dari segi bahasa ataupun pemilihan kata.
Semoga novel ini berkenan di hati reader.
Ayo klik like ya ♡♡
__ADS_1