
Keesokan harinya aku sudah kembali dengan rutinitas kantor. Aku bekerja di perusahaan berlabel DZ Production. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang entertainment.
Sudah sekitar satu tahun aku bekerja di perusahaan ini. Namun, aku tidak pernah mengetahui nama pemilik DZ yang sesungguhnya.
Kabarnya sang pemilik perusahaan tidak mau menyebarluaskan namanya, dia lebih mempercayakan seluruh operasional bisnis kepada direktur utama DZ Production.
Entah apa penyebabnya?
Aku tak tahu, akupun tak terlalu mempedulikannya. Karena, yang terpenting bagiku hanya upah yang harus tetap aku terima dari perusahaan ini.
Tiba-tiba terdengar dering suara telpon yang terletak di samping meja kerjaku. Dering suara itu membuatku menghentikan aktivitas sesaat.
"Selamat pagi, dengan Gadisha Kharisma. Ada yang bisa dibantu?" sahutku sambil mengangkat gagang telpon.
"Gadis, tolong kamu ke ruangan saya sekarang." titah ibu Gress kepadaku.
Ibu Gress adalah atasanku langsung, beliau adalah kepala bagian dari tim editor.
"Baik Ibu Gress, saya ke sana sekarang." jawabku sopan.
Akupun segera melepaskan gagang telpon, kemudian langkahku bergerak menuju lantai enam. Sesampainya di depan ruangan ibu Gress, aku langsung mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!" sahut ibu Gress dari dalam ruangan. Akupun langsung mendorong gagang pintu berwarna silver.
Awalnya, langkah kakiku berjalan cepat seperti biasanya. Namun, saat aku menelisik ruangan ibu Gress, langkahku langsung terhenti.
Ada sosok pria tampan di sana, sepertinya ibu Gress sedang coaching dengan pria tampan tersebut.
Tapi, siapa dia?
Aku belum pernah melihat sebelumnya di kantor ini.
Kutelusuri raut wajah pria itu. Kalau dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya aku pernah melihatnya.
__ADS_1
Tapi, dimana?
Aku lupa.
"Hey Gadis, ayo duduk." titah ibu Gress yang selalu bersikap manis pada semua bawahannya, termasuk padaku.
Harus kuacungi jempol dari gaya kepemimpinan ibu Gress, beliau adalah wanita yang memiliki pola pikir dinamis, tak pernah menganggap rendah bawahan. Selain itu ibu Gress juga selalu memiliki ide segar di setiap proyek.
"Iya Bu." jawabku pelan, masih berusaha menelisik wajah pria yang duduk di sofa ruangan ibu Gress.
Aku yakin aku pernah melihat pria itu sebelumnya. Tapi, sekali lagi aku lupa.
Apa mungkin memori otakku terlalu kolot?
"Saya memanggilmu ke sini untuk memberikan naskah dari beberapa produk iklan kemarin Dis."
"Menurut saya, masih perlu beberapa revisi. Kalau bisa hadirkan juga video hasil syutingnya ya." tutur ibu Gress yang masih merasa belum puas dengan naskah yang aku berikan sekitar dua hari lalu.
"Siap Bu." hanya itu jawabanku sembari menganggukkan kepala di depan meja ibu Gress.
Aku tahu kalau model bernama Afriska yang akrab dipanggil Friska sedang hits di dunia entertain. Kecantikan yang dimiliki Friska memang luar biasa, serta kemampuan aktingnya sudah tidak diragukan lagi.
"Baik Bu, saya akan coba informasikan ke semua anggota tim. Naskahnya saya bawa lagi ya Bu." ucapku lembut, walau sebenarnya dalam hatiku sedikit menggerutu. Aku tahu setelah keluar dari ruangan ini aku harus kerja keras lagi, hanya demi mengubah satu proyek iklan produk parfum.
"Iya Dis, silahkan." ucap ibu Gress sambil menunjukkan telapak tangannya di atas meja.
"Gadis permisi dulu ya Bu." ujarku dengan mengambil satu bindex yang berisi tumpukkan naskah iklan.
Akupun mulai beranjak dari kursi tamu ibu Gress. Tapi, aku merasakan ada sepasang mata yang sedang melirikku tajam.
Benar saja, ternyata tamu ibu Gress sedang menatap tajam ke arahku. Sekarang aku dapat mengingat pria itu, dia adalah pria yang pernah aku temui di club malam semalam.
"Sial! Hancur sudah reputasiku di kantor ini." batinku berkata-kata, menghujat diriku sendiri.
__ADS_1
Aku masih berpura-pura untuk tidak melihatnya, hingga akhirnya aku mampu meraih gagang pintu, dan berusaha untuk segera keluar dari ruangan ibu Gress.
Baru saja aku menarik gagang pintu, tiba-tiba suara itu terdengar menusuk di gendang telingaku.
"Tunggu!" jerit pria itu. Dia masih duduk santai di sofa.
Sontak akupun langsung menghentikan langkah kakiku. Mataku berbalik arah, berusaha menatap ke arah pria di sana.
"Apa Bapak memanggil saya?" tanyaku yang masih berusaha sopan. Sementara dia mulai berjalan mendekat ke arahku.
Setelah beberapa langkah, dia sudah berada satu meter tepat di hadapanku.
"Temui saya saat jam kerja selesai." ucapannya datar sebenarnya. Namun, maknanya yang membuat jantungku seperti ada letupan meriam yang meledak-ledak di dalam sana. Sementara aku masih diam terpaku.
Di satu sisi aku takut akan raut wajahnya yang menyiratkan banyak misteri. Namun, di sisi lain aku sedikit terpana akan paras tampannya yang mempesona.
Walau dia hanya berbalut jas hitam yang dipadukan dengan kaos hitam, sama sekali tidak mengurangi pesonanya.
"Gadis, perkenalkan ini adalah Bapak Axelio Kevin Zack. Dia adalah pemilik perusahaan ini." apa yang diucapkan oleh ibu Gress langsung menembus jantungku.
Tak pernah kusangka sebelumnya kalau aku akan bertemu langsung dengan pemilik saham DZ Production. Padahal, selama ini semua kalangan wanita di kantor banyak yang sangat kepo dengan pemilik DZ sesungguhnya.
"Nanti sore temui Pak Axel di ruangannya, di lantai 15." setidaknya ucapan ibu Gress sedikit menyalamatkanku di hadapan Axel.
"Baik Bu." hanya itu jawabku, lalu kuanggukkan kepalaku di hadapan Axel. Seolah mengatakan kalau aku permisi dulu dari ruangan ibu Gress.
Tidak ada respon apapun lagi dari Axel, saat gestur tubuhku mengisyaratkan pamit darinya.
"Rupamu memang mempesona Tuan Axel. Tapi sayang, wajahmu terlalu datar untuk wanita." bisikku dalam hati sambil berlalu dari hadapan orang nomor satu di DZ Production.
•••
Jangan lupa klik like buat author ya...
__ADS_1
😉